WORK EXPERIENCE COMPONENT RECOGNITION AND LEARNING RESULTS
A. Work Experience Component
1. Teaching Experience
Teaching experience is the period of employment in performing duties as a teacher in a particular educational unit as evidenced by a decree (SK) from the authorized institutions (government, local government, and / or group education providers).Physical evidence of this component can be either a decision letter / certificate from a legitimate institution.
2. Learning Plan
Lesson plan is the preparation of learning will be done in class on each face to face.This learning plan at least contains the formulation of objectives / competencies, selection and organization of material, selection of sources / media learning, scenario learning, and assessment of learning outcomes. Physical evidence of this subcomponent include documents Learning Implementation Plan (RPP) which are known / authorized by the principal. RPP RPP is not specially prepared for PPKHB, but the lesson plans that have been implemented by the teacher at one (1) last year.
3. Relevant Awards
Relevant award is recognition of the accomplishments of teachers who show academic results and quality appropriate to their fields and are very beneficial to the development of quality education, both at the district / city, provincial, national, or international. Physical evidence included photocopies of the attached certificate, charter, or certificate.
B. Component Learning Outcomes
Component includes learning outcomes of academic qualifications, training, and academic achievement.
1. Academic Qualifications
Academic qualification is the highest education that teachers have and evidenced by a diploma. Academic qualifications which can be rated PPKHB is high school diploma, Diploma I, II Diploma and Diploma III / Bachelor of institutions that have operating licenses.
2. Training
Training is the experience following the development activities and / or an increase in competence, both at the district level, district / city, provincial, national, and international, that support the execution of duties as a teacher. Organizers recognized training institute is LPMP, P4TK, MGMP, KKG, education offices, colleges, professional associations, and other recognized institutions Ministry, including the training is done through self-learning in KKG or MGMP based on self-study program Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (QUALITY). Physical evidence of the training component of the original certificate that contains information about: training materials, organizing time, teachers / instructors, training providers, and description of the experience of training which has been approved by superiors.
3. Academic Achievement
Academic achievement is the achievement of teachers includes academic work, won the race, coaching colleagues and / or students, and participation in scientific forums.
Academic work is the work and / or activity indicating the presence of teacher professional development efforts. Academic work can be a book published at the regency / city, provincial, national or international media articles published in journals / magazines / newsletters; modules / print book local (county / city) which includes a minimum of learning materials for one (1) semesters; media / learning tool in the field; research reports class action (individual / group); works of art (sculpture, arts, dance, painting, literature, etc.), technology, development of innovative learning models and / or monumental; become reviewers (reviewer ) books, and writers about EBTANAS / National Exam.
Winner of the race, especially in areas relevant to the subjects / courses Amnestied expertise, both the district level, district / city, provincial, national or international level.
Activities guiding colleagues in the development of various competencies, both in in-house training and on job training and guiding students in various competitions as well as academic activities, such as writing scientific papers, science, technology, and art.
The participation of teachers in the scientific forum of teacher participation in seminars, workshops (workshops), symposia, and panel discussions, either as resource persons / speakers and active participants.
Physical evidence of academic achievement component can be either plaque, certificate, letter of assignment, documentation, and / or certificates issued by institutions / organizers.
For teachers affected by natural disasters and can not show physical evidence, PPKHB submitted to the organizers LPTKs policy. LPTK organizers have the authority to trace the truth of all physical evidence portfolio.
Jumat, 15 Juli 2011
WORK EXPERIENCE COMPONENT RECOGNITION AND LEARNING RESULTS
KOMPONEN PENGAKUAN PENGALAMAN KERJA DAN HASIL BELAJAR
KOMPONEN PENGAKUAN PENGALAMAN KERJA DAN HASIL BELAJAR
A. Komponen Pengalaman Kerja
1. Pengalaman Mengajar
Pengalaman mengajar adalah masa kerja dalam melaksanakan tugas sebagai guru pada satuan pendidikan tertentu yang dibuktikan dengan surat keputusan (SK) dari lembaga yang berwenang (Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau kelompok penyelenggara pendidikan). Bukti fisik komponen ini dapat berupa surat keputusan/surat keterangan yang sah dari lembaga yang berwenang.
2. Rencana Pembelajaran
Rencana pembelajaran adalah persiapan pelaksanaan pembelajaran yang akan dilakukan dalam kelas pada setiap tatap muka. Rencana Pembelajaran ini sekurang-kurangnya memuat perumusan tujuan/kompetensi, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan sumber/media pembelajaran, skenario pembelajaran, dan penilaian hasil belajar. Bukti fisik dari subkomponen ini berupa dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang diketahui/disahkan oleh kepala sekolah. RPP dimaksud bukanlah RPP yang disiapkan khusus untuk keperluan PPKHB, tetapi RPP yang telah dilaksanakan oleh guru yang pada waktu satu (1) tahun terakhir.
3. Penghargaan yang Relevan
Penghargaan yang relevan adalah pengakuan atas prestasi guru yang menunjukkan hasil dan kualitas akademik yang sesuai dengan bidangnya dan sangat bermanfaat bagi pengembangan kualitas pendidikan, baik pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Bukti fisik yang dilampirkan berupa fotokopi sertifikat, piagam, atau surat keterangan.
B. Komponen Hasil Belajar
Komponen hasil belajar mencakupi kualifikasi akademik, pelatihan, dan prestasi akademik.
1. Kualifikasi Akademik
Kualifikasi akademik adalah pendidikan tertinggi yang dimiliki guru dan dibuktikan dengan ijazah. Kualifikasi akademik yang dapat diberi nilai PPKHB adalah ijazah SLTA, Diploma I, Diploma II, dan Diploma III/Sarjana Muda dari lembaga yang memiliki izin penyelenggaraan.
2. Pelatihan
Pelatihan adalah pengalaman mengikuti kegiatan pengembangan dan/atau peningkatan kompetensi, baik pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional, yang mendukung pelaksanaan tugas sebagai guru. Lembaga penyelenggara pelatihan yang diakui adalah LPMP, P4TK, MGMP, KKG, dinas pendidikan, perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan lembaga lain yang diakui Depdiknas, termasuk pelatihan yang dilakukan melalui pembelajaran mandiri di KKG atau MGMP berbasis belajar mandiri pada program Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU). Bukti fisik komponen pelatihan berupa sertifikat asli yang memuat informasi tentang: materi pelatihan, waktu penyelenggaraan, pengajar/instruktur, penyelenggara pelatihan, dan deskripsi pengalaman mengikuti pelatihan yang dilegalisasi oleh atasan.
3. Prestasi Akademik
Prestasi akademik merupakan prestasi yang dicapai guru meliputi karya akademik, juara lomba, pembimbingan teman sejawat dan/atau siswa, dan peran serta dalam forum ilmiah.
Karya akademik adalah hasil karya dan/atau aktivitas guru yang menunjukkan adanya upaya pengembangan profesi. Karya akademik dapat berupa buku yang dipublikasikan pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional atau internasional; artikel yang dimuat dalam media jurnal/majalah/buletin; modul/buku cetak lokal (kabupaten/kota) yang minimal mencakupi materi pembelajaran selama satu (1) semester; media/alat pembelajaran dalam bidangnya; laporan penelitian tindakan kelas (individu/kelompok); karya seni (patung, rupa, tari, lukis, sastra, dll), teknologi, pengembangan model pembelajaran inovatif dan/atau monumental; menjadi penelaah (reviewer) buku; dan penulis soal EBTANAS/Ujian Nasional.
Juara lomba terutama pada bidang yang relevan dengan mata pelajaran/program keahlian yang diampu, baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun tingkat internasional.
Kegiatan membimbing teman sejawat dalam upaya pengembangan berbagai kompetensi, baik dalam in house training maupun on job training dan membimbing siswa dalam berbagai lomba serta kegiatan akademik, misalnya penulisan karya ilmiah, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Peran serta guru dalam forum ilmiah berupa partisipasi guru dalam kegiatan seminar, lokakarya (workshop), simposium, dan diskusi panel, baik sebagai narasumber/pemakalah maupun peserta aktif.
Bukti fisik dari komponen prestasi akademik dapat berupa piagam penghargaan, surat keterangan, surat tugas, dokumentasi, dan/atau sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga/panitia penyelenggara.
Bagi guru yang terkena bencana alam dan tidak dapat menunjukkan bukti fisik, PPKHB diserahkan kepada kebijakan LPTK penyelenggara. LPTK penyelenggara memiliki kewenangan untuk menelusuri kebenaran semua bukti fisik portofolio.
A. Komponen Pengalaman Kerja
1. Pengalaman Mengajar
Pengalaman mengajar adalah masa kerja dalam melaksanakan tugas sebagai guru pada satuan pendidikan tertentu yang dibuktikan dengan surat keputusan (SK) dari lembaga yang berwenang (Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau kelompok penyelenggara pendidikan). Bukti fisik komponen ini dapat berupa surat keputusan/surat keterangan yang sah dari lembaga yang berwenang.
