LAPORAN AKHIR
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR
MATA PELAJARAN IPA
POKOK BAHASAN USAHA DAN ENERGI MELALUI
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW
SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 4 MAJA
KABUPATEN MAJALENGKA
Oleh
ADA ARMADA PAHLA, S.Pd., M.Pd.
NIP. 19700318 199903 1 008
PEMERINTAH KABUPATEN MAJALENGKA
DINAS PENDIDIKAN
SMP NEGERI 4 MAJA
2011
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
1. Judul Penelitian Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Mata Pelajaran IPA Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Maja Kabupaten Majalengka
2. Peneliti
a. Nama Lenngkap
b. Jenis Kelamin
c. Pangkat /Golongan/NIP
d. Asal Sekolah
ADA ARMADA PAHLA, S.Pd., M.Pd.
Laki-laki
Pembina / IV.a
SMP Negeri 4 Maja
3. Lama Penelitian 4 Bulan (Januari - April 2011)
4. Biaya yang diperlukan Swadana
Diketahui Majalengka, April 2010
Kepala SMP Negeri 4 Maja Peneliti
Masturo Ade,S.Pd.,M.Pd. ADA ARMADA PAHLA, S.Pd., M.Pd.
NIP. 19650904 198903 1 009 NIP. 19700318 199903 1 008
ABSTRAK
Sejauh ini mata pelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa, termasuk siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Maja. Hasil belajar yang dicapai siswa pada tahun-tahun sebelumnya selalu dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Rendahnya hasil belajar siswa yang dicapai dapat disebabkan oleh motivasi siswa untuk belajar IPA kurang dan proses pembelajaran atau sarana belajar yang kurang memadai. Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa sehingga memudahkan siswa memahami konsep-konsep IPA. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus dilakukan 2 (dua) kali pertemuan. Pada siklus I menunjukan peningkatan prosentase aktivitas siswa, pada pertemuan pertama 36 % dan pertemuan kedua 68 %. Sedangkan di siklus II pertemuan pertama 72 % dan pertemua kedua 88 %. Hasil belajarpun mengalami peningkatan di siklus I ketuntasan belajar 76 %, sedangkan disiklus II ketuntasan belajar 84 %, disamping itu tanggapan siswa juga positif terhadap model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini terlihat dari angket yang dijawab siswa yang merasa senang dengan model pembelajaran ini.
Kata kunci : Motivasi ; Hasil Belajar ; Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw.
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik, dan hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan laporan penelitian ini.
Penelitian ini berjudul “Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Mata Pelajaran IPA Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Maja Kabupaten Majalengka”.
Permasalahan yang menjadi latar belakang penelitian ini dilandasi oleh pengalaman peneliti selama mengajar, ternyata diperoleh temuan masih rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Sehingga perlu adanya upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, melalui pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Maja tahun pelajaran 2010-2011. Dari hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran IPA konsep Energi dan Usaha dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
Selanjutnya, peneliti menyampaikan ucapan terimakasih atas segala bantuan dan dukungan baik moril maupun spiritual kepada semua pihak sehingga laporan penelitian ini dapat terselesaikan. Ucapan terimakasih dan penghargaan peneliti sampaikan terutama kepada :
1. Bapak Masturo Ad, S.Pd.,M.Pd. Selaku Kepala SMPN 4 Maja
2. Rekan-rekan guru selaku observer, yang telah memberikan bantuan dan dorongannya selama penelitian ini berlangsung.
3. Para siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Maja tahun pelajaran 2010-2011 yang penuh kesabaran dan keuletan dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas.
Kemudian, peneliti menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan penelitian ini masih jauh dari sempurna, masih terdapat kekeliruan dan kekhilafan dalam menuangkan gagasannya. Segala saran dan kritik konstruktif sangat diharapkan untuk perbaikan pada penelitian di masa mendatang.
Akhirnya, semoga laporan penelitian ini bisa bermanfaat bagi perkembangan pendidikan di masa yang akan datang. Amiiin Ya Robbal ‘Alamiin.
Majalengka, 6 April 2011
Peneliti
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Pengesahan
Abstrak
Kata Pengantar i
Daftar Isi iii
Daftar Tabel v
Daftar Lampiran vi
BAB I. PENDAHULUAN.
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 3
C. Pembatasan dan Rumusan Masalah 3
D. Tujuan Penelitian 4
E. Manfaat Hasil Penelitian 4
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar 6
B. Motivasi Belajar 10
C. Pembelajaran Kooperatif 12
D. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw 13
E. Gambaran Umum Konsep Energi dan Usaha 15
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian 17
B. Prosedur Pelaksanaan Tindakan Kelas 18
C. Data dan Teknik Pengumpulan Data 19
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Siklus I
1. Aktivitas Belajar 23
2. Hasil Belajar 24
3. Refleksi 26
B. Siklus II
1. Aktivitas Belajar 27
2. Hasil Belajar 28
3. Motivasi 28
4. Refleksi 29
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan 33
B. Saran 33
DAFTAR PUSTAKA 35
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Siklus kegiatan penelitian . 18
Tabel 2. Prosentase Aktivitas Kelas. 29
Tabel 3. Prosentase Ketuntasan Belajar. 30
Tabel 4. Skor Nilai Rata-rata Kelas. 30
Tabel 5. Motivasi Siswa. 31
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran-lampiran
1. Daftar hadir siswa
2. Jadwal penelitian
3. Silabus
4. RPP
5. LKS
6. Lembar observasi kegiatan
7. Lembar pengamatan
8. Lembar jurnal harian
9. Data hasil pretest dan postest
10. Lembar angket siswa
11. Soal test siklus I dan siklus II
12. Foto KBM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kegiatan belajar mengajar sebagai salah satu masalah rutin yang umumnya dilaksanakan guru di kelas, bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri akan tetapi terkait dengan berbagai faktor dan unsur. Oleh karena itu eksistensi seorang guru tidak hanya diukur dari penguasaan materi pelajaran atau menyiapkan perangkat-perangkat media yang diperlukan akan tetapi juga kemampuan menciptakan kondisi belajar yang kondusif.
Selama ini perhatian sangat besar ditujukan pada upaya memberikan materi sebanyak-banyaknya kepada siswa, sangat jarang diperhatikan perbedaan-perbedaan individu dan suasana kelas yang sesungguhnya sangat mempengaruhi proses belajar mengajar.
Berdasar pengamatan di lapangan, proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa. Masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan tipe konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi biasanya guru menggunakan tipe ceramah dimana siswa hanya duduk, mencatat dan mendengarkan apa yang disampaikan guru dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisifasi aktif dari seluruh siswa. Jadi kegiatan belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator didalamnya agar suasana kelas lebih hidup.
Belajar kooferatif merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Belajar kooperatif memberikan kesempatan pada siswa untuk saling berinteraksi. Siswa yang saling menjelaskan pengertian suatu konsep pada temannya sebenarnya sedang mengalami proses belajar yang sangat efektif yang bisa memberikan hasil belajar yang jauh lebih maksimal daripada kalau dia mendengarkan penjelasan guru.
Rendahnya hasil belajar pada mata pelajaran IPA yang diperoleh siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Maja, juga diakibatkan dari cara belajar siswa yang masih salah. Selama ini siswa belajarnya dengan cara menghafal (rote learning) bukan dimengerti atau dipahami sehingga tidak menghasilkan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya perolehan skor nilai hasil belajar dari ulangan harian / ulangan blok sangat rendah, yaitu berkisar antara 60% sampai dengan 70% di bawah KKM (Kriteris Ketuntasan Minimal) yang sudah ditetapkan. Berarti hanya sekitar 30% sampai dengan 40% yang sudah tuntas. Belajar dikatakan tuntas bila siswa telah mencapai prestasi belajar atau nilai dengan skor ≥ 60. Dengan demikian hasil belajar IPA siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Maja Majalengka masih dianggap rendah.
Bertolak dari pandangan bahwa belajar adalah mengalami sesuatu, prosesnya dapat berupa berbuat, bereaksi, mengalami sesuatu, menghayati sesuatu. Mengalami sesuatu berarti menghayati situasi-situasi yang sebenarnya dan mereaksi terhadap berbagai aspek situasi itu untuk tujuan-tujuan yang nyata bagi siswa. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Maka untuk memecahkan permasalahan pembelajaran konsep IPA yang sulit dipahami, peneliti akan mencoba memberikan upaya melalui pembelajaran kooperatif dengan tipe jigsaw.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian di atas, peneliti dapat mengidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut :
1. Situasi belajar siswa akan lebih kondusif dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
2. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw membangkitkan motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA.
3. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw membangkitkan aktivitas belajar siswa.
4. Motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajar.
5. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
C. Pembatasan dan Rumusan Masalah.
1. Masalah dalam penelitian ini penulis batasi pada :
a) Proses pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA khususnya pada konsep energi dan usaha.
b) Proses pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar IPA khususnya pada konsep energi dan usaha.
2. Dalam penelitian ini penulis memberikan perumusan masalah sebagai berikut :
a) Apakah proses pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajara IPA khususnya dalam konsep energi dan usaha.
b) Apakah proses kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA khususnya dalam konsep energi dan usaha.
D. Tujuan Penelitian
Dari permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Meningkatkan motivasi belajar IPA pada konsep energi dan usaha melalui proses pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Maja.
2. Meningkatkan hasil belajar IPA pada konsep energi dan usaha melalui proses pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Maja.
E. Manfaat Hasil Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian tindakan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi guru, kegiatan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang efektif dan efisien (suasana belajar yang kondusif), mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi dan inovatif serta meningkatkan pemahaman guru dalam melakukan tindakan kelas. Sebagai upaya untuk mengatasi pembelajaran yang konvensional, dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu proses belajar mengajar di kelas.
2. Bagi siswa, kegiatan pembelajaran dengan tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi belajar, dan meningkatkan kegairahan belajar, karena bisa menarik perhatian siswa dengan anggota kelompoknya yang akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup, maka hasil belajarnya pun meningkat.
3. Bagi sekolah, penelitian ini dapat membantu memperbaiki proses pembelajaran, khususnya mata pelajaran IPA, sehingga sekolah bisa memfasilitasi segala keperluan untuk kelancaran proses pembelajaran tersebut.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar
Istilah belajar berarti suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku pada diri individu yang biasanya terjadi setelah adanya interaksi dengan sumber belajar, sumber belajar ini dapat berupa buku, lingkungan, guru atau sesama teman. Menurut pendapat Nana Sudjana ( 1985 : 5) mengemukakan bahwa : “Belajar adalah sesuatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap, dan tingkahlaku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar”.
Adapun istilah mengajar adalah menciptakan situasi yang mampu merangsang siswa untuk belajar. Hal ini tidak harus berupa proses transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa. Aa Rooyakkers (1984:13) mengatakan bahwa : “Proses mengajar adalah menyampaikan bahan pelajaran yang berarti melaksanakan beberapa kegiatan. Kegiatan tersebut tidak ada gunanya jika tidak mengarah pada tujuan tertentu”
Kegiatan belajar mengajar sebagai salah satu bentuk pendidikan yang multi variable sudah tentu dalam proses penyelenggaraannya akan turut dipengaruhi serta melibatkan faktor-faktor lain.
Faktor tersebut menurut Muhibin Syah (1995 : 132) secara umum terbagi atas tiga macam berupa :
(1) Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa seperti halnya minat, bakat dan kemampuan.
(2) Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari lingkungan disekitar siswa seperti keadaan keluarga, latar belakang ekonomi dan kemampuan guru dalam mengajar.
(3) Faktor pendekatan mengajar, berupa upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
Dengan demikian, untuk menciptakan proses pembelajaran yang tepat dibutuhkan suatu formula bentuk pembelajaran yang utuh dan tentu saja menyeluruh, dalam arti proses pembelajaran melibatkan aktivitas siswa. Jadi pada hakekatnya, belajar adalah wujud keaktifan siswa walaupun derajatnya tidak sama antara siswa satu dengan yang lainnya dalam suatu proses belajar mengajar di kelas. Tetapi terdapat banyak keaktifan yang tak dapat dilihat dengan mata atau tak dapat diamati, misalnya menggunakan hasanah ilmu pengetahuannya untuk memecahkan masalah, memilih teorama-teorama untuk membuktikan proposisi, melakukan asimilasi dan atau akomodasi untuk memperoleh ilmu pengetahuan baru. Jadi yang dimaksud siswa belajar secara aktif adalah belajar dengan melibatkan keaktifan mental walaupun dalam banyak hal diperlukan keaktifan fisik.
Setelah berakhirnya proses pembelajaran biasanya diperoleh hasil belajar yang merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Dari sisi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan puncak proses belajar (Dimyati, 1999 : 3).
Sementara itu, Ahmadi (1984 : 35) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam suatu usaha, dalam hal ini usaha hasil belajar berupa perwujudan prestasi belajar siswa yang dapat dilihat pada nilai setiap mengikuti tes.
Menurut Sudjana (1999 : 25), hasil belajar pada dasarnya adalah perubahan tingkah laku atau keterampilan yang berupa pengetahuan, pemahaman, sikap dan aspek lain lewat serangkaian kegiatan membaca, mengamati, mendengar, meniru, menulis, dan lain sebagainya, sebagai bentuk pengalaman individu dengan lingkungan. Hasil belajar dipengaruhi 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a) Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa)
Faktor ini meliputi faktor fisiologis maupun psikologis. Faktor fisiologis antara lain: cacat badan, kesehatan dan sebagainya. Faktor psikologis antara lain berupa motivasi, minat, reaksi, konsentrasi, organisasi, repetisi, komprehensif, dan sebagainya.
b) Faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa)
Faktor ini datangnya dari luar diri siswa, faktor ini melipui faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketersediaan sarana dan prasarana atau adanya laboratorium.
Hasil belajar dapat digolongkan pada hasil yang bersifat penguasaan sesaat dan penguasaan berkelanjutan. Penguasaan sesaat contohnya pengetahuan tentang fakta, teori, istilah-istilah, pendapat dan sebagainya. Hasil belajar yang bersifat berkelanjutan harus dilakukan terus menerus dalam hampir setiap kegiatan belajar. Penguasaan berkelanjutan misalnya keterampilan tertentu dalam mengolah suatu produk, menyelesaikan perhitungan dan sebagainya.
Agar hasil belajar yang dicapai oleh siswa tinggi dan berkualitas, tujuan pengajaran yang dicapai juga tinggi, sangat dipengaruhi oleh proses interaksi antara guru dan siswa. Interaksi antara guru dan siswa akan baik bila komunikasi antara guru dan siswa juga berjalan dengan baik.
Kemudian untuk mengukur hasil belajar dalam penentuan keberhasilan siswa dalam suatu proses pembelajaran yang sering digunakan adalah berupa tes hasil belajar. Tes hasil belajar disusun berdasarkan tujuan penggunaan tes itu sendiri, misalnya dalam bentuk pretes dan postes. Pretes adalah tes yang diberikan sebelum suatu pelajaran dimulai yang bertujuan untuk mengetahui sejauhmana siswa telah menguasai bahan yang akan diberikan. Sedangkan postes adalah tes yang diberikan sesudah suatu pelajaran selesai diajarkan, tujuannya adalah untuk mengetahui sejauhmana siswa tersebut telah menguasai bahan yang telah diajarkan. Perbedaan hasil kedua jenis tes ini akan ditentukan oleh kualitas pembelajarannya. Jika proses pembelajaran baik maka pengaruhnya ialah terdapat perbedaan yang besar antara postes dengan pretes. Pertanyaan-pertanyaan pada pretes harus dibuat sama dengan pertanyaan-pertanyaan pada postes, supaya kedua hasil tes ini dapat dibandingkan.
B. Motivasi Belajar
Menurut Tita Rosita (1995 : 102) “Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya”.
Agar pembelajaran menjadi lebih berkualitas maka guru harus dapat membangkitkan motivasi siswa untuk belajar, sebab jika tidak ada dorongan dalam diri siswa untuk belajar, maka proses pembelajaran tidak akan efektif. Siswa yang termotivasi belajar akan berpartisipasi secara aktif dalam pelajaran yang berlangsung tanpa rasa terpaksa, tetapi secara sukarela atas inisiatif sendiri. Sebagai akibat dari hal ini maka hasil belajar yang dicapai akan lebih lama diserap, karena dengan adanya motivasi belajar tersebut maka dorongan dalam diri siswa akan terpenuhi; dan siswa akan merasa puas dengan hasil belajar yang dirasakan sebagai pemenuhan kebutuhan.
Dalam kegiatan belajar di kelas ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan yaitu: 1) kemana siswa menuju pada akhir kegiatan, 2) bagaimana caranya agar siswa tiba pada sasaran yang dituju, 3) bagaimana agar dapat diketahui apakah sasaran yang dituju itu sudah tercapai atau belum. Agar melalui ketiga hal tersebut guru harus menciptakan kondisi yang dapat merangsang timbulnya motivasi belajar siswa.
Menurut Ratna Wilis Dahar (1985 : 8) “Motivasi berfungsi mengikat perhatian siswa, menggiatkan semangat belajar, menyediakan kondisi yang optimal untuk belajar”. Oleh karena itu maka guru harus membangkitkan motivasi belajar siswa terlebih dahulu sebelum proses pembelajaran dimulai. Selanjutnya Ratna Wilis Dahar (1985 : 8) mengemukakan bahwa Motivasi juga dapat berfungsi untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, khususnya untuk menemukan jalan untuk mencapai tujuan belajar. Dalam hal ini diharapkan siswa dapat menyelesaikan tugas yang diberikan dalam kelompoknya mengenai materi pelajaran yang dipelajarinya.
Berdasarkan penyebab timbulnya, ada dua jenis motivasi; yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi instrinsik. Motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang timbul dari luar diri individu, baik yang disebabkan oleh orang lain maupun oleh keadaan alam dan lingkungan. Seperti keluarga, masyarakat, sekolah. Motivasi instrinsik yaitu motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa tekanan dari luar.
Menurut Ratna Wilis Dahar (1985 : 13) “Motivasi instrinsik jauh lebih kuat dari pada motivasi ekstrinsik, karena timbulnya motivasi instrinsik ini sepenuhnya disadari oleh individu yang terlibat, tanpa desakan atau dorongan apapun”. Motivasi instrinsik dapat mengubah sikap seseorang dari malas menjadi giat belajar. Motivasi ekstrinsik dapat membantu timbulnya motivasi instrinsik, yang berpengaruh lebih kuat terhadap keberhasilan belajar.
Kemungkinan penyebab rendahnya motivasi belajar siswa diantaranya, siswa beranggapan bahwa mata pelajaran IPA itu sulit. kemungkinan lainnya adalah model pembelajaran yang digunakan masih berorientasi pada guru sehingga siswa belum terlibat aktif secara maksimal dalam proses pembelajaran, oleh karena itu maka perlu upaya untuk membangkitkan motivasi belajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPA agar hasil pembelajaran menjadi bermakna perlu menggunakan pendekatan yang sesuai, antara lain dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning).
C. Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Menurut Anita Lie (2004 : 29), “Model pembelajaran cooperative learning tidak sama dengan sekedar belajar kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran cooperative learning yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan”.
Penerapan pembelajaran kooperatif akan memberikan hasil yang efektif kalau memperhatikan dua prinsip inti berikut. Yang pertama adalah adanya saling ketergantungan yang positif. Semua anggota dalam kelompok saling bergantung kepada anggota lain dalam mencapai tujuan kelompok, misalnya menyelesaikan tugas dari guru. Prinsip yang kedua adalah tanggungjawab pribadi (individual accountability). Di sini setiap anggota kelompok harus memiliki kontribusi aktif dalam bekerja sama.
D. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw ( Model Tim Ahli )
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya. Dengan demikian, jigsaw juga dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Menurut Anita Lie (2004 : 69), “siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi”.
Para anggota dari kelompok yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lian tentang topik pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompoknya apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Langkah-langkah Jigsaw adalah sebagai berikut :
1) Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok. Tiap kelompok beranggotakan 4 sampai dengan 6 orang. Sebaiknya kelompok terdiri atas siswa dengan beragam latar belakang, misalnya dari segi prestasi, jenis kelamin, suku, agama, status sosial dan lain-lain. Kelompok ini disebut kelompok asal.
2) Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3) Setiap siswa yang mendapat sub topik yang sama berkumpul membentuk tim ahli. Tim ahli membahas sub topik masing-masing dan menjadi ahli dalam topik itu.
4) Setelah selesai berdiskusi dalam tim ahli, anggota kembali ke kelompok asal masing-masing. Kemudian secara bergantian, tiap siswa yang telah menjadi ahli mengajar teman satu tim mereka tentang sub topik yang mereka kuasai.
5) Kelompok asal mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, atau membuat rangkuman. Guru bisa juga memberikan tes pada kelompok. Tapi pada saat mengerjakan tes siswa tidak boleh bekerja sama.
Bagan pengelolaan siswa dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw :
I
II
Keterangan :
I : Kelompok asal
II : Kelompok ahli
E. Gambaran Umum Konsep Energi dan Usaha
Kompetensi dasar yang harus disampaikan pada konsep energi dan usaha yang tercantum dalam standar isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di kelas VIII semester genap adalah : Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip usaha dan energi serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja atau usaha. Energi merupakan besaran skalar, energi bersifat kekal yang berarti tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tetapi energi hanya dapat berubah dari bentuk energi yang satu ke bentuk yang lain.
1). Bentuk-bentuk Energi
Beberapa bentuk energi yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, antara lain energi kimia, energi kalor, energi bunyi, energi cahaya, energi listrik, energi nuklir, dan energi mekanik.
2). Perubahan energi (Konversi Energi).
Konversi energi adalah perubahan suatu bentuk energi ke bentuk energi lain. Alat atau benda yang melakukan konversi energi disebut converter.
3). Hukum Kekekalan Energi
Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi hanya dapat berubah bentuk dari energi yang satu ke energi yang lain.
4). Sumber-sumber Energi.
Sumber energi ada yang dapat diperbarui dan ada yang tidak dapat diperbarui. Sumber energi yang tidak dapat diperbarui ialah sumber energi yang jika sudah habis tidak dapat diadakan lagi. Sumber energi yang dapat diperbarui ialah sumber energi yang jika sudah habis, dapat diadakan kembali.
5). Usaha
Usaha (W) adalah hasil kali antara gaya dengan perpindahan yang searah gaya. Benda dikatakan melakukan usaha jika ada gaya (F) yang bekerja dan ada perpindahan (S).
Usaha dirumuskan W = F X S
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) atau dalam bahasa Inggris disebut Classroom Action Research ( CAR ). Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan hasil belajar siswa yang berkaitan dengan proses pembelajaran di kelas, khususnya pada pemahaman konsep energi dan konsep usaha dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw . Langkah-langkah yang ditempuh mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan penelitian akan dijabarkan dalam uraian berikut ini.
A. Setting Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2010-2011 di SMP Negeri 4 Maja mulai dari bulan Januari sampai dengan Maret sebanyak 4 kali pertemuan yang dibagi menjadi 2 siklus. Siklus I sebanyak 2 kali pertemuan dan siklus II sebanyak 2 kali pertemuan. Jumlah jam pelajaran IPA dalam satu minggu adalah 4 jam pelajaran dimana satu jam pelajaran waktunya 40 menit.
Subjek yang diteliti adalah siswa kelas VIII sebanyak 40 siswa. Peneliti mengambil subjek siswa kelas VIII E mengingat karakteristiknya cenderung lebih pasif dibandingkan kelas lain dan berdasarkan dari hasil belajar pada konsep materi sebelumnya masih dianggap relatif rendah. .
B. Prosedur Pelaksanaan Tindakan Kelas
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), adapun tahapan yang akan dilakukan dalam PTK ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Kurt Lewin seperti disebutkan dalam Dikdasmen (2003:18) bahwa tahap-tahap tersebut atau biasa disebut siklus (putaran) terdiri dari empat komponen yang meliputi : (a) perencanaan (planning), (b) aksi/tindakan (acting), (c) observasi (observing), (d) refleksi (reflecting).
Prosedur penelitian tindakan kelas ini secara garis besar dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
Tabel 1 : Siklus Kegiatan Penelitian
Siklus I Perencanaan • Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dilaksanakan.
• Menentukan pokok bahasan
• Mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
• Menyiapkan sumber belajar seperti buku
• Mengembangkan format evaluasi
Tindakan • Melaksanakan KBM yang mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disiapkan.
• Melakukan evaluasi dalam bentuk tes kemampuan pemahaman konsep yang dipelajari.
Pengamatan Melakukan observasi dengan menggunakan format observasi
Refleksi • Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi efektifitas waktu yang telah dilaksanakan.
• Membahas hasil tindakan.
• Memperbaiki pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan yang belum mencapai sasaran.
• Evaluasi tindakan.
Indikator keberhasilan siklus I • Instrument-instrumen yang telah disiapkan pada siklus I dapat dilaksanakan semua
• Siswa mampu melaksanakan KBM dengan aktifitas yang tinggi.
• Siswa mampu menunjukan bentuk-bentuk energi dan contohnya dalam kehidupan sehari-hari.
Siklus II Perencanaan • Identifikasi masalah dan penetapan alternatife pemecahan masalah
• Pengembangan program tindakan II
Tidakan • Pelaksanaan program tindakan II
Pengamatan • Pengumpulan data tindakan II
Refleksi • Evaluasi tindakan II
Indicator keberhasilan siklus II • Instrument-instrumen yang telah disiapkan pada siklus II dapat terlaksanakan semua
• Aktifitas siswa dalam KBM meningkat.
• Motivasi siswa dalam KBM meningkat
• Hampir 100 % pencapaian hasil belajar menunjukan peningkatan.
C. Data dan Teknik Pengumpulan Data
1. Data
Sumber data penelitian ini adalah siswa, sedangkan jenis data yang didapatkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif yang meliputi :
• Data hasil pretes dan postes
• Hasil observasi terhadap proses Kegiatan Belajar-Mengajar
• Jawaban angket
• Jurnal harian/catatan lapangan
• Foto kegiatan
2 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, angket, pretes, dan postes pada tiap siklus dan dilengkapi jurnal harian (catatan harian).
a. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dari observasi tersebut dapat dilihat peningkatan aktivitas belajar yang meliputi frekuensi aktivitas dan peningkatan kerjasama antar siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.
b. Angket
Angket digunakan untuk melihat motivasi siswa dari pembelajaran yang telah dilakukan, dimana angket adalah merupakan tanggapan dari seluruh siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan, bermanfaat atau dapat dirasakan oleh siswa dalam rangka meningkatkan aktivitas dan hasil belajar.
c. Jurnal Harian (Catatan Harian)
Seluruh kegiatan dalam proses pembelajaran tidak semuanya tercantum dalam lembar observasi. Oleh karena itu di lengkapi lagi dengan jurnal harian / catatan harian yang merupakan alat bantu perekam yang paling sederhana yang memuat perilaku khusus siswa maupun permasalahan yang dapat di jadikan pertimbangan bagi pelaksanaan langkah-langkah berikutnya.
d. Foto
Untuk merekam peristiwa penting seperti aspek kegiatan kelas, aktivitas kelas atau untuk memperjelas data dan hasil observasi dari penelitian ini, di gunakan foto. Foto ini juga dapat membantu dalam evaluasi tentang data – data lainnya.
e. Data Tes Hasil Belajar
Data tes hasil belajar berupa data kuantitatif yang di peroleh melalui pretes sebelum diadakan tindakan pada masing-masing siklus dan postes setelah berakhirnya setiap siklus. Hal ini dimaksudkan agar setiap berakhirnya disetiap siklus dapat diketahui kemajuan dan perkembangan yang didapat oleh siswa melalui pembelajaran pemahaman materi pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Data hasil tes tersebut bisa di jadikan acuan, pertimbangan, bahan refleksi, untuk merencanakan pelaksanaan pada siklus berikutnya.
3. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Data Observasi
Data obsevasi ini di ambil melalui pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator sebagai observer, yang dilakukan pada saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran di kelas. Pengolahannya dengan menggunakan rumus :
A
− X 100% , dimana A = Jumlah siswa yang melakukan
B kegiatan
B = Jumlah siswa keseluruhan
b. Data Angket
Menganalisis data hasil angket dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Jumlah responden actual
−−−−−−−−−−−−−−−−−−− X 100 %
Jumlah seluruh responden
c. Data Tes Hasil Belajar
Peneliti menentukan nilai setiap siswa dari hasil pretes dan postes masing-masing siklus dengan pemberian nilai skala 100, dimana KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) untuk pelajaran IPA adalah 60. Kemudian menentukan banyaknya siswa yang mendapat nilai diatas atau sama dengan 60 (siswa yang sudah tuntas). Banyaknya siswa yang mendapat nilai ≥ 60 di hitung prosentasenya dengan menggunakan rumus :
Jumlah siswa yang tuntas
X 100 %
Jumlah seluruh siswa
Sementara skor nilai rata-rata diperoleh dengan cara menjumlahkan skor nilai seluruh siswa dibagi dengan jumlah siswa.
d. Data Jurnal Harian
Peneliti sebagai orang yang terlibat secara aktif dalam pelaksanaan tindakan, dan juga guru lain sebagai observer menyimpulkan dan mendeskripsikan kejadian selama penelitian berlangsung baik pada siklus I maupun siklus II.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini berupaya untuk mengungkapkan hasil implementasi dari proses pembelajaran dengan model kooperatif learning tipe jigsaw dalam rangka meningkatkan motivasi serta aktivitas siswa dan hasil belajar yang diperoleh siswa.
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Di awal setiap siklus diadakan pretes I dan pretes II, demikian pula diakhir setiap siklus diadakan postes yaitu postes I dan postes II setelah proses pembelajaran berakhir atau setelah diberi tindakan.
Hasil penelitian dan beberapa temuan saat pelaksanaan berlangsung beserta pembahasannya akan diuraikan pada masing-masing siklus berikut ini :
A. Siklus I.
1. Aktivitas Belajar
Pada pertemuan pertama di siklus I, yaitu hari Senin tanggal 9 Februari 2011, dilakukan pretes siklus I, setelah melakukan pretes siswa berada pada tatanan kelompok masing-masing yang terdiri dari enam kelompok yang beranggotakan empat orang setiap kelompok dan satu kelompok terdiri dari lima orang, kemudian guru membagikan LKS kepada setiap siswa dalam kelompok tersebut, setelah siswa mendapatkan bagian LKS masing-masing siswa bergabung dalam kelompok ahli sesuai dengan LKS yang akan dikerjakannya, terbagi dalam empat kelompok ahli untuk melakukan diskusi.
Dalam melaksanakan pembelajaran dengan diskusi di kelompok ahli peneliti dibantu oleh observer mengamati beberapa aktivitas siswa, diantaranya kerjasama dalam kelompok, bertanya, mengemukakan pendapat pada saat berlangsungnya diskusi kelompok dan membuat rangkuman yang ditulis dalam buku catatan masing-masing. Pada pertemuan pertama ini belum nampak adanya aktivitas siswa yang mencolok, namun siswa lebih cenderung untuk memperhatikan penjelasan temannya yang dianggap lebih pandai dari dirinya. Berdasar data hasil observasi, diperoleh 12 orang siswa (30 %) yang bekerjasama, 8 orang siswa (20 %) yang bertanya, 10 orang siswa (25 %) yang mengemukakan pendapat dalam diskusi dan 10 orang siswa (25%) yang membuat rangkuman. Prosentase aktivitas belajar secara keseluruhan diperoleh sebesar 30 %. Data tersebut diperoleh melalui lembar observasi kegiatan siswa.
Pada pertemuan kedua di siklus I yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 17 Februari 2011 guru meminta siswa untuk berada pada tatanan kelompok asal, kemudian secara bergiliran siswa diminta untuk menjelaskan hasil diskusi pada kelompok ahli kepada temannya di kelompok asal. Pada pertemuan kedua ini siswa sudah mulai terlihat aktif. Aktivitas kelas pada pertemuan kedua ini sudah ada peningkatan dibandingkan pertemuan pertama. Aktivitas kerjasama 12 orang siswa (30 %), bertanya 8 orang siswa (20 %), aktivitas yang mengemukakan pendapat 12 orang siswa (30 %), dan yang membuat rangkuman 12 orang siswa (40 %). Prosentase aktivitas kelas secara keseluruhan yaitu 70 %. Dibadingkan dengan pertemuan pertama, sudah ada peningkatan aktivitas kelas sebesar 30 %.
2. Hasil Belajar.
Pada awal kegiatan penelitian, sebelum pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama siklus I, tepatnya hari Rabu, 9 Februari 2011 , siswa diberikan tes awal berupa pretes I yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal sebelum diadakan proses pembelajaran tentang energi dan perubuhannya. Hasil pretes I ternyata diperoleh skor nilai rata-rata 44,20 dan prosentase ketuntasan belajar sebesar 25 % yaitu hanya 10 orang siswa yang sudah tuntas dari 40 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman konsep energi dan perubahannya secara umum masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal yang telah ditetapkan yaitu 60. Walaupun demikian skor nilai ini masih dianggap wajar, karena memang belum diajarkan (belum dilakukan proses pembelajaran di kelas). Waktu yang digunakan untuk pretes I adalah 30 menit.
Berdasarkan hasil pretes I yang diperoleh, yaitu ketuntasan belajar hanya 25 %, maka dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam melakukan suatu upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep energi dan perubahannya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
Setelah proses pembelajaran yang berlangsung di siklus I, sebanyak 2 kali pertemuan maka untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar setelah diberi tindakan, siswa diberikan postes I yang dilaksanakan hari Senin tanggal 14 Februari 2011. Berdasarkan hasil dari postes I diperoleh skor nilai rata-rata 64,60 dan prosentase ketuntasan belajar mencapai 75 %, yaitu sebanyak 30 siswa yang sudah tuntas, dan hanya 10 orang siswa yang belum tuntas.
3. Refleksi
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari lembar observasi di siklus I, bahwa setelah proses pembelajaran yang dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan ( setelah diberi tindakan ), ternyata penerapan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw konsep energi dan perubahannya memberikan hasil yang cukup memuaskan sesuai dengan target yang diharapkan. Hal ini dapat dikatakan adanya peningkatan prosentase aktivitas kelas. Secara keseluruhan aktivitas belajar di siklus I meningkat dari 30 % menjadi 70 %. Dalam hal ini aktivitas kelas sudah termasuk kategori aktif, karena kriteria keaktifan kelas dikatakan cukup apabila proses aktivitas kelas berkisar antara 50 – 75%. Namun ada beberapa jenis aktivitas siswa yang masih dianggap rendah, yaitu aktivitas dalam hal aktivitas mengemukakan pendapat.
Hasil prediksi diperkirakan bahwa siswa masih belum menguasai betul materi pelajaran yang sedang dibahas, sehingga timbul rasa tidak percaya diri atau suatu keragu-raguan untuk mengemukakan pendapatnya sendiri ataupun menyanggah pendapat orang lain. Oleh karena itu nampaknya perlu ada pendekatan guru terhadap siswa untuk bisa merangsang atau menumbuhkan rasa percaya diri bagi siswa dengan cara belajar yang maksimal dan menjelaskan bahwa hal ini masih sedang taraf belajar. Siswa juga perlu dilatih keberanian mentalnya untuk mau mencoba aktif dalam hal mengemukakan pendapat, ataupun ada keberanian menyanggah, apabila hal itu tidak sesuai dengan konsep yang dia yakini (misalkan dari buku sumber).
Adapun hasil belajar yang diperoleh melalui postes I, setelah berakhirnya pembelajaran pada pertemuan di siklus I, diperoleh skor nilai rata-rata kelas sebesar 64,60 dengan prosentase ketuntasan belajar sebesar 75 %. Apabila dibandingkan dengan hasil pretes I, terdapat peningkatan nilai rata-rata kelas sebesar 20,40 dan peningkatan prosestase ketuntasan belajar sebesar 48 %. Peningkatan ini cukup besar dan bisa dikatakan memenuhi kategori berhasil, karena siswa yang mencapai nilai diatas 60 (diatas KKM yang telah ditetapkan) sudah lebih dari 75%. Dengan demikian bahwa pengaruh proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw cukup besar sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan pada akhirnya hasil belajarnyapun meningkat. Berbeda dengan hasil belajar yang diperoleh sebelumnya selalu dibawah target (dibawah KKM) dimana proses pembelajarannya hanya penjelasan langsung dari guru melalui papan tulis. Dengan demikian hal ini perlu dipertahankan untuk proses pembelajaran pada pertemuan selanjutnya di siklus II.
B. Siklus II
1. Aktivitas Belajar
Pada pertemuan pertama di siklus II, yaitu hari Senin tanggal 21 Februari 2011 dilanjutkan kembali proses pembelajaran mengenai konsep usaha dan daya. Prosentase aktivitas siswa secara keseluruhan meningkat dari pertemuan sebelumnya yaitu 68 % menjadi 72 %. Peningkatannya sebesar 4 %. Pada pertemuan ini, yang bekerjasama sebanyak 12 orang siswa (48 %), bertanya 9 orang siswa (36 %), yang mengemukakan pendapat 11 orang siswa (44 %) dan yang membuat rangkuman sebanyak 15 orang siswa (60 %).
Kemudian dilanjutkan dengan petemuan kedua di siklus II, sekaligus sebagai pertemuan terakhir dari seluruh aktivitas penelitian ini, yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 23 Februari 2011. Ternyata suasana belajar semakin terlihat kondusif, karena hampir seluruhnya siswa terlibat dalam aktivitas pembelajaran baik yang bertanya, yang menjawab, yang menyanggah ataupun yang mengemukakan pendapat. Hasil yang diperoleh dari lembar observasi bahwa yang bekerjasama yaitu sebanyak 13 orang siswa (52 %) yang bertanya dan 11 orang siswa (44 %) yang mengemukakan pendapat 12 orang siswa (48 %) dan yang membuat rangkuman sebanyak 19 orang siswa (76 %). Prosentase aktivitas kelas keseluruhannya mencapai 88 %.
2. Hasil Belajar
Pretes II dilakukan sebelum pelaksanaan pembelajaran di siklus II. Konsep yang dipelajari di siklus II ini adalah usaha dan daya. Hasil yang diperoleh dari pretes II memberikan skor nilai rata-rata kelas sebesar 50,60 dan ketuntasan belajar siswa mencapai 48 %, yaitu 12 orang siswa yang sudah tuntas dari 40 orang siswa. Setelah pembelajaran dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan, diperoleh hasil dari postes II dengan ketuntasan belajar sebesar 84 % dan nilai rata – rata sebesar 72,00. Kenaikan dari pretes ke postes sebesar 36 % dan kenaikan nilai rata – ratanya sebesar 21,40.
3. Motivasi
Setelah proses pembelajaran ditempuh sebanyak 4 kali pertemuan mulai dari siklus I sampai siklus II, siswa diberikan angket isian untuk mengetahui motivasi siswa dalam model pembelajaran tipe jigsaw, karena dengan adanya motivasi belajar tersebut akan ada dorongan belajar dalam diri siswa. Dari angket yang diberikan pada siswa diantaranya ditanyakan merasa senang kegiatan belajar IPA, belajar IPA dengan diskusi kelompok menyenangkan, merasa senang belajar dari teman, merasa lebih mudah memahami penjelasan dari teman dan perlunya kegiatan seperti yang dilakukan dikembangkan, dengan opsi pilihan setuju, ragu-ragu dan tidak setuju.
Berdasar hasil angket yang diberikan kepada siswa diperoleh hasil siswa yang senang dengan kegiatan belajar IPA 19 orang siswa setuju (76 %), 5 orang siswa ragu-ragu (20 %) dan 1 orang siswa tidak setuju (4 %), sedangkan belajar dengan diskusi kelompok 23 orang siswa setuju (92 %), 2 orang siswa ragu-ragu (8 %), yang merasa senang belajar dari penjelasan teman 23 orang siswa setuju (92 %), 2 orang siswa ragu-ragu (8 %), yang merasa mudah memahami penjelasan teman 20 orang siswa setuju (80 %), 3 orang siswa ragu-ragu (12 %), dan 2 orang siswa tidak setuju (8 %), dan yang berpendapat perlu dikembangkan sebanyak 21 orang siswa setuju (84 %), sedangkan 4 orang siswa ragu-ragu (16 %).
4. Refleksi
Setelah proses pembelajaran ditempuh sebanyak 4 kali pertemuan mulai dari siklus I sampai siklus II maka berdasarkan analisis data kegiatan siswa diperoleh peningkatan aktivitas siswa yang cukup berarti. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2 : Prosentase Aktivitas Kelas
Siklus Siklus I Siklus II
Pertemuan 1 2 1 2
Prosen Aktivitas Kelas (%) 36 68 72 88
Peningkatan prosentase aktivitas kelas ini, ternyata bisa terwujud apabila proses pembelajarannya diperbaiki dan disempurnakan.
Adapun hasil belajar (ketuntasan belajar dan skor nilai rata-rata) yang diperoleh setelah proses pembelajaran di siklus I dan siklus II melalui postes I dan postes II dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3 : Prosentase Ketuntasan Belajar
Siklus Pretes Postes Perbedaan
I 28 % 76 % 48 %
II 48 % 84 % 36 %
Tabel 4 : Skor Nilai Rata-rata Kelas
Siklus Skor Nilai Rata-rata
Pretes Skor Nilai Rata-rata
Postes Perbedaan
I 44,20 64,60 20,40
II 50,60 72,00 21,40
Berdasarkan data tabel tersebut di atas, secara umum dikatakan bahwa hasil belajar meningkat. Kenyataan ini bisa dijelaskan bahwa proses pembelajaran pada konsep energi dan perubahannya serta usaha dan daya dengan menggunakan model pembelajaran tipe jigsaw menarik bagi siswa, sehingga siswa termotivasi untuk mempelajari materi pembelajaran secara sungguh-sungguh dengan belajar sendiri disamping memperhatikan penjelasan temannya dan penjelasan guru yang memberikan bimbingan dalam diskusi.
Hal ini juga terlihat dari hasil angket siswa yang dapat dilihat pada tabel angket siswa berikut ini :
Tabel 5 : Motivasi Siswa
No Pernyataan Jumlah Responden Prosentase Pernyataan Responden
S RR TS % % %
1 Saya senang dengan kegiatan belajar IPA 19 5 1 76 20 4
2 Belajar IPA dengan diskusi kelompok menyenangkan 23 2 - 92 8 -
3 Saya merasa senang belajar dari penjelasan teman 23 2 - 92 8 -
4 Saya merasa mudah memahami penjelasan dari teman 20 3 2 80 12 8
5 Menurut saya kegiatan belajar ini perlu dikembangkan 21 4 - 84 16 -
Jumlah 424 64 12
Rata-rata Prosentase (%) 85 13 2
Dari tabel diatas terlihat motivasi yang dimiliki siswa dengan belajar tipe jigsaw sangat menyenangkan, maka pembelajaran akan dirasakan lebih efektif dan efisien dalam menyampaikan materi pelajaran atau mengajarkannya, sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif.
Berdasarkan uraian, bahwa proses pembelajaran konsep energi dan usaha dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terdapat hubungan antara motivasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan hasil belajar setelah proses pembelajaran dilaksanakan. Jadi bisa dikatakan apabila siswa aktif pada saat diskusi membahas materi pembelajaran, baik dalam hal bertanya ataupun mengemukakan pendapat, maka berarti siswa sudah mengerti dan paham apa yang sedang dipelajarinya, sehingga hasil belajarnya pun cukup memuaskan. Dengan demikian apabila pemahaman konsep sudah baik/meningkat, maka bisa dipastikan hasil belajarnya pun baik pula / meningkat.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan analisis, temuan dan pembahasan yang diuraikan pada Bab IV tentang proses pembelajaran pada konsep energi dan usaha dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilihat dari aktivitas belajar siswa dan angket siswa. Di siklus I dari 36 % menjadi 68 %. Di siklus II dari 72 % menjadi 88 %. Dan dari hasil angket siswa rata-rata 85 % setuju.
2. Proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar konsep energi dan usaha. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari ketuntasan belajar siswa. Ternyata di siklus I ada peningkatan ketuntasan belajar sebesar 48 % , yaitu dari 28 % menjadi 76 %. Dan di siklus II meningkat sebesar 36 % , yaitu dari 48 % menjadi 84 %.
B. Saran
Saran-saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
1. Guru hendaknya mengadakan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, agar siswa lebih termotivasi minat belajarnya sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.
2. Siswa hendaknya lebih bergairah dan lebih termotivasi serta lebih aktif dalam berpartisifasi dalam diskusi dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
3. Sekolah hendaknya lebih membantu menyediakan fasilitas sarana alat dan bahan untuk kegiatan proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. (1984), Didaktik Metodik, Semarang, C.V. Toha Putera
Anita Lie, (2004), Cooperative Learning, Jakarta, Grasindo.
Dimyati, (1999), Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, P.T. Rineka Cipta.
Mendiknas, (2006), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.
Muhibin Syah, (1995), Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Bandung, Remaja Rosdakarya
Ratna Wilis Dahar (1986), Interaksi Belajar Mengajar IPA, Jakarta, Universitas Terbuka, Depdikbud
Rooyakkers, A. (1984), Mengajar dengan Sukses, Bandung, Gramedia.
Sudjana, N. (1989), Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung, Sinar Baru.
Suhardjono, Azis Hoesein, dkk. (1996) Pedoman Penyusunan Karya Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Widyaiswara. Jakarta : Depdikbud, Dikdasmen.
Suhardjono, (2006), Laporan Penelitian Sebagai KTI, makalah pada pelatihan peningkatan mutu guru dalam pengembangan profesi di Pusdiklat Diknas Sawangan, Jakarta, Februari 2006.
Suharsimi Arikunto, Suhardjono dan Supardi (2006) , Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Bumi Aksara.
Tita Rosita, (1994), Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Universitas Terbuka, Depdikbud
DAFTAR HADIR
Kelas : VIII. P
Mata Pelajaran : IPA
Siklus : ………
Pertemuan ke : ……….
Tanggal : ……………………..
No Nama Tanda Tangan
Urut
1 ACEP ALIYUDIN 1
2 ACEP SAYFULLAH 2
3 AHMAD GAOS 3
4 AI AMALIAH 4
5 ANANG SURYANA 5
6 AONNILAH 6
7 ARIP SARIPUDIN 7
8 AZIS MUSLIM 8
9 BUDIMAN 9
10 DEWI LAELASARI 10
11 ELIN NURHASANAH 11
12 EPI NURAENI 12
13 ERIK SUBAGJA 13
14 ERIS ERIANA 14
15 EROS ROSTINI 15
16 FIKA OKTAVIA 16
17 FILA MAPALAH 17
18 GIN GIN GINANJAR 18
19 HAMZAH 19
20 HELDA SITI HELIDA 20
21 IIN INAYAH 21
22 IRPAN PADILAH 22
23 KISMAN HADINATA 23
24 MUHAMAD HIJAJ 24
25 NONO BURHANUDIN 25
26 PINI NURHAYATI 26
27 RIAN SOFYAN 27
28 RISMI LISNAWATI 28
29 SAMSUL RIZAL 29
30 SELIH SITI SOLIHAH 30
31 SINTA NURLAELI 31
32 SITI NURAINI ISNAWATI 32
33 SITI RATNA FAQJIAH 33
34 TITA HARTARTI 34
35 ULYA QONITATUN 35
36 YOPI PATUROHMAN 36
37 YULIANI 37
No Kegiatan Bulan
Januari Februari Maret
I II III IV I II III IV I II III IV
1 Penyusunan Proposal Penelitian
2 Konsultasi Dosen Pembimbing
3 Penyusunan instrument,skenario pembelajaran, soal
4 Pelaksanaan
A. Menyiapkan kelas dan perangkat pembelajaran
B. Melaksanakan tindakan siklus I
C. Konsultasi dosen pembimbing
D. Melaksanakan tindakan Siklus II
5 Penyusunan Laporan
6 Konsultasi dosen pembimbing
JADWAL PENELITIAN
SILABUS
Kelas : VIII
Mata Pelajaran : IPA
Semester : 2 (dua)
Standar Kompetensi : 5. Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam kehidupan sehari-hari
Kompetensi
Dasar Indikator Materi
Pokok/
Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Penilaian Alokasi
Waktu Sumber
Belajar
Teknik Bentuk
Instrumen Contoh
Instrumen
5.1 Mengidentifikasi jenis-jenis gaya, penjumlahan gaya dan pengaruhnya pada suatu benda yang dikenai gaya
• Melukiskan penjumlahan gaya dan selisih gaya-gaya segaris baik yang searah maupun berlawanan.
• Membedakan besar gaya gesekan pada berbagai permukaan yang berbeda kekasarannya yaitu pada permukaan benda yang licin, agak kasar, dan kasar
• Menunjukkan beberapa contoh adanya gaya gesekan yang menguntungkan dan gaya gesekan yang merugikan
• Membandingkan berat dan massa suatu benda Gaya • Memetakan gaya-gaya yang ada pada suatu benda
• Menentukan jenis-jenis gaya yang bekerja pada suatu benda
• Menghitung resultan gaya segaris yang searah
• Menghitung resultan gaya segaris yang berlawanan arah
• Melakukan percobaan gaya gesek pada permukaan yang kasar dan licin
• Merumuskan adanya gaya gesek yang menguntungkan dan merugikan dalam kehidupan sehari-hari
Mencari perbedaan berat dan masa menggunakan alat Tes tulis
Tes unjuk kerja
Tes tulis
Tes tulis Tes uraian
Uji petik kerja produk
Tes isian
Tes uraian Bila A memiliki gaya 10 N dan B 20 N yang arahnya sama, Hitung resultan gayanya ?
Lakukan percobaan tentang gaya gesek pada permukaan licin dan permukaan kasar lalu bandingkan hasil dari kedua percobaan tsb.
Sebutkan contoh gaya gesek yang menguntungkan dan yang merugikan dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah perbedaan berat dan massa suatu benda?
4 x 40’ Buku siswa, neraca lengan dan neraca pegas, LKS
5.2 Menerapkan hukum Newton untuk menjelaskan berbagai peristiwa dalam kehidupan sehari-hari
• Mendemonstrasikan hukum I Newton secara sederhana dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
• Mendemonstrasikan hukum II Newton dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
• Mendemonstrasikan hukum III Newton dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
Hukum
Newton • Melakukan percobaan hukum I, II, III Newton dengan menggunakan alat-alat.
• Mengaplikasikan hukum newton dalam kehidupan sehari-hari Tes unjuk kerja
Tes unjuk kerja
Tes tulis Uji petik kerja prosedur
Uji petik kerja prosedur
Tes uraian Lakukan percobaan tentang Hukum I Newton
Lakukan percobaan tentang hukum II Newton.
Berikan contoh penerapan hukum Newton dalam kehidupan sehari-hari 4x40’ Buku siswa, LKS, buku referensi
5.3 Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip “usaha dan energi” serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
• Menunjukkan bentuk-bentuk energi dan contohnya dalam kehidupan sehari-hari
• Mengaplikasikan konsep energi dan perubahannya dalam kehidupan sehari-hari
• Membedakan konsep energi kinetik dan energi potensial pada suatu benda yang bergerak
• Mengenalkan hukum kekekalan energi melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari
• Menjelaskan kaitan antara energi dan usaha
• Menunjukkan penerapan daya dalam kehidupan sehari-hari
Energi
Usaha • Studi pustaka untuk mendeskripsikan pengertian energi dan bentuk-bentuk energi
• Studi referensi untuk membadingkan pengertia energi kinetik dan energi pitensial
• Mencari informasi tentang hukum kekekalan energi
• Studi pustaka untuk menemukan hubungan antara daya, usaha dan kecepatan
Tes lisan
Tes tulis
Tes tulis
Tes tulis
Tes tulis
Tes tulis
Daftar pertanyaan
PG
Tes uraian
Tes uraian
Tes uraian
PG Apakah yang kamu ketahui tentang bentuk-bentuk energi ?
Jelaskan perbedaan antara energi kinetik dan energi potensial.
Jelaskan hukum kekekalan energi dan berikan contohnya dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah perbedaan antara energi dan usaha ?
8x40‘ Buku siswa, buku referensi, LKS
5.4 Melakukan percobaan tentang pesawat sederhana dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari • Menunjukkan penggunaan beberapa pesawat sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari misalnya tuas (pengungkit), katrol tunggal baik yang tetap maupun yang bergerak, bidang miring, dan roda gigi (gear)
• Menyelesaikan masalah secara kuantitatif sederhana yang berhubungan dengan pesawat sederhana • Melakukan percobaan tentang pesawat sederhana (Tuas, Katrol, bidang miring)
• Diskusi untuk memecahkan masalah yang berhubunan dengan pesawat sederhana
Tes unjuk kerja
Tes tulis Uji petik kerja prosedur dan produk
Isian Lakukan percobaan dengan menggunakan alat-alat untuk menemukan konsep pesawat sederhana
Untuk memudahkan melakukan pekerjaan digunakan ....
6x40’ Buku siswa, LKS, Alat-alat praktek
5.5 Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari • Menemukan hubungan antara gaya, tekanan, dan luas daerah yang dikenai gaya melalui percobaan
• Mengaplikasikan prinsip bejana berhubungan dalam kehidupan sehari-hari
• Mendeskripsikan hukum Pascal dan Hukum Archimedes melalui percobaan sederhana serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
• Menunjukkan beberapa produk teknologi dalam kehidupan sehari-hari sehubungan dengan konsep benda terapung, melayang dan tenggelam
• Mengaplikasikan konsep tekanan benda padat, cair, dan gas pada peristiwa alam yang relevan (dalam penyelesaian masalah sehari- hari) • Melakukan percobaan tentang tekanan sampai menemukan konsep tekanan
• Melakukan percobaan bejana berhubungan
• Melakukan percobaan tentang hukum pascal, hukum Archimides
• Mencari informasi melalui lingkungan alat-alat yang prinsip kerjanya berdasarkan hukum Pascal dan Hukum Archimides
• Studi lapangan untuk menemukan konsep tekanan Tes unjuk kerja
Tes tulis
Tes unjuk kerja
Tes tulis
Tes tulis Uji petik kerja prosedur dan produk
Tes isian
Uji petik kerja prosedur
Tes Uraian
Tes isian
Lakukan percobaan untuk menemukan konsep tekanan !
Sebutkan contoh peristiwa dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan prinsip bejana berhubungan.
Lakukan percobaan untuk menemukan konsep hukum Pascal dan Hukum archimides.
Kelompokkan alat-alat yang prinsip kerjanya berdasarkan hukum Pascal ?
Mengapa tanggul di tepi sungai pada bagian bawah dibuat agak lebih kuat dari pada bagian atas ?
8x 40’ Buku siswa, LKS, Alat-alat praktikum
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) 1
Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Pertama
Mata Pelajaran : IPA
Kelas/Semester : VIII / 2
Alokasi Waktu : 4 x 40 menit
Standar Kompetensi 5
Memahami peranan usaha, gaya dan energi dalam kehidupan sehari-hari
Kompetensi Dasar 5.3.
Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip usaha dan energi serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
A. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan studi pustaka siswa dapat:
1. Mendeskripsikan pengertian energi dalam besaran fisika
2. Menunjukkan bentuk-bentuk energi dalam kehidupan sehari-hari
3. Menyebutkan sumber energi dalam dalam kehidupan sehari-hari
4. Membandingkan sumber energi yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui
5. Membandingkan pengertian energi kinetik dan energi potensial
Melalui percobaan sederhana rangkaian listrik satu batu dan satu lampu, siswa dapat
6. Menunjukkan perubahan energi yang terjadi
7. Memberikan contoh perubahan energi dalam bentuk lain
8. Membedakan antara konversi energi dengan konventer energi
B. Materi Pembelajaran
Energi dan Perubahannya
C. Strategi Pembelajaran
1. Pendekatan : Pembelajaran Kontekstual
2. Metode : Eksperimen, Diskusi dan Informasi
3. Model Pembelajaran : Pembelajaran Langsung dan Pembelajaran Kooperatif
D. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan Pertama
1. Pretes
2. Kegiatan Pendahuluan
a. Prasarat Pengetahuan
- Menanyakan pengetahuan awal siswa tentang pelajaran minggu yang lalu, yaitu gerak dengan pertanyaan;
a. Apa yang dimaksud dengan gerak?
b. Motivasi
- Guru mendemonstrasikan mengangkat meja, lalu bertanya mengapa dapat mengangkat meja?
- Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Kegiatan Inti
a. Meminta siswa duduk dalam tatanan kelompok asal
b. Guru membagikan LKS
c. Menjelaskan tugas yang akan dikerjakan
d. Meminta siswa duduk dalam tatanan kelompok ahli untuk mendiskusikan LKS. dengan membaca buku paket IPA
e. Guru melakukan pembimbingan kerja siswa
f. Meminta siswa menggaris bawahi kata-kata yang penting, kemudian menuliskan dalam buku masing-masing
4. Kegiatan Penutup
Menugaskan siswa untuk menyimpulkan hasil kegiatan dan membuat rangkuman
Pertemuan Kedua
1. Kegiatan Pendahuluan
a. Prasarat Pengetahuan
- Menanyakan pengetahuan awal siswa tentang pelajaran yang lalu, yaitu energi dengan pertanyaan;
Apa yang dimaksud dengan energi ?
b. Motivasi
- Guru mendemonstrasikan benda dijatuhkan, lalu bertanya kecepatan benda semakin ke bawah?.
- Menyampaikan tujuan pembelajaran
2. Kegiatan Inti
a. Meminta siswa duduk dalam tatanan kelompok asal
b. Secara bergantian siswa menyampaikan hasil diskusi dalam tim ahli kepada temannya di kelompok asal
c. Melakukan diskusi dalam kelompok asal
d. Menyediakan waktu kepada kelompok yang meminta bimbingan
e. Melakukan pengecekan pemahaman siswa dalam pembelajaran kooperatif
3. Kegiatan Penutup
a. Meminta satu kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi mereka dan ditanggapi oleh kelompok lain.
b. Menyimpulkan bersama-sama hasil kegiatan pembelajaran kooperatif hari ini
c. Melakukan penilaian pembelajaran untuk mengetahui ketercapaian tujuan
d. Memberikan penghargaan kepada kelompok yang terbaik dalam pembelajaran kooperatif.
4. Mengadakan postes
E. Alat dan Bahan
- Batu Baterai - Saklar
- Lampu Baterai - kabel
- Bel Listrik
F. Sumber Belajar
1. Buku IPA SMP Kelas VIII : Sumarwan , dkk. 2007. Jakarta. Erlangga.
2. Buku-buku pelajaran IPA yang relevan
G. Penilaian
1. Teknik : Tes tertulis
2. Bentuk : Tes Pilihan Ganda, Tes uraian.
3. Instrumen Soal : Soal Pretes dan Postes
Mengetahui Majalengka, Februari 2011
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran IPA
Masturo Ad, S.Pd.,M.Pd. ADA ARMADA PAHLA, S.Pd., M.Pd.
NIP. 19650904 198903 1 009 NIP. 19700318 199903 1 008
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) 2
Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Pertama
Mata Pelajaran : IPA
Kelas/Semester : VIII / 2
Alokasi Waktu : 4 x 40 menit
Standar Kompetensi 5
Memahami peranan usaha, gaya dan energi dalam kehidupan sehari-hari
Kompetensi Dasar 5.3.
Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip usaha dan energi serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
D. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan studi pustaka siswa dapat:
a. Menjelaskan pengertian usaha
b. Menjelaskan kaitan antara energi dan usaha
c. Menjelaskan bagaimana benda dikatakan melakukan usaha
d. Menemukan hubunngan antara gaya dan perpindahan
e. Memecahkan masalah tentang hubungan antara gaya, usaha dan kecepatan
f. Menunjukan penerapan daya dalam kehidupan sehari-hari
E. Materi Pembelajaran
Usaha dan Daya
F. Strategi Pembelajaran
1. Pendekatan : Pembelajaran Kontekstual
2. Metode : Diskusi dan Informasi
3. Model Pembelajaran : Pembelajaran Langsung dan Pembelajaran Kooperatif
G. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan Pertama
1. Melakukan pretes.
2. Kegiatan Pendahuluan
a. Prasarat Pengetahuan
- Menanyakan pengetahuan awal siswa tentang pelajaran minggu yang lalu, yaitu energi dan perubahannya;
Apa yang dimaksud dengan energi ?
b. Motivasi
- Guru mendemonstrasikan mengangkat kursi, lalu bertanya mengapa dapat mengangkat kursi?
- Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Kegiatan Inti
a. Meminta siswa duduk dalam tatanan kelompok asal.
b. Guru membagikan LKS
c. Menjelaskan tugas yang akan dikerjakan
d. Meminta siswa duduk dalam tatanan kelompok ahli untuk mendiskusikan LKS dengan membaca buku paket IPA
e. Guru melakukan pembimbingan kerja siswa
f. Meminta siswa menuliskan kata-kata yang penting dalam buku masing-masing
4. Kegiatan Penutup
Menugaskan siswa untuk menyimpulkan hasil kegiatan dan membuat rangkuman
Pertemuan Kedua
1. Kegiatan Pendahuluan
a. Prasarat Pengetahuan
- Menanyakan pengetahuan awal siswa tentang hasil diskusi pelajaran minggu yang lalu, yaitu usaha dengan pertanyaan;
Apa yang dimaksud dengan usaha ?
b. Motivasi
- Guru mendemonstrasikan mendorong meja, lalu bertanya mengapa meja berpindah?.
- Menyampaikan tujuan pembelajaran
2. Kegiatan Inti
a. Meminta siswa duduk dalam tatanan kelompok asal
b. Secara bergantian siswa menyampaikan hasil diskusi dari kelompok ahli kepada temannya dikelompok asal
c. Melakukan diskusi dalam tatanan kelompok asal untuk menanggapi hasil diskusi di kelompok ahli
d. Guru menyediakan waktu kepada kelompok yang meminta bimbingan
e. Melakukan pengecekan pemahaman siswa dalam pembelajaran kooperatif
3. Kegiatan Penutup
a. Meminta satu kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi mereka dan ditanggapi oleh kelompok lain.
b. Menyimpulkan bersama-sama hasil kegiatan pembelajaran kooperatif hari ini
c. Melakukan penilaian pembelajaran untuk mengetahui ketercapaian tujuan
d. Memberikan penghargaan kepada kelompok yang terbaik dalam pembelajaran kooperatif.
E. Sumber Belajar
1. Buku IPA SMP Kelas VIII : Sumarwan , dkk. 2007. Jakarta. Erlangga.
2. Buku-buku pelajaran IPA yang relevan
F. Penilaian
2. Teknik : Tes tertulis
2. Bentuk : Tes Pilihan Ganda, Tes uraian.
3. Instrumen Soal : Soal Pretes dan Postes
Mengetahui Majalengka, Februari 2011
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran IPA
Masturo Ad, S.Pd.,M.Pd. ADA ARMADA PAHLA, S.Pd., M.Pd.
NIP. 19650904 198903 1 009 NIP. 19700318 199903 1 008
LKS 1
Diskusikan dengan kelompok “pengertian energi” dan “bentuk-bentuk energi”, kemudian buatlah rangkuman.
Isilah pertanyaan dibawah ini.
Apa yang dimaksud dengan energi (tenaga)
1. Energi adalah …………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………..
Satuan energi dinyatakan dalam …………atau …………
2. Macam-macam energi :
Energi Sumber Energi Contoh
Energi Bunyi Benda yang bergetar Senar gitar
Energi ……….. Makanan ………………..
………………….. ………………….. ………………..
………………….. ……………………. …………………
…………………. ……………………… …………………
………………… …………………….. …………………
3. Energi apa saja yang dihasilkan matahari …………….. dan ……………
4. Tuliskan contoh energi yang tidak dapat diperbarui ……………….
5. Tuliskan contoh energi yang dapat diperbarui……………………
LKS 2
1. Lakukan kegiatan dibawah ini.
Alat dan bahan : - batu baterai, - lampu baterai
- saklar - kabel
- bel. listrik
Cara kerja :
1. Rangkailah alat seperti gambar.
2. Setelah peralatan terpasang, pijitlah saklar,
3. Apa yang terjadi ? Bagaimana hubungannya dengan perubahan energi
4. Ganti lampu dengan belajar listrik
5. Apa yang terjadi ? Bagaimana hubungannya dengan perubahan energi
6. Buatlah laporan tertulis beserta kesimpulan !
2. Diskusikan dengan kelompok “pengertian perubahan energi”, kemudian buatlah rangkuman.
3. Tuliskan pengertian konversi energi dan konventer energi
4. Tuliskan beberapa contoh perubahan energi dalam kehidupan sehari-hari
Energi Menjadi energi Contoh
Listrik Panas Ketika menyetrika
…………….. ………………… Kipas angin
……………… Listrik Generator
…………………. ………………… ………………………………
Dst ……………. ……………………………
LKS 3
Diskusikan dengan kelompok “pengertian energi kinetik” kemudian buatlah rangkuman.
Isilah pertanyaan dibawah ini.
1. Energi kinetik adalah ……………………………………………………………….
………….. …………………………………………………………………………
2. Tuliskan contoh-contoh benda yang memiliki energi kinetik……………………….
3. Selesaikan persoalan berikut !
Sebuah mobil yang bermassa 1 ton sedang bergerak dengan kecepatan 20 m/s. Berapakah energi kinetiknya ?.
Penyelesaian :
Diketahui : m = ………ton = ………..Kg
V = ………m/s
Ditanya : Ek = ……….?
Jawab : Ek = ½ mV2
Ek = ½ x …………Kg x (…………m/s)2
Ek = …………….Joule
Jadi besarnya energi kinetik mobil tersebut sebesar ………….. Joule.
4. Tuliskan faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya energi kinetik.
5. Hitunglah energi kinetik mobil tadi jika massanya 1,5 Ton ?
LKS 4
Diskusikan dengan kelompok “pengertian energi potensial ” kemudian buatlah rangkuman.
Isilah pertanyaan dibawah ini.
1. Energi potensial adalah ………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………
2. Tuliskan contoh-contoh benda yang memiliki energi potensial……………………….
3. Selesaikan persoalan berikut !
Sebuah kelapa yang bermassa 2 Kg berada di pohonnya setinggi 10 m. Jika percepatan grafitasi bumi 9,8 m/s2. Berapakah energi potensial kelapa.
Diketahui : m = ……….. Kg
H = ……….. m
g = ……….. m/s2
Ditanya : Ep = ………….?
Jawab : Ep = m.g.h
Ep = ………..Kg x …………m/s2 x ………… m
Ep = ……………….Joule
Jadi besarnya energi potensial buah kelapa tersebut sebesar …………. Joule.
4. Tuliskan faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya energi potensial ?.
5. Hitunglah besarnya energi potensial buah kelapa tadi pada ketinggian 5 m ?
LKS 1
Diskusikan dengan kelompok “pengertian usaha” kemudian buatlah rangkuman.
Isilah pertanyaan dibawah ini.
1. Usaha adalah ………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………..
2. Satuan usaha dalam SI adalah ……………………………………
3. Jika kamu mendorong meja dan meja berpindah, apakah kamu melakukan usaha …………………………………….
4. Untuk melakukan usaha perlu dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Ada …………. yang menyebabkan ……………………
b. Arah ……….. harus searah dengan arah ……………….
5. Selesaikan persoalan berikut :
Berapa usaha yang dilakukan untuk mendorong peti dengan gaya sebesar 100 N, jika peti berpindah sejauh 3 meter ?
Penyelesaian :
Diketahui : F = ………..
s = ………..
Ditanya : W = ……?
Jawab : W = F x s
W = ………. X ………
W = …………..joule
Jadi usaha yang dilakukan sebesar ……………. Joule
LKS 2
Diskusikan dengan kelompok “pengertian usaha” kemudian buatlah rangkuman.
Isilah pertanyaan dibawah ini.
1. Usaha adalah ……………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
2. Usaha bernilai positif, jika …………………searah dengan …………………
3. Usah bernilai negatife, jika ……………………………………………………
4. Usaha bernilai nol, jika…………………………………………………………
5. Berapa usaha yang dilakukan oleh anak untuk mengangkat benda yang bermassa 5 kg setinggi 2 m, jika percepatan gravitasi 10 N/kg ?
Penyelesaian :
Diketahui : m = …………
s = …………
g = …………
Ditanya : W = ……….. ?
Jawab : F = m x g
F = …………. x …………….
F = …………… N
W = F x s
W = …………. x ……………..
W = …………….. joule
Jadi usaha yang dilakukan sebesar ………… joule
LKS 3
Diskusikan dengan kelompok “pengertian usaha” kemudian buatlah rangkuman.
Isilah pertanyaan dibawah ini.
1. Usaha adalah ……………………………………………………………….
2. Usaha bersama adalah …………………………………………………….
3. Selesaikan persoalan berikut :
Adi dan Eri mendorong mobil ke kanan dengan gaya masing-masing 150 N dan 200 N bergerak sejauh 6 meter.
Tentukan : 1. Arah mobil bergerak
2. Usaha yang dilakukan setiap anak
3. Usaha yang dilakukan bersama-sama oleh Adi dan Eri.
Penyelesaian :
1. Gaya Adi dan Eri kekanan = …………. + …………… = ……….. N
2. Diketahui : F Adi = …………… N
F Eri = …………… N
s = …………… m
Ditanya : WAdi = ……………?
W Eri = …………… ?
Jawab : W = F x s
W Adi = ………….. N x …………. m
W Adi = ………………J
W Eri = ………….. N x ………… m
W Eri = …………… J
3. Usaha bersama = ( W Adi + W Eri )
= ………. J + ……. J = ………. J
Jadi mobil bergerak ke …………, besar usaha Adi dan Eri masing-masing ……….. joule dan ………….. joule, besar usaha bersama Adi dan Eri adalah …………. Joule.
LKS 4
Diskusikan dengan kelompok “pengertian daya” kemudian buatlah rangkuman.
Isilah pertanyaan dibawah ini.
1. Daya adalah …………………………………………………………………
2. Satuan daya menurut satuan SI adalah ……../…….. atau …….. (W).
3. Amir yang memiliki berat badan 500 N berlari sejauh 100 m selama 10 detik. Jika Amir berjalan jarak tersebut ditempuh dalam waktu 100 detik.
1. Berapa usaha yang dilakukan Amir ketika berjalan maupun berlari ?
2. samakah usaha Amir ketika berlari dan berjalan
3. Samakah usaha dibagi waktu (laju perubahan energi) ketika Amir berjalan dengan ketika berlari
Penyelesaian :
1. Usaha ketika Amir berlari sejauh 100 m
W = F x s
W = ……….N x ………m = …….. J
Usaha ketika Amir berjalan sejauh 100 m
W = F x s
W = ……….N x …….. m = ……… J
2. Kesimpulan :
Usaha yang dilakukan Amir berjalan dan berlari sama besar = … J
3. Usaha dibagi waktu adalah laju
usaha
Laju = --------
Waktu
…………. J
Laju Amir berjalan = = ………… j/detik
……… detik
………….J
Laju Amir berlari = = ………… j/detik
……… detik
4. Kesimpulan : usaha yang dilakukan akan sama, karena selama gaya dan perpindahan sama, usaha juga sama. Akan tetapi laju untuk melakukan usaha berbeda. Laju melakukan usaha disebut daya.Jadi, daya (P) dapat dirumuskan :
……….
P =
……….
LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN SISWA
Siklus : I
Pertemuan Ke : 1 Satu)
Kompetensi Dasar : Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya,
prinsip "usaha dan energi" serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari
Hari / Tanggal : Senin / 9 Februari 2011
No Nama Aktivitas Prosen aktivitas
Kerjasama Bertanya Mengemukakan pendapat Membuat rangkuman
1 ARIAH -
2 ARSAH v v v 75
3 DEDE KURNIASIH -
4 DEDE PARAMITA v v v 75
5 DEDE SUMIATI -
6 DIAN FITRIYANI -
7 DIAN ROSMALAYENI v v v 75
8 IIS WIDIANINGSIH -
9 MASRIAH -
10 MISPAH v v 50
11 MURNI MURTAPIAH -
12 MURNISAH -
13 NANI NURHAYATI v v 50
14 NELI AGUSTIN -
15 NENG MURDIAH -
16 SAPIAH -
17 SAPNAH v v v 75
18 SARNI SURYANI -
19 SINTA BELA v v v 75
20 SITI HALIMAH -
21 SUPRIAH v v v 75
22 UUN TRISNAWATI -
23 UUN UNDATI v v 50
24 YULIAWATI -
25 YUNI WAHYUNI -
Jumlah siswa 7 4 6 7
Prosen Aktivitas 28 16 24 28
Prosen Aktivitas Kelas 36
Keterangan :
Kolom aktivitas ditulis dengan tanda ceklis (v)
- Prosen aktivitas siswa = Frekuensi aktivitas yang teramati X 100 %
Frekuensi seluruh aktivitas
- Prosen aktivitas kelas = Jumlah siswa yang aktif X 100 %
Jumlah seluruh siswa
LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN SISWA
Siklus : I
Pertemuan Ke : 2(Dua)
Kompetensi Dasar : Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya,
prinsip "usaha dan energi" serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari
Hari / Tanggal : Rabu / 11 Februari 2011
No Nama Aktivitas Prosen aktivitas
Kerjasama Bertanya Mengemukakan pendapat Membuat rangkuman
1 ARIAH v v v 75
2 ARSAH v v v 75
3 DEDE KURNIASIH -
4 DEDE PARAMITA v v v 75
5 DEDE SUMIATI v v 50
6 DIAN FITRIYANI -
7 DIAN ROSMALAYENI v v v 75
8 IIS WIDIANINGSIH v 25
9 MASRIAH -
10 MISPAH v v 50
11 MURNI MURTAPIAH -
12 MURNISAH v v 50
13 NANI NURHAYATI v v 50
14 NELI AGUSTIN v 25
15 NENG MURDIAH v v v 75
16 SAPIAH -
17 SAPNAH v v v 75
18 SARNI SURYANI -
19 SINTA BELA v v v 75
20 SITI HALIMAH -
21 SUPRIAH v v v 75
22 UUN TRISNAWATI -
23 UUN UNDATI v v 50
24 YULIAWATI v 25
25 YUNI WAHYUNI v v 50
Jumlah siswa 10 8 9 12
Prosen Aktivitas 40 32 36 48
Prosen Aktivitas Kelas 68
Keterangan :
Kolom aktivitas ditulis dengan tanda ceklis (v)
- Prosen aktivitas siswa = Frekuensi aktivitas yang teramati X 100 %
Frekuensi seluruh aktivitas
- Prosen aktivitas kelas = Jumlah siswa yang aktif X 100 %
Jumlah seluruh siswa
LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN SISWA
Siklus : II
Pertemuan Ke : 1 Satu)
Kompetensi Dasar : Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya,
prinsip "usaha dan energi" serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari
Hari / Tanggal : Senin / 16 Februari 2011
No Nama Aktivitas Prosen aktivitas
Kerjasama Bertanya Mengemukakan pendapat Membuat rangkuman
1 ARIAH v v 50
2 ARSAH v v v v 100
3 DEDE KURNIASIH v v 50
4 DEDE PARAMITA v v v 75
5 DEDE SUMIATI v v v 75
6 DIAN FITRIYANI v v 50
7 DIAN ROSMALAYENI v v v v 100
8 IIS WIDIANINGSIH v 25
9 MASRIAH -
10 MISPAH v v 50
11 MURNI MURTAPIAH -
12 MURNISAH v 25
13 NANI NURHAYATI v v v 75
14 NELI AGUSTIN v 25
15 NENG MURDIAH v v v 75
16 SAPIAH -
17 SAPNAH v v v 75
18 SARNI SURYANI -
19 SINTA BELA v v v 75
20 SITI HALIMAH -
21 SUPRIAH v v v 75
22 UUN TRISNAWATI -
23 UUN UNDATI v v v 75
24 YULIAWATI v v 50
25 YUNI WAHYUNI v v 50
Jumlah siswa 12 9 11 15
Prosen Aktivitas 48 36 44 60
Prosen Aktivitas Kelas 72
Keterangan : 18
Kolom aktivitas ditulis dengan tanda ceklis (v)
- Prosen aktivitas siswa = Frekuensi aktivitas yang teramati X 100 %
Frekuensi seluruh aktivitas
- Prosen aktivitas kelas = Jumlah siswa yang aktif X 100 %
Jumlah seluruh siswa
LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN SISWA
Siklus : II
Pertemuan Ke : 2 (Dua)
Kompetensi Dasar : Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya,
prinsip "usaha dan energi" serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari
Hari / Tanggal : Rabu / 18 Februari 2011
No Nama Aktivitas Prosen aktivitas
Kerjasama Bertanya Mengemukakan pendapat Membuat rangkuman
1 ARIAH v v 50
2 ARSAH v v v 75
3 DEDE KURNIASIH v v 50
4 DEDE PARAMITA v v v 75
5 DEDE SUMIATI v v v 75
6 DIAN FITRIYANI v v 50
7 DIAN ROSMALAYENI v v v v 100
8 IIS WIDIANINGSIH v v v 75
9 MASRIAH v 25
10 MISPAH v v v 75
11 MURNI MURTAPIAH -
12 MURNISAH v v 50
13 NANI NURHAYATI v v v 75
14 NELI AGUSTIN v 25
15 NENG MURDIAH v v v 75
16 SAPIAH v 25
17 SAPNAH v v v 75
18 SARNI SURYANI -
19 SINTA BELA v v v 75
20 SITI HALIMAH -
21 SUPRIAH v v v 75
22 UUN TRISNAWATI v 25
23 UUN UNDATI v v v 75
24 YULIAWATI v v v 75
25 YUNI WAHYUNI v v v 75
Jumlah siswa 13 11 12 19
Prosen Aktivitas 52 44 48 76
Prosen Aktivitas Kelas 88
Keterangan :
Kolom aktivitas ditulis dengan tanda ceklis (v)
- Prosen aktivitas siswa = Frekuensi aktivitas yang teramati X 100 %
Frekuensi seluruh aktivitas
- Prosen aktivitas kelas = Jumlah siswa yang aktif X 100 %
Jumlah seluruh siswa
LEMBAR PENGAMATAN
PENGELOLAAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Nama Sekolah : SMP Negeri 4 Maja Mata Pelajaran : IPA
Nama Guru : Masturo Ad, S.Pd.,M.Pd. Kelas : VIII
Tanggal : ……………….. Konsep :………
Pertemuan ke : ………………. Sub Konsep :…………
Petunujk.
Berilah tanda ceklis (v) pada kolom yang sesuai menurut penilaian anda.
No Aspek yang dinilai Penilaian
0 1 2 3 4
I PENGAMATAN PBM
A. Pendahuluan
1. Mengaitkan pelajaran sekaranng dengan pelajaran sebelunnya
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Memotivasi siswa
B. Kegiatan Inti
1. Mempresentasikan informasi
2. Mengorganisasi siswa dalam kelompok-kelompok belajar
3. a. Membimbing kelompok
b. Mengajukan pertanyaan
c. Menjawab / menanggapi pertanyaan
d. Menyampaikan ide / pendapat
e. Mendengarkan secara aktif
f. Bekerja dan belajar bersama
C. Penutup
Membimbing siswa merangkum pelajaran
II. SUASANA KELAS
1. Siswa antusias
2. Guru antusias
3. Waktu sesuai dengan alokasi
4. PBM sesuai dengan skenario dalam RPP
Jumlah
Keterangan :
0 = tidak melakukan Majalengka, Februari 2011
1 = kurang baik Pengamat,
2 = cukup
3 = baik
4 = sangat baik
………………………………
Lembar Jurnal Harian ( Catatan Harian )
Pertemuan ke : …………………………
Hari/ Tanggal : …..……………………..