2. Rencana Pembelajaran
Rencana pembelajaran adalah persiapan pelaksanaan pembelajaran yang akan dilakukan dalam kelas pada setiap tatap muka. Rencana Pembelajaran ini sekurang-kurangnya memuat perumusan tujuan/kompetensi, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan sumber/media pembelajaran, skenario pembelajaran, dan penilaian hasil belajar. Bukti fisik dari subkomponen ini berupa dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang diketahui/disahkan oleh kepala sekolah. RPP dimaksud bukanlah RPP yang disiapkan khusus untuk keperluan PPKHB, tetapi RPP yang telah dilaksanakan oleh guru yang pada waktu satu (1) tahun terakhir.
3. Penghargaan yang Relevan
Penghargaan yang relevan adalah pengakuan atas prestasi guru yang menunjukkan hasil dan kualitas akademik yang sesuai dengan bidangnya dan sangat bermanfaat bagi pengembangan kualitas pendidikan, baik pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Bukti fisik yang dilampirkan berupa fotokopi sertifikat, piagam, atau surat keterangan.
B. Komponen Hasil Belajar
Komponen hasil belajar mencakupi kualifikasi akademik, pelatihan, dan prestasi akademik.
1. Kualifikasi Akademik
Kualifikasi akademik adalah pendidikan tertinggi yang dimiliki guru dan dibuktikan dengan ijazah. Kualifikasi akademik yang dapat diberi nilai PPKHB adalah ijazah SLTA, Diploma I, Diploma II, dan Diploma III/Sarjana Muda dari lembaga yang memiliki izin penyelenggaraan.
2. Pelatihan
Pelatihan adalah pengalaman mengikuti kegiatan pengembangan dan/atau peningkatan kompetensi, baik pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional, yang mendukung pelaksanaan tugas sebagai guru. Lembaga penyelenggara pelatihan yang diakui adalah LPMP, P4TK, MGMP, KKG, dinas pendidikan, perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan lembaga lain yang diakui Depdiknas, termasuk pelatihan yang dilakukan melalui pembelajaran mandiri di KKG atau MGMP berbasis belajar mandiri pada program Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU). Bukti fisik komponen pelatihan berupa sertifikat asli yang memuat informasi tentang: materi pelatihan, waktu penyelenggaraan, pengajar/instruktur, penyelenggara pelatihan, dan deskripsi pengalaman mengikuti pelatihan yang dilegalisasi oleh atasan.
3. Prestasi Akademik
Prestasi akademik merupakan prestasi yang dicapai guru meliputi karya akademik, juara lomba, pembimbingan teman sejawat dan/atau siswa, dan peran serta dalam forum ilmiah.
Karya akademik adalah hasil karya dan/atau aktivitas guru yang menunjukkan adanya upaya pengembangan profesi. Karya akademik dapat berupa buku yang dipublikasikan pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional atau internasional; artikel yang dimuat dalam media jurnal/majalah/buletin; modul/buku cetak lokal (kabupaten/kota) yang minimal mencakupi materi pembelajaran selama satu (1) semester; media/alat pembelajaran dalam bidangnya; laporan penelitian tindakan kelas (individu/kelompok); karya seni (patung, rupa, tari, lukis, sastra, dll), teknologi, pengembangan model pembelajaran inovatif dan/atau monumental; menjadi penelaah (reviewer) buku; dan penulis soal EBTANAS/Ujian Nasional.
Juara lomba terutama pada bidang yang relevan dengan mata pelajaran/program keahlian yang diampu, baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun tingkat internasional.
Kegiatan membimbing teman sejawat dalam upaya pengembangan berbagai kompetensi, baik dalam in house training maupun on job training dan membimbing siswa dalam berbagai lomba serta kegiatan akademik, misalnya penulisan karya ilmiah, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Peran serta guru dalam forum ilmiah berupa partisipasi guru dalam kegiatan seminar, lokakarya (workshop), simposium, dan diskusi panel, baik sebagai narasumber/pemakalah maupun peserta aktif.
Bukti fisik dari komponen prestasi akademik dapat berupa piagam penghargaan, surat keterangan, surat tugas, dokumentasi, dan/atau sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga/panitia penyelenggara.
Bagi guru yang terkena bencana alam dan tidak dapat menunjukkan bukti fisik, PPKHB diserahkan kepada kebijakan LPTK penyelenggara. LPTK penyelenggara memiliki kewenangan untuk menelusuri kebenaran semua bukti fisik portofolio.
Discovery Learning Methods
Discovery Learning Methods
Discovery learning methods (discovery) is a teaching method that regulates the teaching so that children acquire the knowledge that previously did not already know it's not through notification, partially or completely found themselves. In discovery learning (discovery) or learning activities are designed so that students can discover concepts and principles through his own mental processes. In discovering the concept, students make observations, classify, make educated guesses, explain, draw conclusions and so on to discover some of the concepts or principles.
Discovery method of teaching is defined as a procedure that emphasizes the teaching of individuals, the manipulating objects prior to the generalization. While Bruner states that children should play an active role in learning. Further stated, the activity needs to be undertaken in a manner that is called discovery. Discovery that held the students in their learning, directed to find a concept or principle.
Discovery is a mental process where students are able to assimilate a concept or principle. Mental processes in question include: observe, digest, understand, classify, make allegations, describing, measuring, making inferences and so on. With this technique students are allowed to discover for yourself or having a mental process itself, teachers are guiding and giving instructions. Thus, discovery learning is a learning that involves students in the process of mental activity through the exchange of opinion, with discussion, reading his own and try it yourself, so that children can learn on their own.
Methods of discovery learning is a teaching method that focuses on activities in learning. In the learning process with this method, teachers could act as mentors and facilitators who lead students to discover concepts, propositions, procedures, algorithms and the like.
Study found three main features are: (1) explore and solve problems to create, combine and generalize knowledge, (2) student-centered, (3) activities to incorporate new knowledge and existing knowledge.
Blake et al. discusses the philosophy of findings published by Whewell. Whewell proposed model of the invention with three stages, namely: (1) clarify, (2) draw the conclusion by induction, (3) proof of the truth (verification).
Discovery learning steps are as follows:
1. identification of the needs of students;
2. preliminary selection of the principles, understanding of concepts and generalization of knowledge;
3. selection of materials, problems / tasks;
4. help and clarify the tasks / problems faced by students as well as the role of each student;
5. preparing for class and the necessary tools;
6. check students' understanding of the problem to be solved;
7. gives students the opportunity to conduct discovery;
8. assist students with information / data as required by the student;
9. led the analysis itself (self analysis) by leading questions and identify problems;
10. stimulate interaction between students and students;
11. help students formulate principles and generalizations discovery.
One method of studying the recently widely used in schools that have been developed is a method of discovery. This is because these methods: (1) is a way to develop an active student learning, (2) to discover and investigate their own concept being studied, the results obtained will be long lasting in the memories and not easily forgotten student, (3) understanding that found itself a notion that really controlled and easily used or transferred in other situations, (4) by using discovery strategies children learn to master one of the scientific method that will be developed, (5) students learn to think the analysis and try to solve problems faced its own, this habit will be transferred in real life.
Some of the advantages of discovery learning: (1) knowledge of long-lasting and easy to remember, (2) the results of discovery learning has the effect of a better transfer than the other results, (3) overall student learning and discovery increase the reasoning ability to think freely. Specifically studying the discovery of cognitive skills training students to discover and solve problems without the help of others.
Some of the benefits of the discovery method is also disclosed by Suherman, et al (2001: 179)
as follows:
1. students actively in learning activities, because he thinks and uses the ability to find the final result;
2. students understand the true teaching materials, for having its own process to find it. Something that is obtained in this way much longer remembered;
3. find itself creates a feeling of satisfaction. Inner satisfaction is encouraging to perform discovery again so that increased interest in learning;
4. students acquire knowledge by the method of the invention will be better able to transfer knowledge to different contexts;
5. This method trains students to learn more myself.
Besides having several advantages, methods of discovery (discovery) also has several drawbacks, including requiring a longer learning time than learning to accept.To reduce these drawbacks it is necessary to help teachers. Help teachers can begin by asking a few questions and provide information in brief. Questions and information may be contained in the student worksheet (LKS), which has been prepared by the teacher before the lesson begins.
Method of discovery (the discovery) that may be implemented in junior high school students are guided discovery method. This is because the junior high school students still need the help of a teacher before becoming a pure inventor. Therefore, methods of discovery (the discovery) to be used in this study is a method of discovery (discovery) guided (guided discovery).
REFERENCES
Suherman, et al. (2001). Common TexBook Contemporary Mathematics Learning Strategies. London: Department of Mathematics Education UPI Bandung.