Pukul : …..……………………..
Guru : …..……………………..
I. Penguasaan Konsep
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….…………………..
II. Relevansi Materi dengan Metode Pembelajaran
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
III. Diskusi/ Lain-lain
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..………….
Daftar Nilai Pretes dan Postes Pada Hasil Belajar Konsep Energi dan Perubahannya
No Nama siswa Siklus I Ket
Pretest I Postest I
Tanggal T/TT Tanggal T/TT
9/2/2011 11/2/2011
1 ARIAH 35 Tidak Tuntas 65 Tuntas
2 ARSAH 65 Tuntas 75 Tuntas
3 DEDE KURNIASIH 30 Tidak Tuntas 55 Tidak Tuntas
4 DEDE PARAMITA 65 Tuntas 80 Tuntas
5 DEDE SUMIATI 55 Tidak Tuntas 65 Tuntas
6 DIAN FITRIYANI 45 Tidak Tuntas 60 Tuntas
7 DIAN ROSMALAYENI 60 Tuntas 75 Tuntas
8 IIS WIDIANINGSIH 45 Tidak Tuntas 60 Tuntas
9 MASRIAH 30 Tidak Tuntas 50 Tidak Tuntas
10 MISPAH 65 Tuntas 75 Tuntas
11 MURNI MURTAPIAH 25 Tidak Tuntas 50 Tidak Tuntas
12 MURNISAH 45 Tidak Tuntas 70 Tuntas
13 NANI NURHAYATI 50 Tidak Tuntas 70 Tuntas
14 NELI AGUSTIN 35 Tidak Tuntas 65 Tuntas
15 NENG MURDIAH 50 Tidak Tuntas 70 Tuntas
16 SAPIAH 25 Tidak Tuntas 45 Tidak Tuntas
17 SAPNAH 35 Tidak Tuntas 70 Tuntas
18 SARNI SURYANI 30 Tidak Tuntas 55 Tidak Tuntas
19 SINTA BELA 60 Tuntas 75 Tuntas
20 SITI HALIMAH 30 Tidak Tuntas 60 Tuntas
21 SUPRIAH 60 Tuntas 80 Tuntas
22 UUN TRISNAWATI 35 Tidak Tuntas 50 Tidak Tuntas
23 UUN UNDATI 30 Tidak Tuntas 60 Tuntas
24 YULIAWATI 40 Tidak Tuntas 65 Tuntas
25 YUNI WAHYUNI 60 Tuntas 70 Tuntas
Rata – rata skor nilai 44.20 64.60
Jumlah siswa yang tuntas 7 19
Prosentase Ketuntasan Belajar (%) 28.00 76.00
Keterangan :
- Nilai di isi dengan skala 100
- SKBM (standar ketuntasan belajar minimal) untuk mata pelajaran IPA adalah 60
- Siswa dikatakan tuntas jika skor nilai ≥ 60
- T = Tuntas ; TT = tidak tuntas
Prosentase ketuntasan belajar = Jumlah siswa yang tuntas X 100%
Jumlah seluruh siswa
Daftar Nilai Pretes dan Postes Pada Hasil Belajar Konsep Usaha dan daya
No Nama siswa Siklus II Ket
Pretest II Postest II
Tanggal T/TT Tanggal T/TT
16-2-2011 18-2-2011
1 ARIAH 40 Tidak Tuntas 65 Tuntas
2 ARSAH 60 Tuntas 85 Tuntas
3 DEDE KURNIASIH 40 Tidak Tuntas 65 Tuntas
4 DEDE PARAMITA 60 Tuntas 85 Tuntas
5 DEDE SUMIATI 60 Tuntas 80 Tuntas
6 DIAN FITRIYANI 45 Tidak Tuntas 60 Tuntas
7 DIAN ROSMALAYENI 60 Tuntas 85 Tuntas
8 IIS WIDIANINGSIH 50 Tidak Tuntas 70 Tuntas
9 MASRIAH 30 Tidak Tuntas 55 Tidak Tuntas
10 MISPAH 65 Tuntas 85 Tuntas
11 MURNI MURTAPIAH 30 Tidak Tuntas 55 Tidak Tuntas
12 MURNISAH 40 Tidak Tuntas 65 Tuntas
13 NANI NURHAYATI 60 Tuntas 80 Tuntas
14 NELI AGUSTIN 40 Tidak Tuntas 55 Tidak Tuntas
15 NENG MURDIAH 65 Tuntas 85 Tuntas
16 SAPIAH 40 Tidak Tuntas 60 Tuntas
17 SAPNAH 60 Tuntas 80 Tuntas
18 SARNI SURYANI 40 Tidak Tuntas 45 Tidak Tuntas
19 SINTA BELA 65 Tuntas 85 Tuntas
20 SITI HALIMAH 40 Tidak Tuntas 65 Tuntas
21 SUPRIAH 65 Tuntas 85 Tuntas
22 UUN TRISNAWATI 30 Tidak Tuntas 60 Tuntas
23 UUN UNDATI 60 Tuntas 85 Tuntas
24 YULIAWATI 55 Tidak Tuntas 75 Tuntas
25 YUNI WAHYUNI 65 Tuntas 85 Tuntas
Rata – rata skor nilai 50.60 72.00
Jumlah siswa yang tuntas 12 21
Prosentase Ketuntasan Belajar (%) 48.00 84.00
Keterangan :
- Nilai di isi dengan skala 100
- SKBM (standar ketuntasan belajar minimal) untuk mata pelajaran IPA adalah 60
- Siswa dikatakan tuntas jika skor nilai ≥ 60
- T = Tuntas ; TT = tidak tuntas
Prosentase ketuntasan belajar = Jumlah siswa yang tuntas X 100%
Jumlah seluruh siswa
Angket siswa
Berilah tanda ceklis (v) pada kolom S, RR atau TS
No Pernyataan S RR TS
1 Saya senang dengan kegiatan belajar IPA.
2 Belajar IPA dengan diskusi kelompok menyenangkan.
3 Saya merasa senang belajar dari penjelasan teman
4 Saya merasa mudah memahami penjelasan dari teman
5 Menurut saya kegiatan belajar ini perlu dikembangkan.
Keterangan :
S = Setuju
RR = Ragu-ragu
TS = Tidak Setuju
Hasil angket siswa terhadap minat siswa belajar dengan tipe jigsaw
No Pernyataan Jumlah Responden pada setiap pernyataan Prosentase Pernyataan Responden
S RR TS % % %
1 Saya senang dengan kegiatan belajar IPA. 19 5 1 76 20 4
2 Belajar IPA dengan diskusi kelompok menyenangkan. 23 2 92 8 -
3 Saya merasa senang belajar dari penjelasan teman 23 2 92 8 -
4 Saya merasa mudah memahami penjelasan dari teman 20 3 2 80 12 8
5 Menurut saya kegiatan belajar ini perlu dikembangkan. 21 4 84 16 -
Jumlah 424 64 12
Rata-rata Prosentase 85 13 2
Keterangan :
S = Setuju
RR = Ragu-ragu
TS = Tidak Setuju
Soal Test Hasil Belajar Sub Konsep energi dan perubahannya
(Dilakukan pada Pretest dan Postest Siklus I)
I. Pilihan Ganda !
1. Energi yang terkandung dalam setiap zat, misalnya didalam makanan dan bahan bakar, disebut energi ……..
a. kimia c. potensial
b. kinetik d. kalor
2. Satuan energi dalam SI adalah ………
a. Newton c. Joule
b. kalori d. dyne
3. Berikut ini merupakan sumber energi, kecuali……..
a. lilin c. matahari
b. angin d. mata
4. Energi yang diperoleh dari gerakan partikel-partikelnya disebut energi .. a. kalor c. bunyi
b. listrik d. nuklir
5. Energi yang dapat dihasilkan bila dua benda bergesekan adalah ……..
a. energi cahaya dan energi listrik
b. energi pegas dan energi cahaya
c. energi panas dan energi bunyi
d. energi kimia dan nuklir
6. Sebuah mobil yang melaju kencang, tiba-tiba di rem. Perubahan energi yang terjadi adalah …….
a. energi kimia --- energi listrik --- energi bunyi.
b. energi listrik --- energi gerak --- energi bunyi
c. energi gerak --- energi panas --- energi bunyi
d. energi panas --- energi bunyi --- energi gerak
7. Alat yang mengubah energi surya menjadi energi kalor adalah ……..
a. panel surya c. baterai matahari
b. sel surya d. aki matahari
8. Buah apel yang tergantung dipohonnya memiliki energi ………..
a. kimia c. potensial
b. kinetik d. kalor
9. Energi kinetik yang dimiliki oleh sebuah benda makin besar bila ……
a. letaknya makin tinggi c. jarak tempuhnya makin jauh
b. kecepatannya makin besar d. percepatan gravitasi makin besar.
10. Di antara sumber energi berikut yang termasuk sumber energi yang tidak dapat diperbarui adalah ……..
a. BBM, panas bumi, gas alam c. batu bara, gas alam, BBM
b. BBM, batu bara, panas bumi d. gas alam, nuklir, BBM
11. Sumber energi berikut yang merupakan sumber energi alternatife adalah…………….
a. angin, matahari, gas alam c. panas bumi, gas alam, air
b. biomassa, panas bumi, air d. panas bumi, gas alam, nuklir
12. Pernyataan berikut yang benar adalah ………
a. energi potensial bergantung pada kecepatan benda
b. energi potensial bergantung pada letak benda terhadap acuan tertentu.
c. energi potensial di Bumi dan Bulan sama besar
d. energi potensial bergantung pada massa benda.
13. Perhatikan pernyataan berikut :
I. Energi yang dimiliki oleh benda merupakan hasil perubahan bentuk energi.
II. Energi yang baru dapat diciptakan tanpa harus ada perubahan energi.
III. Energi yang dihasilkan dari perubahan energi selalu sama dengan energi yang diubah.
Pernyataan di atas yang benar mengenai hokum kekekalan energi adalah……
a. I dan II c. II dan III
b. I dan III d. III saja
14. Massa sebuah benda 10 kg. Apabila benda berada pada ketinggian 5 meter dari atas tanah dan percepatan gravitasi bumi adalah 10 m/s¬2, maka energi potensial benda tersebut adalah ………
a. 500 J c. 5000 J
b. 20 J d. 200 J
15. Seorang anak menendang bola dengan kecepatan 10 m/s. Jika massa bola tersebut 1,5 kg maka energi kinetik bola adalah ………
a. 75 J c. 150 J
b. 100 J d. 250 J
II. Essay.
Kerjakan soal dibawah ini.
Sebuah mobil truk bermassa 2 ton. Mobil ini bergerak dengan kecepatan 20 m/s. Hitunglah energi kinetik yang dimiliki mobil tersebut ?
Diketahui : m = ……………
v = ……………
Ditanya : Ek = …………… ?
Jawab : Ek = ……….……
Ek = ……………
Ek = …………….
Soal Test Hasil Belajar Sub Konsep Usaha dan Daya
(Dilakukan pada Pretest dan Postest Siklus II)
II. Pilihan Ganda !
1. Peristiwa berikut yang menggambarkan adanya usaha menurut fisika adalah ………
a. Dewi belajar hingga larut malam
b. Wati menarik mobil-mobilan
c. Tina mendorong tembok dengan sekuat tenaga
d. Rina mengagumi bunga yang tumbuh di halaman rumah
2. Dua komponen yang terdapat pada besaran usaha adalah ……..
a. gaya dan kecepatan c. gaya dan perpindahan
b. gaya dan waktu d. gaya dan daya
3. Usaha sama dengan ………
a. gaya kali jarak c. jarak dibagi gaya
b. gaya dibagi jarak d. gaya ditambah jarak
4. Manakah yang bukan usaha ………
a. mengangkat tas c. menjinjing tas
b. melempar bola d. mendorong sepeda
5. Besar usaha yang dilakukan jika gaya satu Newton bekerja pada jarak satu meter sama dengan satu ……..
a. joule c. derajat celcius
b. kilogram d. watt
6. Sebuah gaya dikatakan melakukan usaha bernilai positif bila ………..
a. arah gaya tegak lurus dengan arah perpindahan benda
b. arah gaya sama dengan arah perpindahan benda
c. arah gaya berlawanan dengan arah perpindahan benda
d. terjadi perpindahan pada benda
7. Gaya yang selalu menghasilkan usaha bernilai negatif adalah ………
a. gaya gravitasi c. gaya pegas
b. gaya otot d. gaya gesekan
8. Gaya yang diberikan dikatakan tidak melakukan usaha jika ……..
a. gaya tersebut tidak menyebabkan benda berpindah
b. gaya tersebut menyebabkan benda berpindah
c. gaya tersebut lebih besar dari berat benda
d. gaya tersebut merupakan gaya dorong
9. Ali dan Amir saling mendorong meja. Ali dengan gaya 50 N kekanan, sedangkan Amir dengan gaya 70 N kekiri, ternyata meja bergerak sejauh 2 m. usaha bersama ialah sebesar ………
a. 240 J ke arah Amir c. 40 J ke arah Amir
b. 240 J ke arah Ali d. 40 J ke arah Ali
10. Mahmud mengangkat benda yang massanya 5 kg dari lantai ke meja setinggi 70 cm. Usaha yang dilakukan Mahmud ialah sebesar …….. (percepatan gravitasi 10 N/kg).
a. 3.500 J c. 35 J
b. 350 J d. 3,5 J
11. Daya adalah …………
a. Usaha yang dilakukan tiap satuan waktu
b. keuntungan mekanik alat
c. gaya yang dikerjakan pada jarak tertentu
d. energi yang berpindah
12. Satuan daya adalah …………….
a. joule c. Newton
b. watt d. sekon
13. Daya dapat dihitung dengan rumus …….
a. P = W x t c. P = W / t
b. P = t / w d. P = w – t
14. Daya tidak bergantung pada ……………..
a. gaya c. waktu
b. jarak d. arah gaya
15. Lampu-lampu berikut yang akan menyala paling terang adalah lampu yang mengeluarkan energi sebesar …………
a. 100 joule tiap 20 detik c. 50 joule tiap 2 detik
b. 45 joule tiap 3 detik d. 60 joule tiap detik
III. Essay.
Kerjakan soal dibawah ini
Berapa daya yang diperlukan untuk menaikan beban 150 kg setinggi 15 meter selama 20 sekon ? (gravitasi Bumi 10 m/s2)
Diketahui : m = ……………
h = ……………
t = ……………
g = ……………
Ditanya : P = …………… ?
Jawab : …………..
P =
……….……
…………...
P =
……………
P = …………….
Jadi dayanya adalah………………… watt
Rubrik Penilaian Hasil Belajar Sub Konsep Energi dan Perubahannya
( Siklus I )
I. Pilihan Ganda
No S o a l Kunci Jwb Skor
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Energi yang terkandung dalam setiap zat, misalnya didalam makanan dan bahan bakar, disebut energi …..
a. kimia c. potensial
b. kinetik d. kalor
Satuan energi dalam SI adalah ………
a. Newton c. Joule
b. kalori d. dyne
Berikut ini merupakan sumber energi, kecuali……..
a. lilin c. matahari
b. angin d. mata
Energi yang diperoleh dari gerakan partikel-partikelnya disebut energi ……..
a. kalor c. bunyi
b. listrik d. nuklir
Energi yang dapat dihasilkan bila dua benda bergesekan adalah ……..
a. energi cahaya dan energi listrik
b. energi pegas dan energi cahaya
c. energi panas dan energi bunyi
d. energi kimia dan nuklir
Sebuah mobil yang melaju kencang, tiba-tiba di rem. Perubahan energi yang terjadi adalah …….
a. energi kimia --- energi listrik --- energi bunyi.
b. energi listrik --- energi gerak --- energi bunyi
c. energi gerak --- energi panas --- energi bunyi
d. energi panas --- energi bunyi --- energi gerak
Alat yang mengubah energi surya menjadi energi kalor adalah ……..
a. panel surya c. baterai matahari
b. sel surya d. aki matahari
Buah apel yang tergantung dipohonnya memiliki energi …..
a. kimia c. potensial
b. kinetik d. kalor
Energi kinetik yang dimiliki oleh sebuah benda makin besar bila ……
a. letaknya makin tinggi
b. kecepatannya makin besar
c. jarak tempuhnya makin jauh
d. percepatan gravitasi makin besar.
Di antara sumber energi berikut yang termasuk sumber energi yang tidak dapat diperbarui adalah ……..
a. BBM, panas bumi, gas alam
b. BBM, batu bara, panas bumi
c. batu bara, gas alam, BBM
d. gas alam, nuklir, BBM
Sumber energi berikut yang merupakan sumber energi alternatife adalah…………….
a. angina, matahari, gas alam
b. biomassa, panas bumi, air
c. panas bumi, gas alam, air
d. panas bumi, gas alam, nuklir
Pernyataan berikut yang benar adalah ………
a. energi potensial bergantung pada kecepatan benda
b. energi potensial bergantung pada letak benda terhadap acuan tertentu.
c. energi potensial di Bumi dan Bulan sama besar
d. energi potensial bergantung pada massa benda.
Perhatikan pernyataan berikut :
I. Energi yang dimiliki oleh benda merupakan hasil perubahan bentuk energi.
II. Energi yang baru dapat diciptakan tanpa harus ada perubahan energi.
III. Energi yang dihasilkan dari perubahan energi selalu sama dengan energi yang diubah.
Pernyataan di atas yang benar mengenai hokum kekekalan energi adalah……
a. I dan II c. II dan III
b. I dan III d. III saja
Massa sebuah benda 10 kg. Apabila benda berada pada ketinggian 5 meter dari atas tanah dan percepatan gravitasi bumi adalah 10 m/s¬2, maka energi potensial benda tersebut adlah ………
a. 500 J c. 5000 J
b. 20 J d. 200 J
Seorang anak menendang bola dengan kecepatan 10 m/s. Jika masa bola tersebut 1,5 kg maka energi kinetik bola adalah ………
a. 75 J c. 150 J
b. 100 J d. 250 J
A
C
D
D
C
C
A
C
B
C
B
D
B
A
A
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Jumlah 20
II. Essay.
Jawaban Skor
Diketahui :
m = 2 ton = 2000 kg
v = 20 m/s
…………………………………..
Ditanya : Ek = ?
Jawab : Ek = ½ m.v2 ………………………..
Ek = ½ x 2000 kg x (20m/s)2 ………….