Discovery learning methods (discovery) is a teaching method that regulates the teaching so that children acquire the knowledge that previously did not already know it's not through notification, partially or completely found themselves. In discovery learning (discovery) or learning activities are designed so that students can discover concepts and principles through his own mental processes. In discovering the concept, students make observations, classify, make educated guesses, explain, draw conclusions and so on to discover some of the concepts or principles.
Discovery method of teaching is defined as a procedure that emphasizes the teaching of individuals, the manipulating objects prior to the generalization. While Bruner states that children should play an active role in learning. Further stated, the activity needs to be undertaken in a manner that is called discovery. Discovery that held the students in their learning, directed to find a concept or principle.
Discovery is a mental process where students are able to assimilate a concept or principle. Mental processes in question include: observe, digest, understand, classify, make allegations, describing, measuring, making inferences and so on. With this technique students are allowed to discover for yourself or having a mental process itself, teachers are guiding and giving instructions. Thus, discovery learning is a learning that involves students in the process of mental activity through the exchange of opinion, with discussion, reading his own and try it yourself, so that children can learn on their own.
Methods of discovery learning is a teaching method that focuses on activities in learning. In the learning process with this method, teachers could act as mentors and facilitators who lead students to discover concepts, propositions, procedures, algorithms and the like.
Study found three main features are: (1) explore and solve problems to create, combine and generalize knowledge, (2) student-centered, (3) activities to incorporate new knowledge and existing knowledge.
Blake et al. discusses the philosophy of findings published by Whewell. Whewell proposed model of the invention with three stages, namely: (1) clarify, (2) draw the conclusion by induction, (3) proof of the truth (verification).
Discovery learning steps are as follows:
1. identification of the needs of students;
2. preliminary selection of the principles, understanding of concepts and generalization of knowledge;
3. selection of materials, problems / tasks;
4. help and clarify the tasks / problems faced by students as well as the role of each student;
5. preparing for class and the necessary tools;
6. check students' understanding of the problem to be solved;
7. gives students the opportunity to conduct discovery;
8. assist students with information / data as required by the student;
9. led the analysis itself (self analysis) by leading questions and identify problems;
10. stimulate interaction between students and students;
11. help students formulate principles and generalizations discovery.
One method of studying the recently widely used in schools that have been developed is a method of discovery. This is because these methods: (1) is a way to develop an active student learning, (2) to discover and investigate their own concept being studied, the results obtained will be long lasting in the memories and not easily forgotten student, (3) understanding that found itself a notion that really controlled and easily used or transferred in other situations, (4) by using discovery strategies children learn to master one of the scientific method that will be developed, (5) students learn to think the analysis and try to solve problems faced its own, this habit will be transferred in real life.
Some of the advantages of discovery learning: (1) knowledge of long-lasting and easy to remember, (2) the results of discovery learning has the effect of a better transfer than the other results, (3) overall student learning and discovery increase the reasoning ability to think freely. Specifically studying the discovery of cognitive skills training students to discover and solve problems without the help of others.
Some of the benefits of the discovery method is also disclosed by Suherman, et al (2001: 179)
as follows:
1. students actively in learning activities, because he thinks and uses the ability to find the final result;
2. students understand the true teaching materials, for having its own process to find it. Something that is obtained in this way much longer remembered;
3. find itself creates a feeling of satisfaction. Inner satisfaction is encouraging to perform discovery again so that increased interest in learning;
4. students acquire knowledge by the method of the invention will be better able to transfer knowledge to different contexts;
5. This method trains students to learn more myself.
Besides having several advantages, methods of discovery (discovery) also has several drawbacks, including requiring a longer learning time than learning to accept.To reduce these drawbacks it is necessary to help teachers. Help teachers can begin by asking a few questions and provide information in brief. Questions and information may be contained in the student worksheet (LKS), which has been prepared by the teacher before the lesson begins.
Method of discovery (the discovery) that may be implemented in junior high school students are guided discovery method. This is because the junior high school students still need the help of a teacher before becoming a pure inventor. Therefore, methods of discovery (the discovery) to be used in this study is a method of discovery (discovery) guided (guided discovery).
REFERENCES
Suherman, et al. (2001). Common TexBook Contemporary Mathematics Learning Strategies. London: Department of Mathematics Education UPI Bandung.
Metode Pembelajaran Discovery (Penemuan)
Metode Pembelajaran Discovery
Metode pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam pembelajaran discovery (penemuan) kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.
Metode discovery diartikan sebagai prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorang, memanipulasi objek sebelum sampai pada generalisasi. Sedangkan Bruner menyatakan bahwa anak harus berperan aktif didalam belajar. Lebih lanjut dinyatakan, aktivitas itu perlu dilaksanakan melalui suatu cara yang disebut discovery. Discovery yang dilaksanakan siswa dalam proses belajarnya, diarahkan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip.
Discovery ialah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
Metode pembelajaran discovery merupakan suatu metode pengajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar. Dalam proses pembelajaran dengan metode ini, guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator yang mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, dalil, prosedur, algoritma dan semacamnya.
Tiga ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Blake et al. membahas tentang filsafat penemuan yang dipublikasikan oleh Whewell. Whewell mengajukan model penemuan dengan tiga tahap, yaitu: (1) mengklarifikasi; (2) menarik kesimpulan secara induksi; (3) pembuktian kebenaran (verifikasi).
Langkah-langkah pembelajaran discovery adalah sebagai berikut:
1. identifikasi kebutuhan siswa;
2. seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan;
3. seleksi bahan, problema/ tugas-tugas;
4. membantu dan memperjelas tugas/ problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing siswa;
5. mempersiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan;
6. mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan;
7. memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan;
8. membantu siswa dengan informasi/ data jika diperlukan oleh siswa;
9. memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi masalah;
10. merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa;
11. membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.
Salah satu metode belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery. Hal ini disebabkan karena metode ini: (1) merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif; (2) dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah dilupakan siswa; (3) pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain; (4) dengan menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkan sendiri; (5) siswa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan nyata.
Beberapa keuntungan belajar discovery yaitu: (1) pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat; (2) hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya; (3) secara menyeluruh belajar discovery meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Beberapa keunggulan metode penemuan juga diungkapkan oleh Suherman, dkk (2001: 179) sebagai berikut:
1. siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir;
2. siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat;
3. menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;
4. siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks;
5. metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.
Selain memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan) juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat. Pertanyaan dan informasi tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja siswa (LKS) yang telah dipersiapkan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.
Metode discovery (penemuan) yang mungkin dilaksanakan pada siswa SMP adalah metode penemuan terbimbing. Hal ini dikarenakan siswa SMP masih memerlukan bantuan guru sebelum menjadi penemu murni. Oleh sebab itu metode discovery (penemuan) yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode discovery (penemuan) terbimbing (guided discovery).
DAFTAR PUSTAKA
Suherman, dkk. (2001). Common TexBook Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika UPI Bandung.
Metode pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam pembelajaran discovery (penemuan) kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.
Metode discovery diartikan sebagai prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorang, memanipulasi objek sebelum sampai pada generalisasi. Sedangkan Bruner menyatakan bahwa anak harus berperan aktif didalam belajar. Lebih lanjut dinyatakan, aktivitas itu perlu dilaksanakan melalui suatu cara yang disebut discovery. Discovery yang dilaksanakan siswa dalam proses belajarnya, diarahkan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip.
Discovery ialah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
Metode pembelajaran discovery merupakan suatu metode pengajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar. Dalam proses pembelajaran dengan metode ini, guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator yang mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, dalil, prosedur, algoritma dan semacamnya.
Tiga ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Blake et al. membahas tentang filsafat penemuan yang dipublikasikan oleh Whewell. Whewell mengajukan model penemuan dengan tiga tahap, yaitu: (1) mengklarifikasi; (2) menarik kesimpulan secara induksi; (3) pembuktian kebenaran (verifikasi).
Langkah-langkah pembelajaran discovery adalah sebagai berikut:
1. identifikasi kebutuhan siswa;
2. seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan;
3. seleksi bahan, problema/ tugas-tugas;
4. membantu dan memperjelas tugas/ problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing siswa;
5. mempersiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan;
6. mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan;
7. memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan;
8. membantu siswa dengan informasi/ data jika diperlukan oleh siswa;
9. memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi masalah;
10. merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa;
11. membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.
Salah satu metode belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery. Hal ini disebabkan karena metode ini: (1) merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif; (2) dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah dilupakan siswa; (3) pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain; (4) dengan menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkan sendiri; (5) siswa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan nyata.
Beberapa keuntungan belajar discovery yaitu: (1) pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat; (2) hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya; (3) secara menyeluruh belajar discovery meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Beberapa keunggulan metode penemuan juga diungkapkan oleh Suherman, dkk (2001: 179) sebagai berikut:
1. siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir;
2. siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat;
3. menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;
4. siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks;
5. metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.