Ek = 400.000 J ………………………
1
1
1
2
Jumlah 5
Penilaian : Skor total = Skor PG + Skor Esay
= 15 + 5 = 20
Skor Perolehan Siswa
Nilai = X 100
Skor Total
Skor Perolehan Siswa
= X 100
20
Rubrik Penilaian Hasil Belajar Sub Konsep Usaha dan Daya
( Siklus II )
II. Pilihan Ganda
No S o a l Kunci Jwb Skor
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Peristiwa berikut yang menggambarkan adanya usaha menurut fisika adalah ………
a. Dewi belajar hingga larut malam
b. Wati menarik mobil-mobilan
c. Tina mendorong tembok dengan sekuat tenaga
d. Rina mengagumi bunga yang tumbuh di halaman rumah
Dua komponen yang terdapat pada besaran usaha adalah ……..
a. gaya dan kecepatan c. gaya dan perpindahan
b. gaya dan waktu d. gaya dan daya
Usaha sama dengan ………
a. gaya kali jarak c. jarak dibagi gaya
b. gaya dibagi jarak d. gaya ditambah jarak
Manakah yang bukan usaha ………
a. mengangkat tas c. menjinjing tas
b. melempar bola d. mendorong sepeda
Besar usaha yang dilakukan jika gaya satu Newton bekerja pada jarak satu meter sama dengan satu ……..
a. joule c. derajat celcius
b. kilogram d. watt
Sebuah gaya dikatakan melakukan usaha bernilai positif bila ………..
a. arah gaya tegak lurus dengan arah perpindahan benda
b. arah gaya sama dengan arah perpindahan benda
c. arah gaya berlawanan dengan arah perpindahan benda
d. terjadi perpindahan pada benda
Gaya yang selalu menghasilkan usaha bernilai negatif adalah ………
a. gaya gravitasi c. gaya pegas
b. gaya otot d. gaya gesekan
Gaya yang diberikan dikatakan tidak melakukan usaha jika ……..
a. gaya tersebut tidak menyebabkan benda berpindah
b. gaya tersebut menyebabkan benda berpindah
c. gaya tersebut lebih besar dari berat benda
d. gaya tersebut merupakan gaya dorong
Ali dan Amir saling mendorong meja. Ali dengan gaya 50 N kekanan, sedangkan Amir dengan gaya 70 N kekiri, ternyata meja bergerak sejauh 2 m. usaha bersama ialah sebesar ………
a. 240 J ke arah Amir c. 40 J ke arah Amir
b. 240 J ke arah Ali d. 40 J ke arah Ali
Mahmud mengangkat benda yang massanya 5 kg dari lantai ke meja setinggi 70 cm. Usaha yang dilakukan Mahmud ialah sebesar …….. (percepatan gravitasi 10 N/kg).
a. 3.500 J c. 35 J
b. 350 J d. 3,5 J
Daya adalah …………
a. Usaha yang dilakukan tiap satuan waktu
b. keuntungan mekanik alat
c. gaya yang dikerjakan pada jarak tertentu
d. energi yang berpindah
Satuan daya adalah …………….
a. joule c. Newton
b. watt d. sekon
Daya dapat dihitung dengan rumus …….
a. P = W x t c. P = W / t
b. P = t / w d. P = w – t
Daya tidak bergantung pada ……………..
a. gaya c. waktu
b. jarak d. arah gaya
Lampu-lampu berikut yang akan menyala paling terang adalah lampu yang mengeluarkan energi sebesar …………
a. 100 joule tiap 20 detik c. 50 joule tiap 2 detik
b. 45 joule tiap 3 detik d. 60 joule tiap detik B
C
A
C
A
B
D
A
D
C
A
B
C
D
D
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Jumlah 20
II. Essay
Jawaban Skor
Diketahui :
m = 150 kg
h = 15 m
t = 20 s
g = 10 m/s2
………………………..…………..
Ditanya : P = ?
m . g . h
Jawab : P = …….…….………..
t
150 . 10 . 15
P = ……………..……
20
P = 1.125 W …………………..
Jadi dayanya adalah 1.125 watt …………………..
1
1
1
1
1
Jumlah 5
Penilaian : Skor total = Skor PG + Skor Esay
= 15 + 5 = 20
Skor Perolehan Siswa
Nilai = X 100
Skor Total
Skor Perolehan Siswa
= X 100
20
Guru memberikan penjelasan pada kelompok asal
Guru sedang membagikan LKS di kelompok asal
Siswa berdiskusi dalam kelompok ahli
Guru mengamati siswa dikelompok ahli
Guru membimbing siswa
Guru membimbing siswa
Guru membimbing kelompok lainnya
Siswa sedang berdiskusi
Observer mencatat observasinya
Selesai di tim ahli siswa kembali ke kelompok asal
Siswa sedang mempresentasikan hasil diskusi
Siswa mengajukan pertanyaan
BIODATA PESERTA
PEMILIHAN GURU BERPRESTASI
TINGKAT KABUPATEN MAJALENGKA
TAHUN 2011
1. Nama : ADA ARMADA PAHLA, S.Pd., M.Pd.
2. Tempat/Tanggal Lahir : Majalengka, 18 Maret 1970
3. NIP/NUPTK : 19700318 199903 1 008
4. Jenis Kelamin : Laki-laki
5. Agama : Islam
6. Nama Sekolah : SMP Negeri 4 Maja
7. Unit Kerja : SMP Negeri 4 Maja
8. Alamat Unit Kerja : Jl. Raya Paniis No. 1 Maja Majalengka
45461
9. Alamat Tempat Tinggal : Lingkungan Perumahan Asabri No. 61
Simpeureum Cigasong Majalengka
10. Alamat Rumah : Lingkungan Perumahan Asabri No. 61
Simpeureum Cigasong Majalengka
11. Keterampilan Yang Dimiliki : Membuat Blogger
12. Hobi : Membaca
13. Tinggi Badan : 162 cm
14. Berat Badan : 72 kg
15. Golongan Darah : B
16. Prestasi yang pernah diraih : -
Majalengka, 7 April 2011
Peserta
ADA ARMADA PAHLA, S.Pd., M.Pd.
NIP. 19700318 199903 1 008
Minggu, 31 Juli 2011
Rabu, 27 Juli 2011
School Self Evaluation (SSE)
School Self Evaluation (SSE)
School Self Evaluation (SSE) at each school is the responsibility of school principals and conducted by the School Development Team (SMT) which consists of principal, teachers, school committees, parents, students, and supervisors. SSE process can involve community leaders or local religious leaders. SSE instrument is specifically designed for use by SMT in assessing the performance of schools on the 8 National Education Standards (SNPs) whose results became the basis of inputs and preparation of School Development Plan (RPS) in efforts to improve school performance. SSE should be carried out after polling members received training.
Concise information about the SSE can be seen below:
1. What is School Self-Evaluation?
• school self-evaluation is a process that involves all stakeholders to assist schools in assessing the quality of education based on key indicators that refer to the eight National Education Standards (SNP).
• Through the SSE strength and progress of schools can be known and those aspects that require improvement can be identified.
• school self-evaluation process is a cycle, which began with the establishment of polling stations, training, use of instruments, the implementation of the SSE in school and use the results as a basis for the RPS / RKS and budgets / RKAS.
• TPS collects information from various sources to assess the performance of schools based on the indicators defined in the Instrument. This activity involves all educators and educational staff in schools to obtain information and opinions from all school stakeholders.
• SSE will also see the vision and mission of the school. If schools do not have the vision and mission, it is expected that this activity will spur schools to create or improve the vision and mission of the school in achieving the desired performance.
• The SSE is used as an ingredient for setting a priority aspect in the improvement plans and school development on the RPS / RKS and budgets / RKAS.
• Report the results of the SSE is used by the Trustees for the benefit of the School Monitoring by the Local Government (MSPD) as an ingredient of planning education at the district / city.
2. What the school obtained from the SSE?
• How well does the school performance? With the SSE will obtain information about the management of schools that have met the SNP to be used as the basis for the preparation of the RPS / RKS and budgets / RKAS.
• How to know the actual school performance? With the SSE will obtain information about the actual school performance and the information is verified with physical evidence accordingly.
• How to improve school performance? Schools use the information collected in the SSE is to establish what the priorities for school improvement and is used to prepare the RPS / RKS and budgets / RKAS.
3. What are the benefits to be gained from the SSE schools?
• Schools are able to identify its strengths and weaknesses as a basis for planning further development.
• The school is able to recognize opportunities to improve the quality of education, assess the success of improvement efforts, and make adjustments to existing programs.
• Schools are able to know the challenges faced and diagnose the type of requirements needed for repairs.
• Schools can determine the level of achievement based on 8 SNPs.
• Schools can provide a formal report to stakeholders on progress and results achieved.
4. How often does the school perform SSE?
• Schools make the process of SSE once every year.
5. What is the shape Instruments SSE?
SSE instrument consists of 8 (eight) parts in accordance with 8 SNPs. Each section consists of:
• A series of questions related to the SNP as the basis for the school in obtaining qualitative performance information.
• Each standard can consist of several aspects that provide a more comprehensive picture.
• Every aspect of the standard consists of four levels of achievement: the achievement level 1 means less, 2 means moderate, 3 means both, and 4 means very good.
• Each level of achievement has several indicators.
• At the end of the aspects of each standard, there is a recapitulation of the page to write the achievement of the assessment results obtained. This summary page consists of the physical evidence which reinforces the recognition of the level of achievement, a general description of the findings obtained to assess these aspects, and determining achievement levels of school performance.
• A number of questions associated with 8 SNPs most closely associated with the quality of learning and the aspects that need to be developed for the purposes of school improvement plan.
• The level of achievement on each standard in this instrument can be used to assess school performance on a specific standard.
6. How schools use achievement levels?
• Members of the TPS jointly examine Instruments SSE at every aspect of every standard. Should be prepared ministerial regulation, or government regulation indicators related to the SNP as the reference.
• Based on the real conditions of school, members of the polling stations to assess whether their schools are included in levels 1, 2, 3 or 4 in the achievement of these eight SNPs. For example there are aspects of the Content Standards suitability and relevance of the curriculum as well as aspects of the provision of needs for self-development. It could be aspects of appropriateness and relevance of the curriculum at level 4, but aspects of the need for self-development at level 2. It's not a problem. Achievement level on each standard describing what circumstances school performance conditions at the time of penialian associated with a particular question.
• After determining the level of achievement, schools need to include physical evidence of his confession. Examples of physical evidence on community participation in school life of the school committee meetings, minutes, attendance list, and invitations.
• The results of all assessments and determining the level of achievement of school performance for certain aspects of each standard were written on pieces of the assessment report or summary to include the appropriate physical evidence (see the description on the number 5 above).
• Schools determine the level of achievement and not just give a check mark (tick) on each item in SSE Instruments.
• Level of achievement of school performance may differ in different aspects. This is important because the school must provide performance reports as is. In the implementation of SSE are performed each year, schools have a real basic aspects and standards that require continuous improvement.
• Using this instrument SSE, schools can measure their performance impact on the learning of students. Schools can also check the results and follow up on improvement of learning services provided to meet the learning needs of learners.
7. What type of evidence can be shown?
• Physical evidence that describes the level of achievement must be in accordance with aspects or standards being assessed. For that need to be utilized various sources of information that can be used as physical evidence such as study notes, observations, and interviews / consultations with stakeholders such as school committees, parents, teachers, students, and other related elements.
• Keep in mind that the qualitative information that describes the reality can be derived from quantitative information. For example, Teaching Implementation Plan (RPP) is not merely a record of how the teaching carried out. The existence of the curriculum document is not the only evidence that the curriculum has been implemented.
• Various types of physical evidence can be used schools as evidence of certain levels of achievement. In addition, schools should also indicate the source of physical evidence as appropriate.
8. How does the SSE help draft the school development plan?
• TPS analyze the information collected, used it to identify and set priorities which then became the basis for the RPS / RKS and budgets / RKAS.
• Based on the SSE, the school developed the RPS with a priority to improve the quality of school performance are clearly defined, observable and measurable. Thus, the RPS into a document that includes aspects of school performance implementation, priorities, deadlines, and the measure of success.
• The SSE-related aspects of change and improvement. Efforts to change and the increase was only useful when embodied in a plan to improve education quality and learning outcomes of students. Expected by the kinds of data and information obtained from the SSE, the school was not only able to formulate development plans with the right, but the assessment of progress in the future will also be easier to do with the availability of reliable data. This by itself allows the school to show the results of efforts to increase them at all times.
9. What reports need to be prepared?
• School reports SSE results using a separate format, which presents the level of achievement as well as the evidence it uses. The results of SSE is used for basic preparation of RPS schools, but also reported to the Office of Education District / City or Religious Affairs to be analyzed further by utilizing the EMIS (Educational Management Information System / Education Management Information System) for planning purposes and various other quality improvement activities.
• school reports which revealed the findings can be used to perform internal validation (to assess and match) by the school superintendent, and external validation using a number of schools by the Working Group on School Supervision (KKPS) at district level with the help of staff from LPMP quality assurance.
• The SSE is an important part in monitoring the performance of schools by local governments in order to guarantee and improve the quality of education.
School Self Evaluation (SSE) at each school is the responsibility of school principals and conducted by the School Development Team (SMT) which consists of principal, teachers, school committees, parents, students, and supervisors. SSE process can involve community leaders or local religious leaders. SSE instrument is specifically designed for use by SMT in assessing the performance of schools on the 8 National Education Standards (SNPs) whose results became the basis of inputs and preparation of School Development Plan (RPS) in efforts to improve school performance. SSE should be carried out after polling members received training.
Concise information about the SSE can be seen below:
1. What is School Self-Evaluation?
• school self-evaluation is a process that involves all stakeholders to assist schools in assessing the quality of education based on key indicators that refer to the eight National Education Standards (SNP).
• Through the SSE strength and progress of schools can be known and those aspects that require improvement can be identified.
• school self-evaluation process is a cycle, which began with the establishment of polling stations, training, use of instruments, the implementation of the SSE in school and use the results as a basis for the RPS / RKS and budgets / RKAS.
• TPS collects information from various sources to assess the performance of schools based on the indicators defined in the Instrument. This activity involves all educators and educational staff in schools to obtain information and opinions from all school stakeholders.
• SSE will also see the vision and mission of the school. If schools do not have the vision and mission, it is expected that this activity will spur schools to create or improve the vision and mission of the school in achieving the desired performance.
• The SSE is used as an ingredient for setting a priority aspect in the improvement plans and school development on the RPS / RKS and budgets / RKAS.
• Report the results of the SSE is used by the Trustees for the benefit of the School Monitoring by the Local Government (MSPD) as an ingredient of planning education at the district / city.
2. What the school obtained from the SSE?
• How well does the school performance? With the SSE will obtain information about the management of schools that have met the SNP to be used as the basis for the preparation of the RPS / RKS and budgets / RKAS.
• How to know the actual school performance? With the SSE will obtain information about the actual school performance and the information is verified with physical evidence accordingly.
• How to improve school performance? Schools use the information collected in the SSE is to establish what the priorities for school improvement and is used to prepare the RPS / RKS and budgets / RKAS.
3. What are the benefits to be gained from the SSE schools?
• Schools are able to identify its strengths and weaknesses as a basis for planning further development.
• The school is able to recognize opportunities to improve the quality of education, assess the success of improvement efforts, and make adjustments to existing programs.
• Schools are able to know the challenges faced and diagnose the type of requirements needed for repairs.
• Schools can determine the level of achievement based on 8 SNPs.
• Schools can provide a formal report to stakeholders on progress and results achieved.
4. How often does the school perform SSE?
• Schools make the process of SSE once every year.
5. What is the shape Instruments SSE?
SSE instrument consists of 8 (eight) parts in accordance with 8 SNPs. Each section consists of:
• A series of questions related to the SNP as the basis for the school in obtaining qualitative performance information.
• Each standard can consist of several aspects that provide a more comprehensive picture.
• Every aspect of the standard consists of four levels of achievement: the achievement level 1 means less, 2 means moderate, 3 means both, and 4 means very good.
• Each level of achievement has several indicators.
• At the end of the aspects of each standard, there is a recapitulation of the page to write the achievement of the assessment results obtained. This summary page consists of the physical evidence which reinforces the recognition of the level of achievement, a general description of the findings obtained to assess these aspects, and determining achievement levels of school performance.
• A number of questions associated with 8 SNPs most closely associated with the quality of learning and the aspects that need to be developed for the purposes of school improvement plan.
• The level of achievement on each standard in this instrument can be used to assess school performance on a specific standard.
6. How schools use achievement levels?
• Members of the TPS jointly examine Instruments SSE at every aspect of every standard. Should be prepared ministerial regulation, or government regulation indicators related to the SNP as the reference.
• Based on the real conditions of school, members of the polling stations to assess whether their schools are included in levels 1, 2, 3 or 4 in the achievement of these eight SNPs. For example there are aspects of the Content Standards suitability and relevance of the curriculum as well as aspects of the provision of needs for self-development. It could be aspects of appropriateness and relevance of the curriculum at level 4, but aspects of the need for self-development at level 2. It's not a problem. Achievement level on each standard describing what circumstances school performance conditions at the time of penialian associated with a particular question.
• After determining the level of achievement, schools need to include physical evidence of his confession. Examples of physical evidence on community participation in school life of the school committee meetings, minutes, attendance list, and invitations.
• The results of all assessments and determining the level of achievement of school performance for certain aspects of each standard were written on pieces of the assessment report or summary to include the appropriate physical evidence (see the description on the number 5 above).
• Schools determine the level of achievement and not just give a check mark (tick) on each item in SSE Instruments.
• Level of achievement of school performance may differ in different aspects. This is important because the school must provide performance reports as is. In the implementation of SSE are performed each year, schools have a real basic aspects and standards that require continuous improvement.
• Using this instrument SSE, schools can measure their performance impact on the learning of students. Schools can also check the results and follow up on improvement of learning services provided to meet the learning needs of learners.
7. What type of evidence can be shown?
• Physical evidence that describes the level of achievement must be in accordance with aspects or standards being assessed. For that need to be utilized various sources of information that can be used as physical evidence such as study notes, observations, and interviews / consultations with stakeholders such as school committees, parents, teachers, students, and other related elements.
• Keep in mind that the qualitative information that describes the reality can be derived from quantitative information. For example, Teaching Implementation Plan (RPP) is not merely a record of how the teaching carried out. The existence of the curriculum document is not the only evidence that the curriculum has been implemented.
• Various types of physical evidence can be used schools as evidence of certain levels of achievement. In addition, schools should also indicate the source of physical evidence as appropriate.
8. How does the SSE help draft the school development plan?
• TPS analyze the information collected, used it to identify and set priorities which then became the basis for the RPS / RKS and budgets / RKAS.
• Based on the SSE, the school developed the RPS with a priority to improve the quality of school performance are clearly defined, observable and measurable. Thus, the RPS into a document that includes aspects of school performance implementation, priorities, deadlines, and the measure of success.
• The SSE-related aspects of change and improvement. Efforts to change and the increase was only useful when embodied in a plan to improve education quality and learning outcomes of students. Expected by the kinds of data and information obtained from the SSE, the school was not only able to formulate development plans with the right, but the assessment of progress in the future will also be easier to do with the availability of reliable data. This by itself allows the school to show the results of efforts to increase them at all times.
9. What reports need to be prepared?
• School reports SSE results using a separate format, which presents the level of achievement as well as the evidence it uses. The results of SSE is used for basic preparation of RPS schools, but also reported to the Office of Education District / City or Religious Affairs to be analyzed further by utilizing the EMIS (Educational Management Information System / Education Management Information System) for planning purposes and various other quality improvement activities.
• school reports which revealed the findings can be used to perform internal validation (to assess and match) by the school superintendent, and external validation using a number of schools by the Working Group on School Supervision (KKPS) at district level with the help of staff from LPMP quality assurance.
• The SSE is an important part in monitoring the performance of schools by local governments in order to guarantee and improve the quality of education.
Evaluasi Diri Sekolah (EDS)
Evaluasi Diri Sekolah (EDS)
Evaluasi Diri Sekolah (EDS) di tiap sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan dilakukan oleh Tim Pengembang Sekolah (TPS) yang terdiri dari Kepala Sekolah, guru, Komite Sekolah, orang tua peserta didik, dan pengawas. Proses EDS dapat mengikutsertakan tokoh masyarakat atau tokoh agama setempat. Instrumen EDS ini khusus dirancang untuk digunakan oleh TPS dalam melakukan penilaian kinerja sekolah terhadap 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang hasilnya menjadi masukan dan dasar penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dalam upaya peningkatan kinerja sekolah. EDS sebaiknya dilaksanakan setelah anggota TPS mendapat pelatihan.
Informasi ringkas tentang EDS dapat dilihat di bawah ini:
1. Apakah yang dimaksud dengan Evaluasi Diri Sekolah?
• Evaluasi diri sekolah adalah proses yang mengikutsertakan semua pemangku kepentingan untuk membantu sekolah dalam menilai mutu penyelenggaraan pendidikan berdasarkan indikator-indikator kunci yang mengacu pada 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP).
• Melalui EDS kekuatan dan kemajuan sekolah dapat diketahui dan aspek-aspek yang memerlukan peningkatan dapat diidentifikasi.
• Proses evaluasi diri sekolah merupakan siklus, yang dimulai dengan pembentukan TPS, pelatihan penggunaan Instrumen, pelaksanaan EDS di sekolah dan penggunaan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
• TPS mengumpulkan informasi dari berbagai sumber untuk menilai kinerja sekolah berdasarkan indikator-indikator yang dirumuskan dalam Instrumen. Kegiatan ini melibatkan semua pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah untuk memperoleh informasi dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan sekolah.