Selain memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan) juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat. Pertanyaan dan informasi tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja siswa (LKS) yang telah dipersiapkan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.
Metode discovery (penemuan) yang mungkin dilaksanakan pada siswa SMP adalah metode penemuan terbimbing. Hal ini dikarenakan siswa SMP masih memerlukan bantuan guru sebelum menjadi penemu murni. Oleh sebab itu metode discovery (penemuan) yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode discovery (penemuan) terbimbing (guided discovery).
DAFTAR PUSTAKA
Suherman, dkk. (2001). Common TexBook Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika UPI Bandung.
Kamis, 14 Juli 2011
Model Pembelajaran Kolaboratif MURDER
Model Pembelajaran Kolaboratif MURDER
Pembelajaran MURDER merupakan pembelajaran yang diadaptasi dari buku karya Bob Nelson “The Complete Problem Solver” yang merupakan gabungan dari beberapa kata yang meliputi:
1. Mood (Suasana Hati)
Mood adalah istilah bahasa inggris yang artinya suasana hati. Dalam belajar suasana hati yang positif bisa menciptakan semangat belajar sehingga konsentrasi belajar dapat dicapai semaksimal mungkin dan dapat menyerap apa yang telah dipelajari. Oleh karena itu, jika suasana hati tidak mendukung, maka semua konsentrasi akan dibuyarkan dengan pikiran-pikiran yang tidak penting untuk difikirkan. Ciptakan suasana hati yang positif ketika kita belajar sebuah ilmu.
Proses pembelajaran adalah proses yang dapat mengembangkan seluruh potensi siswa. Seluruh potensi itu hanya mungkin dapat berkembang manakalah siswa terbebas dari rasa takut dan menegangkan. Kecerdasan emosional ini berkaitan dengan pandangan kita tentang kehidupan, kemampuan kita bergembira, sendirian dan dengan orang lain, serta keseluruhan rasa puas dan kecewa yang kita rasakan. Hamzah (2006: 82) menyatakan bahwa suasana hati umum juga memiliki dua skala, yaitu sebagai berikut:
1. Optimisme, yaitu kemampuan untuk mempertahankan sikap positif yang realistis terutama dalam menghadapi masa-masa sulit. Dalam pengertian luas, optimisme berarti makna kemampuan melihat sisi tentang kehidupan dan memelihara sikap positif, sekalipun kita berada dalam kesulitan. Optimisme mengasumsikan adanya harapan dalam cara orang menghadapi kehidupan.
1. Kebahagiaan, yaitu kemampuan untuk mensyukuri kehidupan, menyukai diri sendiri dan orang lain, dan untuk bersemangat serta bergairah dalam melakukan setiap kegiatan.
Oleh karena itu perlu diupayakan agar proses pembelajaran merupakan proses yang menyenangkan bisa dilakukan, pertama, dengan menata ruangan yang apik dan menarik, yaitu yang memenuhi unsur-unsur kesehatan, kedua, melalui pengelolaan yang hidup dan bervariasi yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media dan sumber belajar yang relevan.
2. Understand (Pemahaman)
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pemahaman adalah mengerti benar atau mengetahui benar. Pemahaman dapat diartikan juga menguasai tertentu dengan pikiran, maka belajar berarti harus mengerti secara mental makna dan filosofisnya, maksud dan implikasi serta aplikasi-aplikasinya, sehingga menyebabkan siswa memahami suatu situasi. Hal ini sangat penting bagi siswa yang belajar. Memahami maksudnya, menangkap maknanya, adalah tujuan akhir dari setiap mengajar. Pemahaman memiliki arti mendasar yang meletakan bagian-bagian belajar pada proporsinya. Tanpa itu, maka skill pengetahuan dan sikap tidak akan bermakna.
Dalam belajar unsur pemahaman itu tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur yang lain. Dengan motivasi, konsentrasi dan reaksi, maka siswa dapat mengembangkan fakta-fakta, ide-ide atau skill kemudian dengan unsur organisasi, maka subyek belajar dapat menata hal- hal tersebut secara bertautan bersama menjadi suatu pola yang logis, karena mempelajari sejumlah data sebagaimana adanya, secara bertingkat atau angsur-angsur, siswa mulai memahami artinya dan implikasi dari persoalan-persoalan secara keseluruhan.
Perlu diingat bahwa pemahaman tidak hanya sekedar tahu akan tetapi juga menghendaki agar siswa dapat memanfaatkan bahan-bahan yang telah dipelajari dan dipahami, kalau sudah demikian maka belajar itu bersifat mendasar. Pemahaman lebih tinggi satu tingkat dari pengetahuan. Pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep.
Kemudian perlu ditegaskan bahwa pemahaman bersifat dinamis, dengan ini diharapkan akan bersifat kreatif. Ia akan menghasilkan imajinasi dan pikiran yang tenang, akan tetapi apabila subyek belajar betul-betul memahami materi yang disampaikan oleh gurunya, maka mereka akan siap memberikan jawaban-jawaban yang pasti atas partanyaan-pertanyaan atau berbagai masalah dalam belajar (Sardiman, 1996: 42-45).
Dalam memahami suatu materi, harus konsentrasi secara penuh terhadap materi tersebut dengan cara memahami tiap-tiap kalimat dan mencerna maksud dari kalimat tersebut. Bisa juga dengan membanyangkan secara langsung hal yang terjadi dalam kalimat tersebut dan hendaknya mengikuti secara runtun aliran suatu materi dengan seksama karena jika satu materi saja terlewat maka pada materi berikutnya kemungkinan besar akan sulit memahaminya.
3. Recall (Pengulangan)
Mengulang adalah usaha aktif untuk memasukkan informasi kedalam ingatan jangka panjang. Ini dapat dilakukan dengan “mengikat” fakta kedalam ingatan visual, auditorial, atau fisik. Otak banyak memiliki perangkat ingatan. Semakin banyak perangkat (indra) yang dilibatkan, semakin baik pula sebuah informasi baru tercatat. Me-recall tidak hanya terhadap pengetahuan tentang fakta, tetapi juga mengingat akan konsep yang luas, generalisasi yang telah didistribusikan, definisi, metode dalam mendekati masalah. Me-recall, bertujuan agar siswa memiliki kesempatan untuk membentuk atau menyusun kembali imformasi yang telah mereka terima (Jamarah, 2005: 108) .
Orang yang tidak mengulang saat belajar senantiasa memasukkan informasi baru tersebut lepas. Itu membuat belajar menjadi sulit karena akan ada lebih sedikit kata dalam otak yang dapat digunakan untuk mengaitkan atau mengasosiasikan sejumlah informasi baru berikutnya.
Kegiatan mengulang ini bisa dilakukan setelah mendapatkan materi tersebut, dapat dilakukan pada waktu sepulang sekolah, waktu istirahat, dan diwaktu-waktu senggang lainnya. Pada kegiatan mengulang ini dapat dengan cara membaca ulang sesuai dengan materi yang telah diberikan, kemudian merangkumnya dengan bahasa sendiri yang mudah dipahami. Sehingga secara tidak langsung membaca sekaligus menghafal materi yang telah dipelajari.
4. Digest (Penelaahan)
Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Isi atau materi pelajaran merupakan komponen kedua dalam sistem pembelajaran. Dalam konteks tertentu, materi pelajaran merupakan inti dalam proses pembelajaran. Artinya, sering terjadi proses pembelajaran diartikan sebagai proses penyampaian materi. Hal ini bisa dibenarkan manakalah tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pembelajaran (subject centere teaching). Untuk dapat menguasai materi pelajaran siswa tidak hanya berpedoman pada satu buku, karena pada dasarnya ada berbagai sumber yang bisa dijadikan sumber untuk memperoleh pengetahuan.
Sanjaya (2006: 173-174) menyatakan bahwa beberapa sumber belajar yang bisa dimanfaatkan dalam proses belajar di dalam kelas diantaranya adalah:
a. Manusia Sumber
Alat dan bahan pengajaran misalnya buku-buku, majalah, koran, dan bahan cetak lainnya, film slide, foto, gambar, dan lain- lain.
b. Berbagai Aktifitas dan Kegiatan
Yang dimaksud aktifitas adalah segala perbuatan yang disengaja dirancang guru untuk memfasilitasi kegiatan belajar siswa seperti diskusi, demonstrasi, simulasi, melakukan percobaan dan lain- lain.
c. Lingkungan (Setting)
Lingkungan adalah segala sesuatu yang dapat memungkinkan siswa belajar, misalnya gedung sekolah, perpustakaan, taman, laboratorium, kantin sekolah dan lain- lain
5. Expand (Pengembangan)
Expand artinya pengembangan. Dengan pengembangan, maka akan lebih banyak mengetahui tentang hal-hal yang berhubungan dengan materi yang dipelajari. Ada 3 buah pertanyaan yang dapat di ajukan untuk mengkritisi materi tersebut yaitu:
1. Andaikan saya bertemu dengan penulis materi tersebut, pertanyaan atau kritik apa yang hendak saya ajukan?
2. Bagaimana saya bisa mengaplikasikan materi tersebut ke dalam hal yang saya sukai?
3. Bagaimana saya bisa membuat informasi ini menjadi menarik dan mudah dipahami oleh siswa/mahasiswa lainnya?
6. Review (Pelajari Kembali)
Pelajari kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari. Suatu proses pembelajaran akan berlangsung dengan efektif apabila informasi yang dipelajari dapat diingat dengan baik dan terhindar dari lupa. Mengingat adalah proses menerima, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi yang telah diterima melalui pengamatan, kemudian disimpan dalam pusat kesadaran
Pembelajaran MURDER merupakan pembelajaran yang diadaptasi dari buku karya Bob Nelson “The Complete Problem Solver” yang merupakan gabungan dari beberapa kata yang meliputi:
1. Mood (Suasana Hati)
Mood adalah istilah bahasa inggris yang artinya suasana hati. Dalam belajar suasana hati yang positif bisa menciptakan semangat belajar sehingga konsentrasi belajar dapat dicapai semaksimal mungkin dan dapat menyerap apa yang telah dipelajari. Oleh karena itu, jika suasana hati tidak mendukung, maka semua konsentrasi akan dibuyarkan dengan pikiran-pikiran yang tidak penting untuk difikirkan. Ciptakan suasana hati yang positif ketika kita belajar sebuah ilmu.
Proses pembelajaran adalah proses yang dapat mengembangkan seluruh potensi siswa. Seluruh potensi itu hanya mungkin dapat berkembang manakalah siswa terbebas dari rasa takut dan menegangkan. Kecerdasan emosional ini berkaitan dengan pandangan kita tentang kehidupan, kemampuan kita bergembira, sendirian dan dengan orang lain, serta keseluruhan rasa puas dan kecewa yang kita rasakan. Hamzah (2006: 82) menyatakan bahwa suasana hati umum juga memiliki dua skala, yaitu sebagai berikut:
1. Optimisme, yaitu kemampuan untuk mempertahankan sikap positif yang realistis terutama dalam menghadapi masa-masa sulit. Dalam pengertian luas, optimisme berarti makna kemampuan melihat sisi tentang kehidupan dan memelihara sikap positif, sekalipun kita berada dalam kesulitan. Optimisme mengasumsikan adanya harapan dalam cara orang menghadapi kehidupan.
1. Kebahagiaan, yaitu kemampuan untuk mensyukuri kehidupan, menyukai diri sendiri dan orang lain, dan untuk bersemangat serta bergairah dalam melakukan setiap kegiatan.
Oleh karena itu perlu diupayakan agar proses pembelajaran merupakan proses yang menyenangkan bisa dilakukan, pertama, dengan menata ruangan yang apik dan menarik, yaitu yang memenuhi unsur-unsur kesehatan, kedua, melalui pengelolaan yang hidup dan bervariasi yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media dan sumber belajar yang relevan.
2. Understand (Pemahaman)
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pemahaman adalah mengerti benar atau mengetahui benar. Pemahaman dapat diartikan juga menguasai tertentu dengan pikiran, maka belajar berarti harus mengerti secara mental makna dan filosofisnya, maksud dan implikasi serta aplikasi-aplikasinya, sehingga menyebabkan siswa memahami suatu situasi. Hal ini sangat penting bagi siswa yang belajar. Memahami maksudnya, menangkap maknanya, adalah tujuan akhir dari setiap mengajar. Pemahaman memiliki arti mendasar yang meletakan bagian-bagian belajar pada proporsinya. Tanpa itu, maka skill pengetahuan dan sikap tidak akan bermakna.
Dalam belajar unsur pemahaman itu tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur yang lain. Dengan motivasi, konsentrasi dan reaksi, maka siswa dapat mengembangkan fakta-fakta, ide-ide atau skill kemudian dengan unsur organisasi, maka subyek belajar dapat menata hal- hal tersebut secara bertautan bersama menjadi suatu pola yang logis, karena mempelajari sejumlah data sebagaimana adanya, secara bertingkat atau angsur-angsur, siswa mulai memahami artinya dan implikasi dari persoalan-persoalan secara keseluruhan.
Perlu diingat bahwa pemahaman tidak hanya sekedar tahu akan tetapi juga menghendaki agar siswa dapat memanfaatkan bahan-bahan yang telah dipelajari dan dipahami, kalau sudah demikian maka belajar itu bersifat mendasar. Pemahaman lebih tinggi satu tingkat dari pengetahuan. Pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep.
Kemudian perlu ditegaskan bahwa pemahaman bersifat dinamis, dengan ini diharapkan akan bersifat kreatif. Ia akan menghasilkan imajinasi dan pikiran yang tenang, akan tetapi apabila subyek belajar betul-betul memahami materi yang disampaikan oleh gurunya, maka mereka akan siap memberikan jawaban-jawaban yang pasti atas partanyaan-pertanyaan atau berbagai masalah dalam belajar (Sardiman, 1996: 42-45).
Dalam memahami suatu materi, harus konsentrasi secara penuh terhadap materi tersebut dengan cara memahami tiap-tiap kalimat dan mencerna maksud dari kalimat tersebut. Bisa juga dengan membanyangkan secara langsung hal yang terjadi dalam kalimat tersebut dan hendaknya mengikuti secara runtun aliran suatu materi dengan seksama karena jika satu materi saja terlewat maka pada materi berikutnya kemungkinan besar akan sulit memahaminya.
3. Recall (Pengulangan)
Mengulang adalah usaha aktif untuk memasukkan informasi kedalam ingatan jangka panjang. Ini dapat dilakukan dengan “mengikat” fakta kedalam ingatan visual, auditorial, atau fisik. Otak banyak memiliki perangkat ingatan. Semakin banyak perangkat (indra) yang dilibatkan, semakin baik pula sebuah informasi baru tercatat. Me-recall tidak hanya terhadap pengetahuan tentang fakta, tetapi juga mengingat akan konsep yang luas, generalisasi yang telah didistribusikan, definisi, metode dalam mendekati masalah. Me-recall, bertujuan agar siswa memiliki kesempatan untuk membentuk atau menyusun kembali imformasi yang telah mereka terima (Jamarah, 2005: 108) .
Orang yang tidak mengulang saat belajar senantiasa memasukkan informasi baru tersebut lepas. Itu membuat belajar menjadi sulit karena akan ada lebih sedikit kata dalam otak yang dapat digunakan untuk mengaitkan atau mengasosiasikan sejumlah informasi baru berikutnya.
Kegiatan mengulang ini bisa dilakukan setelah mendapatkan materi tersebut, dapat dilakukan pada waktu sepulang sekolah, waktu istirahat, dan diwaktu-waktu senggang lainnya. Pada kegiatan mengulang ini dapat dengan cara membaca ulang sesuai dengan materi yang telah diberikan, kemudian merangkumnya dengan bahasa sendiri yang mudah dipahami. Sehingga secara tidak langsung membaca sekaligus menghafal materi yang telah dipelajari.
4. Digest (Penelaahan)
Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Isi atau materi pelajaran merupakan komponen kedua dalam sistem pembelajaran. Dalam konteks tertentu, materi pelajaran merupakan inti dalam proses pembelajaran. Artinya, sering terjadi proses pembelajaran diartikan sebagai proses penyampaian materi. Hal ini bisa dibenarkan manakalah tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pembelajaran (subject centere teaching). Untuk dapat menguasai materi pelajaran siswa tidak hanya berpedoman pada satu buku, karena pada dasarnya ada berbagai sumber yang bisa dijadikan sumber untuk memperoleh pengetahuan.