• EDS juga akan melihat visi dan misi sekolah. Apabila sekolah belum memiliki visi dan misi, maka diharapkan kegiatan ini akan memacu sekolah membuat atau memperbaiki visi dan misi dalam mencapai kinerja sekolah yang diinginkan.
• Hasil EDS digunakan sebagai bahan untuk menetapkan aspek yang menjadi prioritas dalam rencana peningkatan dan pengembangan sekolah pada RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
• Laporan hasil EDS digunakan oleh Pengawas untuk kepentingan Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah (MSPD) sebagai bahan penyusunan perencanaan pendidikan pada tingkat kabupaten/kota.
2. Apa yang diperoleh sekolah dari hasil EDS?
• Seberapa baik kinerja sekolah? Dengan EDS akan diperoleh informasi mengenai pengelolaan sekolah yang telah memenuhi SNP untuk digunakan sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
• Bagaimana mengetahui kinerja sekolah sesungguhnya? Dengan EDS akan diperoleh informasi tentang kinerja sekolah yang sebenarnya dan informasi tersebut diverifikasi dengan bukti-bukti fisik yang sesuai.
• Bagaimana memperbaiki kinerja sekolah? Sekolah menggunakan informasi yang dikumpulkan dalam EDS untuk menetapkan apa yang menjadi prioritas bagi peningkatan sekolah dan digunakan untuk mempersiapkan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
3. Keuntungan apa yang akan diperoleh sekolah dari EDS?
• Sekolah mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya sebagai dasar penyusunan rencana pengembangan lebih lanjut.
• Sekolah mampu mengenal peluang untuk memperbaiki mutu pendidikan, menilai keberhasilan upaya peningkatan, dan melakukan penyesuaian program-program yang ada.
• Sekolah mampu mengetahui tantangan yang dihadapi dan mendiagnosis jenis kebutuhan yang diperlukan untuk perbaikan.
• Sekolah dapat mengetahui tingkat pencapaian kinerja berdasarkan 8 SNP.
• Sekolah dapat menyediakan laporan resmi kepada para pemangku kepentingan tentang kemajuan dan hasil yang dicapai.
4. Seberapa sering sekolah melakukan EDS?
• Sekolah melakukan proses EDS setiap tahun sekali.
5. Bagaimana bentuk Instrumen EDS?
Instrumen EDS terdiri dari 8 (delapan) bagian sesuai dengan 8 SNP. Setiap bagian terdiri atas :
• Serangkaian pertanyaan terkait dengan SNP sebagai dasar bagi sekolah dalam memperoleh informasi kinerjanya yang bersifat kualitatif.
• Setiap standar bisa terdiri dari beberapa aspek yang memberikan gambaran lebih menyeluruh .
• Setiap aspek dari standar terdiri dari 4 tingkat pencapaian : tingkat pencapaian 1 berarti kurang, 2 berarti sedang, 3 berarti baik, dan 4 berarti amat baik.
• Tiap tingkatan pencapaian mempunyai beberapa indikator.
• Pada bagian akhir dari aspek setiap standar, terdapat halaman rekapitulasi untuk menuliskan hasil penilaian pencapaian yang diperoleh. Halaman rekapitulasi ini terdiri dari bukti fisik yang menguatkan pengakuan atas tingkat pencapaian, deskripsi umum temuan yang diperoleh untuk menilai aspek tersebut, dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah.
• Sejumlah pertanyaan terkait dengan 8 SNP yang paling erat hubungannya dengan mutu pembelajaran dan aspek-aspek yang perlu dikembangkan bagi keperluan penyusunan rencana peningkatan sekolah.
• Tingkat pencapaian pada tiap Standar dalam Instrumen ini dapat digunakan sekolah untuk menilai kinerjanya pada standar tertentu.
6. Bagaimana sekolah menggunakan tingkat pencapaian?
• Anggota TPS secara bersama mencermati Instrumen EDS pada setiap aspek dari setiap standar. Sebaiknya perlu disiapkan peraturan menteri, indikator atau peraturan pemerintah yang berkaitan dengan SNP sebagai rujukan.
• Berdasarkan kondisi nyata sekolah, anggota TPS menilai apakah sekolah mereka termasuk dalam tingkatan 1, 2, 3 atau 4 dalam pencapaian 8 SNP ini. Misalnya pada Standar Isi ada aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum serta aspek penyediaan kebutuhan untuk pengembangan diri. Bisa saja aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum berada di tingkat 4, tapi aspek kebutuhan untuk pengembangan diri ada di tingkat 2. Ini tidak menjadi masalah. Tingkat pencapaian pada setiap standar menggambarkan keadaan seperti apa kondisi kinerja sekolah pada saat dilakukan penialian terkait dengan pertanyaan tertentu.
• Setelah menentukan tingkat pencapaiannya, sekolah perlu menyertakan bukti fisik atas pengakuannya. Contoh bukti fisik atas keikutsertaan masyarakat dalam kehidupan sekolah berupa rapat komite sekolah, notulen, daftar hadir, dan undangan.
• Hasil semua penilaian dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah untuk aspek tertentu pada setiap standar ditulis pada lembar laporan penilaian atau rekapitulasi dengan menyertakan bukti fisik yang sesuai (lihat keterangan pada nomor 5 di atas).
• Sekolah menetapkan tingkat pencapaian kinerja dan bukan hanya sekedar memberikan tanda cek (contreng) pada setiap butir dalam Instrumen EDS.
• Tingkat pencapaian kinerja sekolah bisa berbeda dalam aspek yang berbeda pula. Hal ini penting sebab sekolah harus memberikan laporan kinerja apa adanya. Dalam pelaksanaan EDS yang dilakukan setiap tahun, sekolah mempunyai dasar nyata aspek dan standar yang memerlukan perbaikan secara terus-menerus.
• Dengan menggunakan Instrumen EDS ini, sekolah dapat mengukur dampak kinerjanya terhadap pembelajaran peserta didik. Sekolah juga dapat memeriksa hasil dan tindak lanjutnya terhadap perbaikan layanan pembelajaran yang diberikan dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran peserta didik.
7. Jenis bukti apa yang dapat ditunjukkan?
• Bukti fisik yang menggambarkan tingkat pencapaian harus sesuai dengan aspek atau standar yang dinilai. Untuk itu perlu dimanfaatkan berbagai sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai bukti fisik misalnya kajian catatan, hasil observasi, dan hasil wawancara/konsultasi dengan pemangku kepentingan seperti komite sekolah, orang tua, guru-guru, siswa, dan unsur lain yang terkait.
• Perlu diingat bahwa informasi kualitatif yang menggambarkan kenyataan dapat berasal dari informasi kuantitatif. Sebagai contoh, Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP) tidak sekedar merupakan catatan mengenai bagaimana pengajaran dilaksanakan. Keberadaan dokumen kurikulum bukan satu-satunya bukti bahwa kurikulum telah dilaksanakan.
• Berbagai jenis bukti fisik dapat digunakan sekolah sebagai bukti tingkat pencapaian tertentu. Selain itu, sekolah perlu juga menunjukkan sumber bukti fisik lainnya yang sesuai.
8. Bagaimana proses EDS membantu penyusunan rencana pengembangan sekolah?
• TPS menganalisis informasi yang dikumpulkan, menggunakannya untuk mengidentifikasi dan menetapkan prioritas yang selanjutnya menjadi dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
• Berdasarkan hasil EDS, sekolah mengembangkan RPS dengan prioritas peningkatan mutu kinerja sekolah yang dirumuskan secara jelas, dapat diobservasi dan diukur. Dengan demikian, RPS menjadi dokumen kinerja sekolah yang meliputi aspek implementasi, skala prioritas, batas waktu, dan ukuran keberhasilannya.
• Proses EDS berkaitan dengan aspek perubahan dan peningkatan. Upaya perubahan dan peningkatan tersebut hanya bermanfaat apabila diwujudkan dalam perencanaan bagi peningkatan mutu pendidikan dan hasil belajar peserta didik. Diharapkan dengan adanya ragam data dan informasi yang diperoleh dari hasil EDS, sekolah bukan saja dapat merumuskan perencanaan pengembangan dengan tepat, akan tetapi penilaian kemajuan di masa depan juga akan lebih mudah dilakukan dengan tersedianya data yang dapat dipercaya. Hal tersebut dengan sendirinya memudahkan sekolah untuk menunjukkan hasil-hasil upaya peningkatan mereka setiap saat.
9. Laporan apa yang perlu disiapkan?
• Sekolah menyusun laporan hasil EDS dengan menggunakan format yang terpisah, yang menyajikan tingkat pencapaian serta bukti-bukti yang digunakannya. Hasil EDS digunakan untuk dasar penyusunan RPS sekolah, namun dilaporkan juga ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Kandepag untuk dianalisis lanjut dengan memanfaatkan EMIS (Educational Management Information System/Sistem Informasi Manajemen Pendidikan) bagi keperluan perencanaan dan berbagai kegiatan peningkatan mutu lainnya.
• Laporan sekolah yang mengungkapkan berbagai temuan dapat digunakan untuk melakukan validasi internal (menilai dan mencocokkan) oleh pengawas sekolah, dan validasi external dengan menggunakan beberapa sekolah oleh Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) pada tingkat kecamatan dengan bantuan staf penjaminan mutu dari LPMP.
• Hasil EDS merupakan bagian yang penting dalam kegiatan monitoring kinerja sekolah oleh pemerintah daerah dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan.
Evaluasi Diri Sekolah (EDS) di tiap sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan dilakukan oleh Tim Pengembang Sekolah (TPS) yang terdiri dari Kepala Sekolah, guru, Komite Sekolah, orang tua peserta didik, dan pengawas. Proses EDS dapat mengikutsertakan tokoh masyarakat atau tokoh agama setempat. Instrumen EDS ini khusus dirancang untuk digunakan oleh TPS dalam melakukan penilaian kinerja sekolah terhadap 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang hasilnya menjadi masukan dan dasar penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dalam upaya peningkatan kinerja sekolah. EDS sebaiknya dilaksanakan setelah anggota TPS mendapat pelatihan.
Informasi ringkas tentang EDS dapat dilihat di bawah ini:
1. Apakah yang dimaksud dengan Evaluasi Diri Sekolah?
• Evaluasi diri sekolah adalah proses yang mengikutsertakan semua pemangku kepentingan untuk membantu sekolah dalam menilai mutu penyelenggaraan pendidikan berdasarkan indikator-indikator kunci yang mengacu pada 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP).
• Melalui EDS kekuatan dan kemajuan sekolah dapat diketahui dan aspek-aspek yang memerlukan peningkatan dapat diidentifikasi.
• Proses evaluasi diri sekolah merupakan siklus, yang dimulai dengan pembentukan TPS, pelatihan penggunaan Instrumen, pelaksanaan EDS di sekolah dan penggunaan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
• TPS mengumpulkan informasi dari berbagai sumber untuk menilai kinerja sekolah berdasarkan indikator-indikator yang dirumuskan dalam Instrumen. Kegiatan ini melibatkan semua pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah untuk memperoleh informasi dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan sekolah.
• EDS juga akan melihat visi dan misi sekolah. Apabila sekolah belum memiliki visi dan misi, maka diharapkan kegiatan ini akan memacu sekolah membuat atau memperbaiki visi dan misi dalam mencapai kinerja sekolah yang diinginkan.
• Hasil EDS digunakan sebagai bahan untuk menetapkan aspek yang menjadi prioritas dalam rencana peningkatan dan pengembangan sekolah pada RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
• Laporan hasil EDS digunakan oleh Pengawas untuk kepentingan Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah (MSPD) sebagai bahan penyusunan perencanaan pendidikan pada tingkat kabupaten/kota.
2. Apa yang diperoleh sekolah dari hasil EDS?
• Seberapa baik kinerja sekolah? Dengan EDS akan diperoleh informasi mengenai pengelolaan sekolah yang telah memenuhi SNP untuk digunakan sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
• Bagaimana mengetahui kinerja sekolah sesungguhnya? Dengan EDS akan diperoleh informasi tentang kinerja sekolah yang sebenarnya dan informasi tersebut diverifikasi dengan bukti-bukti fisik yang sesuai.
• Bagaimana memperbaiki kinerja sekolah? Sekolah menggunakan informasi yang dikumpulkan dalam EDS untuk menetapkan apa yang menjadi prioritas bagi peningkatan sekolah dan digunakan untuk mempersiapkan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
3. Keuntungan apa yang akan diperoleh sekolah dari EDS?
• Sekolah mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya sebagai dasar penyusunan rencana pengembangan lebih lanjut.
• Sekolah mampu mengenal peluang untuk memperbaiki mutu pendidikan, menilai keberhasilan upaya peningkatan, dan melakukan penyesuaian program-program yang ada.
• Sekolah mampu mengetahui tantangan yang dihadapi dan mendiagnosis jenis kebutuhan yang diperlukan untuk perbaikan.
• Sekolah dapat mengetahui tingkat pencapaian kinerja berdasarkan 8 SNP.
• Sekolah dapat menyediakan laporan resmi kepada para pemangku kepentingan tentang kemajuan dan hasil yang dicapai.
4. Seberapa sering sekolah melakukan EDS?
• Sekolah melakukan proses EDS setiap tahun sekali.
5. Bagaimana bentuk Instrumen EDS?
Instrumen EDS terdiri dari 8 (delapan) bagian sesuai dengan 8 SNP. Setiap bagian terdiri atas :
• Serangkaian pertanyaan terkait dengan SNP sebagai dasar bagi sekolah dalam memperoleh informasi kinerjanya yang bersifat kualitatif.
• Setiap standar bisa terdiri dari beberapa aspek yang memberikan gambaran lebih menyeluruh .
• Setiap aspek dari standar terdiri dari 4 tingkat pencapaian : tingkat pencapaian 1 berarti kurang, 2 berarti sedang, 3 berarti baik, dan 4 berarti amat baik.
• Tiap tingkatan pencapaian mempunyai beberapa indikator.
• Pada bagian akhir dari aspek setiap standar, terdapat halaman rekapitulasi untuk menuliskan hasil penilaian pencapaian yang diperoleh. Halaman rekapitulasi ini terdiri dari bukti fisik yang menguatkan pengakuan atas tingkat pencapaian, deskripsi umum temuan yang diperoleh untuk menilai aspek tersebut, dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah.
• Sejumlah pertanyaan terkait dengan 8 SNP yang paling erat hubungannya dengan mutu pembelajaran dan aspek-aspek yang perlu dikembangkan bagi keperluan penyusunan rencana peningkatan sekolah.
• Tingkat pencapaian pada tiap Standar dalam Instrumen ini dapat digunakan sekolah untuk menilai kinerjanya pada standar tertentu.
6. Bagaimana sekolah menggunakan tingkat pencapaian?
• Anggota TPS secara bersama mencermati Instrumen EDS pada setiap aspek dari setiap standar. Sebaiknya perlu disiapkan peraturan menteri, indikator atau peraturan pemerintah yang berkaitan dengan SNP sebagai rujukan.
• Berdasarkan kondisi nyata sekolah, anggota TPS menilai apakah sekolah mereka termasuk dalam tingkatan 1, 2, 3 atau 4 dalam pencapaian 8 SNP ini. Misalnya pada Standar Isi ada aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum serta aspek penyediaan kebutuhan untuk pengembangan diri. Bisa saja aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum berada di tingkat 4, tapi aspek kebutuhan untuk pengembangan diri ada di tingkat 2. Ini tidak menjadi masalah. Tingkat pencapaian pada setiap standar menggambarkan keadaan seperti apa kondisi kinerja sekolah pada saat dilakukan penialian terkait dengan pertanyaan tertentu.
• Setelah menentukan tingkat pencapaiannya, sekolah perlu menyertakan bukti fisik atas pengakuannya. Contoh bukti fisik atas keikutsertaan masyarakat dalam kehidupan sekolah berupa rapat komite sekolah, notulen, daftar hadir, dan undangan.
• Hasil semua penilaian dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah untuk aspek tertentu pada setiap standar ditulis pada lembar laporan penilaian atau rekapitulasi dengan menyertakan bukti fisik yang sesuai (lihat keterangan pada nomor 5 di atas).
• Sekolah menetapkan tingkat pencapaian kinerja dan bukan hanya sekedar memberikan tanda cek (contreng) pada setiap butir dalam Instrumen EDS.
• Tingkat pencapaian kinerja sekolah bisa berbeda dalam aspek yang berbeda pula. Hal ini penting sebab sekolah harus memberikan laporan kinerja apa adanya. Dalam pelaksanaan EDS yang dilakukan setiap tahun, sekolah mempunyai dasar nyata aspek dan standar yang memerlukan perbaikan secara terus-menerus.
• Dengan menggunakan Instrumen EDS ini, sekolah dapat mengukur dampak kinerjanya terhadap pembelajaran peserta didik. Sekolah juga dapat memeriksa hasil dan tindak lanjutnya terhadap perbaikan layanan pembelajaran yang diberikan dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran peserta didik.
7. Jenis bukti apa yang dapat ditunjukkan?
• Bukti fisik yang menggambarkan tingkat pencapaian harus sesuai dengan aspek atau standar yang dinilai. Untuk itu perlu dimanfaatkan berbagai sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai bukti fisik misalnya kajian catatan, hasil observasi, dan hasil wawancara/konsultasi dengan pemangku kepentingan seperti komite sekolah, orang tua, guru-guru, siswa, dan unsur lain yang terkait.
• Perlu diingat bahwa informasi kualitatif yang menggambarkan kenyataan dapat berasal dari informasi kuantitatif. Sebagai contoh, Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP) tidak sekedar merupakan catatan mengenai bagaimana pengajaran dilaksanakan. Keberadaan dokumen kurikulum bukan satu-satunya bukti bahwa kurikulum telah dilaksanakan.
• Berbagai jenis bukti fisik dapat digunakan sekolah sebagai bukti tingkat pencapaian tertentu. Selain itu, sekolah perlu juga menunjukkan sumber bukti fisik lainnya yang sesuai.
8. Bagaimana proses EDS membantu penyusunan rencana pengembangan sekolah?
• TPS menganalisis informasi yang dikumpulkan, menggunakannya untuk mengidentifikasi dan menetapkan prioritas yang selanjutnya menjadi dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
• Berdasarkan hasil EDS, sekolah mengembangkan RPS dengan prioritas peningkatan mutu kinerja sekolah yang dirumuskan secara jelas, dapat diobservasi dan diukur. Dengan demikian, RPS menjadi dokumen kinerja sekolah yang meliputi aspek implementasi, skala prioritas, batas waktu, dan ukuran keberhasilannya.
• Proses EDS berkaitan dengan aspek perubahan dan peningkatan. Upaya perubahan dan peningkatan tersebut hanya bermanfaat apabila diwujudkan dalam perencanaan bagi peningkatan mutu pendidikan dan hasil belajar peserta didik. Diharapkan dengan adanya ragam data dan informasi yang diperoleh dari hasil EDS, sekolah bukan saja dapat merumuskan perencanaan pengembangan dengan tepat, akan tetapi penilaian kemajuan di masa depan juga akan lebih mudah dilakukan dengan tersedianya data yang dapat dipercaya. Hal tersebut dengan sendirinya memudahkan sekolah untuk menunjukkan hasil-hasil upaya peningkatan mereka setiap saat.
9. Laporan apa yang perlu disiapkan?
• Sekolah menyusun laporan hasil EDS dengan menggunakan format yang terpisah, yang menyajikan tingkat pencapaian serta bukti-bukti yang digunakannya. Hasil EDS digunakan untuk dasar penyusunan RPS sekolah, namun dilaporkan juga ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Kandepag untuk dianalisis lanjut dengan memanfaatkan EMIS (Educational Management Information System/Sistem Informasi Manajemen Pendidikan) bagi keperluan perencanaan dan berbagai kegiatan peningkatan mutu lainnya.
• Laporan sekolah yang mengungkapkan berbagai temuan dapat digunakan untuk melakukan validasi internal (menilai dan mencocokkan) oleh pengawas sekolah, dan validasi external dengan menggunakan beberapa sekolah oleh Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) pada tingkat kecamatan dengan bantuan staf penjaminan mutu dari LPMP.