Sanjaya (2006: 173-174) menyatakan bahwa beberapa sumber belajar yang bisa dimanfaatkan dalam proses belajar di dalam kelas diantaranya adalah:
a. Manusia Sumber
Alat dan bahan pengajaran misalnya buku-buku, majalah, koran, dan bahan cetak lainnya, film slide, foto, gambar, dan lain- lain.
b. Berbagai Aktifitas dan Kegiatan
Yang dimaksud aktifitas adalah segala perbuatan yang disengaja dirancang guru untuk memfasilitasi kegiatan belajar siswa seperti diskusi, demonstrasi, simulasi, melakukan percobaan dan lain- lain.
c. Lingkungan (Setting)
Lingkungan adalah segala sesuatu yang dapat memungkinkan siswa belajar, misalnya gedung sekolah, perpustakaan, taman, laboratorium, kantin sekolah dan lain- lain
5. Expand (Pengembangan)
Expand artinya pengembangan. Dengan pengembangan, maka akan lebih banyak mengetahui tentang hal-hal yang berhubungan dengan materi yang dipelajari. Ada 3 buah pertanyaan yang dapat di ajukan untuk mengkritisi materi tersebut yaitu:
1. Andaikan saya bertemu dengan penulis materi tersebut, pertanyaan atau kritik apa yang hendak saya ajukan?
2. Bagaimana saya bisa mengaplikasikan materi tersebut ke dalam hal yang saya sukai?
3. Bagaimana saya bisa membuat informasi ini menjadi menarik dan mudah dipahami oleh siswa/mahasiswa lainnya?
6. Review (Pelajari Kembali)
Pelajari kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari. Suatu proses pembelajaran akan berlangsung dengan efektif apabila informasi yang dipelajari dapat diingat dengan baik dan terhindar dari lupa. Mengingat adalah proses menerima, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi yang telah diterima melalui pengamatan, kemudian disimpan dalam pusat kesadaran
Contextual Teaching Learning Model Learning (CTL)
Contextual Teaching Learning Model Learning (CTL)
Contextual learning is a translation of the term Contextual Teaching Learning (CTL). The word comes from the word CONTEX contextual meaning "of relationships, context, mood, or situation". Thus the contextual mean "associated with the atmosphere (context). So Contextual Teaching Learning (CTL) can be interpreted as a sign of learning associated with a particular atmosphere.
Contextual learning is based on the results of the study John Dewey (1916) who concluded that the students will learn well if what is learned related to what is already known and with the activities or events that happen around him.
Contextual teaching itself was first developed in the United States beginning with the establishment of the Washington State Consortum for Contextual by the U.S. Department of Education. Between 1997 to 2001, has organized seven major project that aims to develop, test, and look at the effectiveness of the implementation of teaching mathematics contextually. The project involves 11 universities and 18 schools by involving 85 teachers and professors as well as 75 teachers who had given the previous briefing.
Implementation of this program worked well for college level so the results are recommended to get out in the implementation. For the school level, the implementation of this program showed a significant result, namely increased interest in students to learn, and enhance the active participation of students as a whole.
Different contextual learning with conventional learning, the Ministry of National Education (2002:5) suggests the difference between learning Contextual Teaching Learning (CTL) with conventional learning as follows:
Conventional CTL
Selection of the information needs of individual students; selection information is determined by the teacher;
Tend to integrate several fields (disciplines); Tend to focus on one field (discipline) specific;
Always relate the information with prior knowledge that has been owned by the student; Provide information to students pile up on the time required;
Implementing authentic assessment through the practical application in solving problems; Assessment of learning outcomes only through the academic activities of the test / reset
Characteristics of Contextual Teaching Learning Approach (CTL)
Contextual learning involves seven main components of productive learning: constructivism (Constructivism), ask (Questioning), find (Inquiry), community learning (Learning Community), modeling (modeling), reflection (Reflection) and assessment of the actual (Authentic Assessment) (Ministry of Education, 2003:5).
1. Constructivism (Constructivism)
Each individual can make a cognitive or mental structures based on their experience so individuals can form a concept or new idea, is said to be constructivist (Ateec, 2000). The function of teachers here helped shape the concept through discovery methods (self-discovery), inquiri and so forth, students participate actively in shaping new ideas.
According to Piaget's constructivist approach contains four core activities, namely:
1) Contains real experience (Experience);
2) The existence of social interaction (Social Interaction);
3) Establishment of environmental sensitivity (Sense making);
4) More attention to prior knowledge (Prior Knowledge).
Constructivism is the foundation of thinking (philosophy) a contextual approach, namely that human knowledge is built by little by little, the result is expanded through a limited context.
Knowledge is not a set of facts, concepts or rules that are ready to be taken or retained. Humans have to construct knowledge and give meaning through real experiences. Based on these statements, learning must be packed into a process of "construct" rather than receiving knowledge (Ministry of Education, 2003:6).
In line with Piaget's ideas regarding the construction of knowledge in the brain. Humans have the knowledge structure in the brain, such as boxes, each containing meaningful information are different. Each box will be filled by the experiences interpreted differently by each individual. Each new experience will be connected with a box that already contains a long experience that can be developed. Knowledge structures in the human brain is developed through two ways of assimilation and accommodation.
2. Asking (Questioning)
Asking questions is the main strategy in contextual learning. Activities used by teachers asked to encourage, guide and assess students 'thinking abilities for students' activities while asking an important part in implementing inquiry-based learning. In a productive learning, the activities ask helpful for:
1) Digging of information, both administratively and academically;
2) Check the students' prior knowledge and understanding of students;
3) Generating a response to students;
4) Knowing the extent to which students' curiosity;
5) Focusing attention on something that is desired student teachers;
6) Generating more questions from students;
7) Refresh the students' knowledge.
3. Finding (Inquiry)
Finding is a core part of the CTL-based learning. Knowledge and skills that students are not the result obtained considering a set of facts but the result of finding himself (MONE, 2003). Finding or inquiry can be interpreted also as a learning process based on a search and discovery through the process of thinking systematically. In general, the proceedings can be conducted through several steps, namely:
1) Formulate the problem;
2) Applying the hypothesis;
3) Collect data;
4) Test the hypothesis based on data found;
5) Make a conclusion.
Through a systematic process of thinking, students are expected to have a scientific attitude, rational, and logical for the formation of student creativity.
4. Community learning (Learning Community)
Learning Community concept suggests that the learning outcomes gained from cooperation with others. Learning outcomes were obtained from antarsiswa sharing, intergroup, and inter-already know who do not know about the matter. Every element of society can also play a role here by sharing experiences (MONE, 2003).
5. Modeling (Modeling)
Modeling in contextual learning is a skill or knowledge and uses a model that can be replicated. Models that can be a way to operate something or the teacher gives an example of how to do matches. In a sense the teacher provides a model on "how to learn". In contextual learning, teachers are not the only model. Models can be designed to involve students.
According to Bandura and Walters, a new student behavior controlled or studied first by observing and imitating a model. Models that can be observed or replicated students classified into:
1. Real life (real life), such as parents, teachers, or others.;
2. Symbolic (symbolic), the model presented orally, in writing or in pictures;
3. Representation (representation), the model presented using audiovisual equipment, such as television and radio.
6. Reflection (Reflection)
Reflection is a way of thinking about what the newly learned or backward thinking about what we've done in the past. What's new precipitate students learned as a new knowledge structure. New knowledge structure which is enrichment or revision of previous knowledge. Reflection is a response to events, activities, or new knowledge that is received (MONE, 2003).
In learning activities, reflection made by a teacher at the end of the lesson. Teachers leaving a moment of reflection so that students can make the realization of which can be:
1. Direct statement about what is gained in learning just done.;
2. Notes or journals in the student book;
3. Impressions and suggestions about the learning that has been done.
7. Assessment of the actual (Authentic Assessment)
Authentic assessment is the process of collecting various data that could provide a developmental learning students so teachers can determine whether the student has undergone a process of learning the truth. Authentic assessment emphasizes the learning process so that the data collected must be obtained from real work activities of students during the learning process.
Characteristics of authentic assessment according to the Ministry of Education (2003) include: implemented during and after the learning takes place, can be used for formative and summative, which measured the skills and attitudes in learning rather than remembering facts, continuous, integrated, and can be used as feedback. Authentic assessment is usually in the form of reported activities, homework, quizzes, student work, student achievement or performance, demonstrations, reports, journals, test results and write papers.
REFERENCES
Ministry of National Education. 2003. Contextual Approach. Jakarta: Ministry of National Education.
Nurhadi. 2003. Contextual Approach. Jakarta: Ministry of National Education
Contextual learning is a translation of the term Contextual Teaching Learning (CTL). The word comes from the word CONTEX contextual meaning "of relationships, context, mood, or situation". Thus the contextual mean "associated with the atmosphere (context). So Contextual Teaching Learning (CTL) can be interpreted as a sign of learning associated with a particular atmosphere.
Contextual learning is based on the results of the study John Dewey (1916) who concluded that the students will learn well if what is learned related to what is already known and with the activities or events that happen around him.
Contextual teaching itself was first developed in the United States beginning with the establishment of the Washington State Consortum for Contextual by the U.S. Department of Education. Between 1997 to 2001, has organized seven major project that aims to develop, test, and look at the effectiveness of the implementation of teaching mathematics contextually. The project involves 11 universities and 18 schools by involving 85 teachers and professors as well as 75 teachers who had given the previous briefing.
Implementation of this program worked well for college level so the results are recommended to get out in the implementation. For the school level, the implementation of this program showed a significant result, namely increased interest in students to learn, and enhance the active participation of students as a whole.
Different contextual learning with conventional learning, the Ministry of National Education (2002:5) suggests the difference between learning Contextual Teaching Learning (CTL) with conventional learning as follows:
Conventional CTL
Selection of the information needs of individual students; selection information is determined by the teacher;
Tend to integrate several fields (disciplines); Tend to focus on one field (discipline) specific;
Always relate the information with prior knowledge that has been owned by the student; Provide information to students pile up on the time required;
Implementing authentic assessment through the practical application in solving problems; Assessment of learning outcomes only through the academic activities of the test / reset
Characteristics of Contextual Teaching Learning Approach (CTL)
Contextual learning involves seven main components of productive learning: constructivism (Constructivism), ask (Questioning), find (Inquiry), community learning (Learning Community), modeling (modeling), reflection (Reflection) and assessment of the actual (Authentic Assessment) (Ministry of Education, 2003:5).
1. Constructivism (Constructivism)
Each individual can make a cognitive or mental structures based on their experience so individuals can form a concept or new idea, is said to be constructivist (Ateec, 2000). The function of teachers here helped shape the concept through discovery methods (self-discovery), inquiri and so forth, students participate actively in shaping new ideas.
According to Piaget's constructivist approach contains four core activities, namely:
1) Contains real experience (Experience);
2) The existence of social interaction (Social Interaction);
3) Establishment of environmental sensitivity (Sense making);
4) More attention to prior knowledge (Prior Knowledge).
Constructivism is the foundation of thinking (philosophy) a contextual approach, namely that human knowledge is built by little by little, the result is expanded through a limited context.
Knowledge is not a set of facts, concepts or rules that are ready to be taken or retained. Humans have to construct knowledge and give meaning through real experiences. Based on these statements, learning must be packed into a process of "construct" rather than receiving knowledge (Ministry of Education, 2003:6).
In line with Piaget's ideas regarding the construction of knowledge in the brain. Humans have the knowledge structure in the brain, such as boxes, each containing meaningful information are different. Each box will be filled by the experiences interpreted differently by each individual. Each new experience will be connected with a box that already contains a long experience that can be developed. Knowledge structures in the human brain is developed through two ways of assimilation and accommodation.
2. Asking (Questioning)
Asking questions is the main strategy in contextual learning. Activities used by teachers asked to encourage, guide and assess students 'thinking abilities for students' activities while asking an important part in implementing inquiry-based learning. In a productive learning, the activities ask helpful for:
1) Digging of information, both administratively and academically;
2) Check the students' prior knowledge and understanding of students;
3) Generating a response to students;
4) Knowing the extent to which students' curiosity;
5) Focusing attention on something that is desired student teachers;
6) Generating more questions from students;
7) Refresh the students' knowledge.
3. Finding (Inquiry)
Finding is a core part of the CTL-based learning. Knowledge and skills that students are not the result obtained considering a set of facts but the result of finding himself (MONE, 2003). Finding or inquiry can be interpreted also as a learning process based on a search and discovery through the process of thinking systematically. In general, the proceedings can be conducted through several steps, namely:
1) Formulate the problem;
2) Applying the hypothesis;
3) Collect data;
4) Test the hypothesis based on data found;
5) Make a conclusion.
Through a systematic process of thinking, students are expected to have a scientific attitude, rational, and logical for the formation of student creativity.
4. Community learning (Learning Community)
Learning Community concept suggests that the learning outcomes gained from cooperation with others. Learning outcomes were obtained from antarsiswa sharing, intergroup, and inter-already know who do not know about the matter. Every element of society can also play a role here by sharing experiences (MONE, 2003).
5. Modeling (Modeling)
Modeling in contextual learning is a skill or knowledge and uses a model that can be replicated. Models that can be a way to operate something or the teacher gives an example of how to do matches. In a sense the teacher provides a model on "how to learn". In contextual learning, teachers are not the only model. Models can be designed to involve students.
According to Bandura and Walters, a new student behavior controlled or studied first by observing and imitating a model. Models that can be observed or replicated students classified into:
1. Real life (real life), such as parents, teachers, or others.;
2. Symbolic (symbolic), the model presented orally, in writing or in pictures;
3. Representation (representation), the model presented using audiovisual equipment, such as television and radio.
6. Reflection (Reflection)
Reflection is a way of thinking about what the newly learned or backward thinking about what we've done in the past. What's new precipitate students learned as a new knowledge structure. New knowledge structure which is enrichment or revision of previous knowledge. Reflection is a response to events, activities, or new knowledge that is received (MONE, 2003).
In learning activities, reflection made by a teacher at the end of the lesson. Teachers leaving a moment of reflection so that students can make the realization of which can be:
1. Direct statement about what is gained in learning just done.;
2. Notes or journals in the student book;
3. Impressions and suggestions about the learning that has been done.
7. Assessment of the actual (Authentic Assessment)
Authentic assessment is the process of collecting various data that could provide a developmental learning students so teachers can determine whether the student has undergone a process of learning the truth. Authentic assessment emphasizes the learning process so that the data collected must be obtained from real work activities of students during the learning process.
Characteristics of authentic assessment according to the Ministry of Education (2003) include: implemented during and after the learning takes place, can be used for formative and summative, which measured the skills and attitudes in learning rather than remembering facts, continuous, integrated, and can be used as feedback. Authentic assessment is usually in the form of reported activities, homework, quizzes, student work, student achievement or performance, demonstrations, reports, journals, test results and write papers.
REFERENCES
Ministry of National Education. 2003. Contextual Approach. Jakarta: Ministry of National Education.
Nurhadi. 2003. Contextual Approach. Jakarta: Ministry of National Education
Rabu, 13 Juli 2011
RAMUAN AJAIB ( KUAT SEX )
1. RAMUAN AJAIB ( KUAT SEX )
Bahan : Kuning telur ayam kampung 1 butir, pati kunyit, lada hitam, minyak wijen, bawang putih, madu.
Ket. : Semua bahan adalah 1 takaran ( satu ukuran ), misal : satu sendok besar, ya sama semua ukurannya. Untuk kunyit, lada hitam dan bawang putih, masing-masing telah diparut / dihancurkan.
Caranya : campurkan semua bahan, minum selama 3 hari ( Rabu, Kamis, dan Jum’at ). Tiap sore / malam.
2. JANTAN PERKASA ( KUAT SEX SEMALAM SUNTUK / ANTI EJAKULASI DINI / KEPERKASAAN KUAT 4 JAM LEBIH )
Caranya : Pada pagi hari anda beli sepotong/sedikit daging kambing yang warnanya paling merah diantara sekian daging yang ada ditubuh kambing yang anda beli tadi. Pada malam hari sekitar Jam 18:30 s/d Jam 19:00 ambil daging sebesar jempol anda, kemudian buatlah kopi jangan terlalu manis. Masukkan air panas lalu aduk, dalam keadaan hangat tersebut masukkan daging tadi ke dalam kopi dan gula. Tutup taruh dibawah ranjang tempat tidur anda, biarkan semalam. Pagi harinya sekitar pukul 04.30 WIB minum ramuan tadi di tempat yang gelap. Lakukan 5-7 kali baru coba dengan istri.
3. KEPERKASAAN ( BESARKAN VITALITAS )
- Gunakan otak ayam jantan yang dicampur dengan madu, usapkan pada penis anda, mudah-mudahan hubungan anda dan istri jadi tambah nikmat.
- Apabila diusapkan dengan empedu ayam betina, hubungan akan jadi erotis
4. BESARKAN ALAT VITAL
- Sebelum senggama, basuhlah dengan air hangat, sambil diurut-urut hingga memerah dan tegang, lalu usap dengan madu dan jahe. Jika membesar siap digunakan.
- (lebih permanen), lintah yang dimasukkan dalam botol berisi minyak kelapa, dijemur diterik matahari sampai bercampur. Minyaki secara rutin selama 7 hari (sore/malam) sambil diusap dengan pijatan (mengusap penis dengan minyak lintah senjata akan besar dan kuat).
5. IMPOTEN / EJAKULASI DINI / LEMAH SAHWAT
- 25 Merica + 1 buah jeruk. Caranya : Merica ditumbuk, campur dengan air jeruk purut, minum 3 kali sehari ± 1 bulan kembali normal.
- 1 buah pinang (Jambe) + kemiri = dibakar sampai hangus.
tumbuk halus 3 telur ayam kampung + madu = kuningnya saja + madu asli (secukupnya).
Ket. : Semua bahan campur + 1 gelas air panas.
Diminum pada pagi hari, ± 7 hari akan kembali jantan dan tahan lama.
Bahan : Kuning telur ayam kampung 1 butir, pati kunyit, lada hitam, minyak wijen, bawang putih, madu.
Ket. : Semua bahan adalah 1 takaran ( satu ukuran ), misal : satu sendok besar, ya sama semua ukurannya. Untuk kunyit, lada hitam dan bawang putih, masing-masing telah diparut / dihancurkan.
Caranya : campurkan semua bahan, minum selama 3 hari ( Rabu, Kamis, dan Jum’at ). Tiap sore / malam.
2. JANTAN PERKASA ( KUAT SEX SEMALAM SUNTUK / ANTI EJAKULASI DINI / KEPERKASAAN KUAT 4 JAM LEBIH )
Caranya : Pada pagi hari anda beli sepotong/sedikit daging kambing yang warnanya paling merah diantara sekian daging yang ada ditubuh kambing yang anda beli tadi. Pada malam hari sekitar Jam 18:30 s/d Jam 19:00 ambil daging sebesar jempol anda, kemudian buatlah kopi jangan terlalu manis. Masukkan air panas lalu aduk, dalam keadaan hangat tersebut masukkan daging tadi ke dalam kopi dan gula. Tutup taruh dibawah ranjang tempat tidur anda, biarkan semalam. Pagi harinya sekitar pukul 04.30 WIB minum ramuan tadi di tempat yang gelap. Lakukan 5-7 kali baru coba dengan istri.
3. KEPERKASAAN ( BESARKAN VITALITAS )
- Gunakan otak ayam jantan yang dicampur dengan madu, usapkan pada penis anda, mudah-mudahan hubungan anda dan istri jadi tambah nikmat.
- Apabila diusapkan dengan empedu ayam betina, hubungan akan jadi erotis
4. BESARKAN ALAT VITAL
- Sebelum senggama, basuhlah dengan air hangat, sambil diurut-urut hingga memerah dan tegang, lalu usap dengan madu dan jahe. Jika membesar siap digunakan.
- (lebih permanen), lintah yang dimasukkan dalam botol berisi minyak kelapa, dijemur diterik matahari sampai bercampur. Minyaki secara rutin selama 7 hari (sore/malam) sambil diusap dengan pijatan (mengusap penis dengan minyak lintah senjata akan besar dan kuat).
5. IMPOTEN / EJAKULASI DINI / LEMAH SAHWAT
- 25 Merica + 1 buah jeruk. Caranya : Merica ditumbuk, campur dengan air jeruk purut, minum 3 kali sehari ± 1 bulan kembali normal.
- 1 buah pinang (Jambe) + kemiri = dibakar sampai hangus.
tumbuk halus 3 telur ayam kampung + madu = kuningnya saja + madu asli (secukupnya).
Ket. : Semua bahan campur + 1 gelas air panas.
Diminum pada pagi hari, ± 7 hari akan kembali jantan dan tahan lama.
MAGNETIC FORCE (Lorentz)
MAGNETIC FORCE (Lorentz)
Of the Oersted experiment, you already know that the poles of the magnetic needle (eg compass) underwent a magnetic force generated by electric currents. Do the opposite effect on the electrical current carrying conductor in a magnetic field of magnetic force will arise? Above questions can be answered by conducting an experiment as follows:
I. Experiment Objectives Investigate the phenomenon of magnetic force acting on the electric current carrying wire in a magnetic field.
II. Tools used: 1. Circuit board 1 piece 2. Magnets U 1 piece 3. 1 piece pole switch 4. The bridge connecting 4 pieces 5. Cable Connector 1 pc 6. Plug pins have 4 pieces 7. Battery 4 pieces 8. Ampere meter 1 piece
III. Step Activity 1. Series of tools such as image

2. The switch in the open position (position 0) 3 Ampere meter with a measuring limit of 5 A DC. 4 One connecting cable is slack stretched, mounted between the two magnetic poles N and connected to the two plug-flops. 5 Connect the circuit to a voltage source which consists of 3 pieces of battery serial (gubakan bridges) 6 Close the switch S (position 1) observe the current strength and direction of motion of the cables are in a magnetic field. 7 Open the switch S (position 0), then turn direction by reversing the battery 8 Do as step 1, and record the result into a table of observations No. 1 9 Open the switch S, then enlarge the flow by enlarging the voltage source (add a battery) 10 Do as step 1 s / d step 3 and then record the result into a table of observation No. 2
RESULTS OF OBSERVATIONS
IV. Discussion 1. Compare deviation that occurs at the wire in trial 1 with trial into two deviation Which is bigger? ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .... Explain why !............................................... .................................. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .... 2. From the experimental results illustrate the current direction, the direction of the magnetic field to the direction of deviation
V. Conclusion ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .... VI. Possible Application In Daily Life ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
Of the Oersted experiment, you already know that the poles of the magnetic needle (eg compass) underwent a magnetic force generated by electric currents. Do the opposite effect on the electrical current carrying conductor in a magnetic field of magnetic force will arise? Above questions can be answered by conducting an experiment as follows:
I. Experiment Objectives Investigate the phenomenon of magnetic force acting on the electric current carrying wire in a magnetic field.
II. Tools used: 1. Circuit board 1 piece 2. Magnets U 1 piece 3. 1 piece pole switch 4. The bridge connecting 4 pieces 5. Cable Connector 1 pc 6. Plug pins have 4 pieces 7. Battery 4 pieces 8. Ampere meter 1 piece
III. Step Activity 1. Series of tools such as image
2. The switch in the open position (position 0) 3 Ampere meter with a measuring limit of 5 A DC. 4 One connecting cable is slack stretched, mounted between the two magnetic poles N and connected to the two plug-flops. 5 Connect the circuit to a voltage source which consists of 3 pieces of battery serial (gubakan bridges) 6 Close the switch S (position 1) observe the current strength and direction of motion of the cables are in a magnetic field. 7 Open the switch S (position 0), then turn direction by reversing the battery 8 Do as step 1, and record the result into a table of observations No. 1 9 Open the switch S, then enlarge the flow by enlarging the voltage source (add a battery) 10 Do as step 1 s / d step 3 and then record the result into a table of observation No. 2
RESULTS OF OBSERVATIONS
| NO | Voltage Source (V) | Strong Current (A) | POLARITy CIRCUIT | Deviation Wire | ||
| A | B | IN | OUT | |||
| 1 | | | | | | |
| | | | | | | |
| 2 | | | | | | |
| | | | | | | |
IV. Discussion 1. Compare deviation that occurs at the wire in trial 1 with trial into two deviation Which is bigger? ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .... Explain why !............................................... .................................. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .... 2. From the experimental results illustrate the current direction, the direction of the magnetic field to the direction of deviation
V. Conclusion ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .... VI. Possible Application In Daily Life ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
GAYA MAGNETIK (LORENTZ)
Dari percobaan Oersted, telah kamu ketahui bahwa kutub-kutub magnet jarum (misalnya kompas) mengalami gaya magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik . Apakah hal sebaliknya berlaku pada penghantar berarus listrik dalam medan magnet akan timbul gaya magnet ?
Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan melakukan percobaan sebagai berikut :
I. Tujuan Percobaan
Menyelidiki gejala gaya magnet yang bekerja pada kawat berarus listrik dalam medan magnet.
II. Alat yang digunakan :
1. Papan rangkaian 1 buah
2. Magnet U 1 buah
3. Sakelar kutub 1 buah
4. Jembatan penghubung 4 buah
5. Kabel Penghubung 1 buah
6. Jepitan steker 4 buah
7. Baterai 4 buah
8. Ampere meter 1 buah
III. Langkah Kegiatan
1. Rangkai alat seperti gambar
2. Sakelar dalam posisi terbuka ( posisi 0)
3 Amper meter dengan batas ukur 5 A DC.
4 Satu kabel penghubung direntangkan secara kendor, dipasang diantara kedua kutub magnet U dan dihubungkan pada kedua jepit steker.
5 Hubungkan rangkaian ke sumber tegangan yang terdiri dari 3 buah baterai seri ( gubakan jembatan penghubung )
6 Tutup saklar S (posisi 1) amati kuat arus dan arah gerak kabel yang berada dalam medan magnet.
7 Buka saklar S ( posisi 0), kemudian balik arah dengan cara membalik baterai
8 Lakukan seperti langkah 1, dan catat hasilnya ke dalam tabel hasil pengamatan no 1
9 Buka saklar S, kemudian perbesar arus dengan cara memperbesar tegangan sumber ( menambah sebuah baterai )
10 Lakukan seperti langkah 1 s/d langkah 3 kemudian catat hasilnya ke dalam tabel pengamatan no 2
HASIL PENGAMATAN
NO | TEGANGAN SUMBER (V) | KUAT ARUS (A) | POLARITAS RANGKAIAN | SIMPANGAN KAWAT | ||
A | B | MASUK | KELUAR | |||
1 | ||||||
2 | ||||||
IV. Diskusi
1. Bandingkan simpangan yang terjadi pada kawat dalam percobaan 1 dengan percobaan ke 2
Mana yang lebih besar simpangannya ? …………………………….
Jelaskan kenapa!.................................................................................
………………………………………………………………………
……………………………………………………………………….
2. Dari hasil percobaan gambarkan arah arus, arah medan magnet terhadap arah simpangan
V. Kesimpulan
……………………………………………………………………………….
VI. Kemungkinan Penerapan Dalam Kehidupan Sehari-hari
…………………………………………………………………………………
……………………………………………………………
Langganan:
Postingan (Atom)