• Hasil EDS merupakan bagian yang penting dalam kegiatan monitoring kinerja sekolah oleh pemerintah daerah dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan.
Character Education
Character Education
Indonesia needs of human resources in sufficient quantity and quality as the main supporter of the development. To meet the human resource, education has a crucial role.
This is in accordance with Act No. 20 of 2003 on National Education System in Article 3, which states that the national education serves to develop skills and shaping character and civilization of the nation's dignity in the framework of the nation's intellectual life. National education aims at developing the potential of learners in order to become a man of faith and piety to God Almighty, noble, healthy, knowledgeable, capable, creative, independent, and become citizens of a democratic and accountable.
Based on the function and purpose of national education, it is clear that education at all levels, including junior high school (SMP) should be organized systematically to achieve that goal. This is related to character formation of students so as to compete, ethics, morals, manners and interact with the community. Based on research at Harvard University in the United States (Ibrahim Ali Akbar, 2000), turns a person's success is not determined solely by the knowledge and technical skills (hard skills), but more by the ability to manage ourselves and others (soft skills). This study reveals, success is determined only about 20 percent by the hard skills and the remaining 80 percent by soft skills. Even the most successful people in the world can succeed because the more support the ability of soft skills rather than hard skills. This suggests that the quality character education learners is very important to be improved.
Character is the values of human behavior that relate to the Almighty God, self, fellow human beings, the environment, and nationhood embodied in thoughts, attitudes, feelings, words, and actions based on religious norms, laws, manners, culture , and customs.
Character education is an investment system of values to the character of the school community that includes components of knowledge, awareness or volition, and actions to implement those values, both to the Almighty God (Almighty), self, neighbor, neighborhood, or nationality so become a man perfect man. In character education in schools, all components (stakeholders) should be involved, including the components of education itself, ie the content of curriculum, learning and assessment, quality of relationships, handling or management subjects, school management, implementation of the activity or co-curricular activities , the empowerment infrastructure, financing, and working ethos throughout the school community and the environment.
In spite of various shortcomings in the practice of education in Indonesia, when seen from the national standard of education is the reference for curriculum development (SBC), and implementing learning and assessment in schools, educational purposes in school can actually be achieved properly. Coaching character is also included in the material to be taught and mastered as well as realized by learners in everyday life. The problem is, character education in school for this new level of touch on the introduction of norms or values, and yet at the level of internalization and action in everyday life.
In an effort to improve the appropriateness and quality of character education, the Ministry of Education develop a grand design for each line of character education, level and type of educational unit. Grand design became a reference conceptual and operational development, implementation, and assessment on each line and level of education. Configuring the characters in the context of the totality of the process of psychological and socio-cultural are grouped in: Sports Heart (Spiritual and emotional development), Sports Thought (intellectual development), Sports and Kinesthetic (Physical and kinestetic development), and Physical Pain and the Willing (Affective and Creativity development). Development and implementation of character education needs to be done by referring to the grand design.
According to Law No. 20 Year 2003 on National Education System in Article 13 Paragraph 1 states that the point of education consists of formal education, nonformal, and informal that can complement and enrich each other. Informal education is the path of family and environmental education. Informal education actually has a role and contributed greatly to the success of education. Learners enrolled in school only about 7 hours per day, or less than 30%. The rest (70%), learners are in the family and the neighborhood. When viewed from the aspect of quantity time, education in schools contribute only 30% of the educational outcomes of students.
During this time, informal education, especially within the family environment has not provided a significant contribution in supporting the achievement of competence and character formation of students. The flurry of activity and working parents who are relatively high, the lack of understanding of parents in educating children in a family environment, social influences in the environment, and the influence of electronic media suspected to negatively affect the development and achievement of learning outcomes of students. One alternative to overcome these problems is through an integrated character education, which integrate and optimize the activities of informal education with formal education a family environment at school. In this case, the learning time of students at school need to be optimized in order to increase the quality of learning outcomes can be achieved, especially in the character formation of students.
Character education can be integrated in the learning in each subject. Instructional material relating to the norms or values in each subject should be developed, explicit, linked to the context of everyday life. Thus, learning the values of character not only on the cognitive level, but it touches on the internalization, and real practice in the lives of learners in the community everyday.
Extra-curricular activities that had been held the school is one potential medium for character building and improving the academic quality of students.Extracurricular activities are educational activities outside of subjects to assist the development of learners in accordance with the needs, potentials, talents, and interests through activities that are specifically organized by educators and educational staff or a capable and berkewenangan at school. Through extra-curricular activities are expected to develop skills and a sense of social responsibility, as well as the potential and achievements of learners.
Character education in schools is also strongly associated with the management or the management of schools. The management question is how character education is planned, implemented and controlled in the educational activities in schools adequately. Management include, among others, values that need to be implanted, curriculum, learning, assessment, educators and education personnel, and other related components. Thus, the school management is one of the effective medium in character education in schools.
Mochtar Buchori (2007), character education should bring students to the introduction of value cognitively, affectively value appreciation, and finally to the practice of real value. Issues of character education that has been there in junior high school need to be assessed, and sought alternatives, alternative solutions, and need to be developed in a more operational so easily implemented in schools.
Character education aims to improve the quality of implementation and educational outcomes in schools that lead to the achievement of noble character and character formation of students as a whole, integrated, and balanced, according to competency standards. Character education through junior high school students are expected to be able to independently increase and use knowledge, assess and internalize and personalize the values of character and noble character, so manifest in everyday behavior.
Character education at the institution level leads to the formation of school culture, ie values that underlie behavior, traditions, everyday customs, and symbols that are practiced by all schools, and communities around the school. School culture is the hallmark, the character or character, and the image of the school in the eyes of the public.
Target is a character education throughout the secondary school (SMP) in the Indonesian public and private. All citizens of the school, including learners, teachers, administrative staff, and school leaders become targets of this program.The schools that have managed to implement character education well serve as best practices, which serve as a model to be disseminated to other schools.
Through this program are expected to graduate school to have faith and devotion to God Almighty, noble, noble character, academic competence and integrated whole, and also have a good personality fit the norms and culture of Indonesia. On a broader level, character education into school culture might be expected.
The success of character education programs can be known through the achievement of indicators by learners as contained in the Competency Standards graduate school, which among others include the following:
1. Practicing religion in accordance with the stages of adolescent development;
2. Understand the advantages and disadvantages of self;
3. Demonstrate an attitude of confidence;
4. Abide by social rules that prevail in the wider environment;
5. Appreciate the diversity of religious, cultural, ethnic, racial, and socioeconomic groups within the national scope;
6. Finding and applying information from the surrounding environment and other sources logically, critically and creatively;
7. Demonstrated ability to think logically, critically, creatively, and innovative;
8. Demonstrated ability to learn independently in accordance with its potential;
9. Demonstrated ability to analyze and solve problems in everyday life;
10. Describe the natural and social phenomena;
11. Utilizing environmentally responsible manner;
12. Applying the values of unity in the life of society, nation and the state in order to achieve unity within the unitary Republic of Indonesia;
13. Appreciate works of art and national culture;
14. Appreciate the work tasks and have the ability to work;
15. Applying to live clean, healthy, fit, safe, and enjoy free time well;
16. Communicate and interact effectively and courteously;
17. Understanding the rights and obligations of self and others in the association in the community; Respect differences of opinion;
18. Shows predilection to read and write short simple texts;
19. Demonstrate listening skills, speaking, reading, and writing in Indonesian language and simple English;
20. Mastered the knowledge required to follow the secondary education;
21. Entrepreneurial spirit.
At school level, the criteria for character education attainment is a culture of the school, behavior, traditions, everyday customs, and symbols that are practiced by all schools, and communities around the schools must be grounded in those values.
Indonesia needs of human resources in sufficient quantity and quality as the main supporter of the development. To meet the human resource, education has a crucial role.
This is in accordance with Act No. 20 of 2003 on National Education System in Article 3, which states that the national education serves to develop skills and shaping character and civilization of the nation's dignity in the framework of the nation's intellectual life. National education aims at developing the potential of learners in order to become a man of faith and piety to God Almighty, noble, healthy, knowledgeable, capable, creative, independent, and become citizens of a democratic and accountable.
Based on the function and purpose of national education, it is clear that education at all levels, including junior high school (SMP) should be organized systematically to achieve that goal. This is related to character formation of students so as to compete, ethics, morals, manners and interact with the community. Based on research at Harvard University in the United States (Ibrahim Ali Akbar, 2000), turns a person's success is not determined solely by the knowledge and technical skills (hard skills), but more by the ability to manage ourselves and others (soft skills). This study reveals, success is determined only about 20 percent by the hard skills and the remaining 80 percent by soft skills. Even the most successful people in the world can succeed because the more support the ability of soft skills rather than hard skills. This suggests that the quality character education learners is very important to be improved.
Character is the values of human behavior that relate to the Almighty God, self, fellow human beings, the environment, and nationhood embodied in thoughts, attitudes, feelings, words, and actions based on religious norms, laws, manners, culture , and customs.
Character education is an investment system of values to the character of the school community that includes components of knowledge, awareness or volition, and actions to implement those values, both to the Almighty God (Almighty), self, neighbor, neighborhood, or nationality so become a man perfect man. In character education in schools, all components (stakeholders) should be involved, including the components of education itself, ie the content of curriculum, learning and assessment, quality of relationships, handling or management subjects, school management, implementation of the activity or co-curricular activities , the empowerment infrastructure, financing, and working ethos throughout the school community and the environment.
In spite of various shortcomings in the practice of education in Indonesia, when seen from the national standard of education is the reference for curriculum development (SBC), and implementing learning and assessment in schools, educational purposes in school can actually be achieved properly. Coaching character is also included in the material to be taught and mastered as well as realized by learners in everyday life. The problem is, character education in school for this new level of touch on the introduction of norms or values, and yet at the level of internalization and action in everyday life.
In an effort to improve the appropriateness and quality of character education, the Ministry of Education develop a grand design for each line of character education, level and type of educational unit. Grand design became a reference conceptual and operational development, implementation, and assessment on each line and level of education. Configuring the characters in the context of the totality of the process of psychological and socio-cultural are grouped in: Sports Heart (Spiritual and emotional development), Sports Thought (intellectual development), Sports and Kinesthetic (Physical and kinestetic development), and Physical Pain and the Willing (Affective and Creativity development). Development and implementation of character education needs to be done by referring to the grand design.
According to Law No. 20 Year 2003 on National Education System in Article 13 Paragraph 1 states that the point of education consists of formal education, nonformal, and informal that can complement and enrich each other. Informal education is the path of family and environmental education. Informal education actually has a role and contributed greatly to the success of education. Learners enrolled in school only about 7 hours per day, or less than 30%. The rest (70%), learners are in the family and the neighborhood. When viewed from the aspect of quantity time, education in schools contribute only 30% of the educational outcomes of students.
During this time, informal education, especially within the family environment has not provided a significant contribution in supporting the achievement of competence and character formation of students. The flurry of activity and working parents who are relatively high, the lack of understanding of parents in educating children in a family environment, social influences in the environment, and the influence of electronic media suspected to negatively affect the development and achievement of learning outcomes of students. One alternative to overcome these problems is through an integrated character education, which integrate and optimize the activities of informal education with formal education a family environment at school. In this case, the learning time of students at school need to be optimized in order to increase the quality of learning outcomes can be achieved, especially in the character formation of students.
Character education can be integrated in the learning in each subject. Instructional material relating to the norms or values in each subject should be developed, explicit, linked to the context of everyday life. Thus, learning the values of character not only on the cognitive level, but it touches on the internalization, and real practice in the lives of learners in the community everyday.
Extra-curricular activities that had been held the school is one potential medium for character building and improving the academic quality of students.Extracurricular activities are educational activities outside of subjects to assist the development of learners in accordance with the needs, potentials, talents, and interests through activities that are specifically organized by educators and educational staff or a capable and berkewenangan at school. Through extra-curricular activities are expected to develop skills and a sense of social responsibility, as well as the potential and achievements of learners.
Character education in schools is also strongly associated with the management or the management of schools. The management question is how character education is planned, implemented and controlled in the educational activities in schools adequately. Management include, among others, values that need to be implanted, curriculum, learning, assessment, educators and education personnel, and other related components. Thus, the school management is one of the effective medium in character education in schools.
Mochtar Buchori (2007), character education should bring students to the introduction of value cognitively, affectively value appreciation, and finally to the practice of real value. Issues of character education that has been there in junior high school need to be assessed, and sought alternatives, alternative solutions, and need to be developed in a more operational so easily implemented in schools.
Character education aims to improve the quality of implementation and educational outcomes in schools that lead to the achievement of noble character and character formation of students as a whole, integrated, and balanced, according to competency standards. Character education through junior high school students are expected to be able to independently increase and use knowledge, assess and internalize and personalize the values of character and noble character, so manifest in everyday behavior.
Character education at the institution level leads to the formation of school culture, ie values that underlie behavior, traditions, everyday customs, and symbols that are practiced by all schools, and communities around the school. School culture is the hallmark, the character or character, and the image of the school in the eyes of the public.
Target is a character education throughout the secondary school (SMP) in the Indonesian public and private. All citizens of the school, including learners, teachers, administrative staff, and school leaders become targets of this program.The schools that have managed to implement character education well serve as best practices, which serve as a model to be disseminated to other schools.
Through this program are expected to graduate school to have faith and devotion to God Almighty, noble, noble character, academic competence and integrated whole, and also have a good personality fit the norms and culture of Indonesia. On a broader level, character education into school culture might be expected.
The success of character education programs can be known through the achievement of indicators by learners as contained in the Competency Standards graduate school, which among others include the following:
1. Practicing religion in accordance with the stages of adolescent development;
2. Understand the advantages and disadvantages of self;
3. Demonstrate an attitude of confidence;
4. Abide by social rules that prevail in the wider environment;
5. Appreciate the diversity of religious, cultural, ethnic, racial, and socioeconomic groups within the national scope;
6. Finding and applying information from the surrounding environment and other sources logically, critically and creatively;
7. Demonstrated ability to think logically, critically, creatively, and innovative;
8. Demonstrated ability to learn independently in accordance with its potential;
9. Demonstrated ability to analyze and solve problems in everyday life;
10. Describe the natural and social phenomena;
11. Utilizing environmentally responsible manner;
12. Applying the values of unity in the life of society, nation and the state in order to achieve unity within the unitary Republic of Indonesia;
13. Appreciate works of art and national culture;
14. Appreciate the work tasks and have the ability to work;
15. Applying to live clean, healthy, fit, safe, and enjoy free time well;
16. Communicate and interact effectively and courteously;
17. Understanding the rights and obligations of self and others in the association in the community; Respect differences of opinion;
18. Shows predilection to read and write short simple texts;
19. Demonstrate listening skills, speaking, reading, and writing in Indonesian language and simple English;
20. Mastered the knowledge required to follow the secondary education;
21. Entrepreneurial spirit.
At school level, the criteria for character education attainment is a culture of the school, behavior, traditions, everyday customs, and symbols that are practiced by all schools, and communities around the schools must be grounded in those values.
Pendidikan Karakter
Tentang Pendidikan Karakter
Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.
Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia, apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP), dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah, tujuan pendidikan di SMP sebenarnya dapat dicapai dengan baik. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.
Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik.
Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik .
Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.
Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.
Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.
Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia negeri maupun swasta. Semua warga sekolah, meliputi para peserta didik, guru, karyawan administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.
Melalui program ini diharapkan lulusan SMP memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.
Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP, yang antara lain meliputi sebagai berikut:
1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;
2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;
3. Menunjukkan sikap percaya diri;
4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;
5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional;
6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif;
7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari;
10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;
11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab;
12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia;
13. Menghargai karya seni dan budaya nasional;
14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;
15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik;
16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;
17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; Menghargai adanya perbedaan pendapat;
18. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana;
19. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana;
20. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah;
21. Memiliki jiwa kewirausahaan.
Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.
Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.
Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia, apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP), dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah, tujuan pendidikan di SMP sebenarnya dapat dicapai dengan baik. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.
Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik.
Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik .
Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.
Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.
Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.
Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia negeri maupun swasta. Semua warga sekolah, meliputi para peserta didik, guru, karyawan administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.
Melalui program ini diharapkan lulusan SMP memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.
Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP, yang antara lain meliputi sebagai berikut:
1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;
2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;
3. Menunjukkan sikap percaya diri;
4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;
5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional;
6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif;
7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari;
10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;
11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab;
12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia;
13. Menghargai karya seni dan budaya nasional;
14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;
15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik;
16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;
17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; Menghargai adanya perbedaan pendapat;
18. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana;
19. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana;
20. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah;
21. Memiliki jiwa kewirausahaan.
Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.
Senin, 25 Juli 2011
why a woman could be having an affair
Thus Reasons Women Cheating
Men are pretty much cheating, but women who had an affair also is not small.Based on a research study conducted by the Coffee and Company, a marriage bureau in the UK, from about 3 thousand female respondents, at least 20 percent of women admitted to having an affair.
While the study conducted site askmen.com found 5 percent of women have or are cheating on their partners, while less than 3 percent of men admitted never or was having an affair. Why do women cheat? Here are the reasons:
Vengeance
According to relationship expert, Seth Meyers, Psy.D., a psychologist from Los Angeles and author of Dr. Seth's Love Prescription, cognitively to faithful men have just as a woman. However, this does not stop her for cheating. In fact, there are some women who feel vindictive if the spouse had an affair. Men are not emotional, so they usually can not feel pain the same unless he felt his own pain, once said Bonnie Weil, Ph.D., author of Adultery: The Forgivable Sin. Women feel cheated on is a way to equalize.
Finding an increase in adrenaline
An affair is the experience of fighting routines, thrilling, and some even say, a stress release. A woman having an affair sometimes just want to get the pleasure to have more of a man who loved her. Generally, a wife will try to explain and to tell her husband that there is a problem in the relationship merea. If the husband failed to help overcome the problem of the relationship, or just respond briefly, and then cheated on his wife because he felt he had no other choice.
Ego boost
Who would not want to be adored and praised? Generally, male affair will try to make the woman feel so great with all the words and praise for making her feel sexy and amazing do not like what was done by a current partner. Affair often occurs in relationships which makes the wife does not feel emotionally connected with the current partner.
If a wife feels neglected or feels abandoned by her husband, she will become brittle and easily ran into the affair, whether emotional or physical, a man who makes her feel special and wanted. When the strained relationship between two couples is certain each will try to hurt the ego, and this will open the door to problems.
To find a love affair
Long-standing relationship is very different from starting a new relationship.Chemical flow of love will be more lost the longer the relationship is established.Decrease the feeling of love that can not be denied, and it can happen, but it could be made to keep warm. It is important to keep and maintain the chemical remains on even though a love affair has long been intertwined. For example, by doing a 30 second kiss and hug 20 seconds, which can increase endorphin levels.Conflict creates passion, a marriage that is too "deep calm", is rarely an argument, an argument is rarely, rarely remove the contents of the liver, can actually lead to the infidelity of one. Of course that does not mean it must apply every day and every moment.
Want to get caught
Most women view infidelity as an escape hole, especially the wives who had children. If he already has children, it would be difficult for a woman to leave her husband without guilt. But the guilt will be reduced if not he who initiated the breakup. As a result, the wife will look for ways to reduce stress and guilt by having an affair, her husband would leave her anyway.
Bored with sex life
Couples who have been together for so long often complain that their sexual relationship is not as warm as it used to be, even no more sex. This could encourage women to seek other ways to satisfy his desire. Sometimes women feel cheated because there is no spontaneity in the relationship anymore. Sexual boredom can be one manifestation of it. Desire to have more frequent and different types can make a young woman having an affair. The wife who was still in the early 20s or younger may lead to infidelity as men, they also want sex more often, different sex, or wondered what it's like having sex with a man not her husband.
Feeling alone
When one feels that she and her husband no longer have the same interests, he will find himself in an emotional affair with a man who has the same interests.However, an emotional affair could quickly move to higher levels and became a sexual infidelity. Not a few women who had an affair to fill the void. According to Weil, affair raised a feeling of solitude and emptiness. This is a form of sense of hunger for a relationship.
Want to repeat the past
Sometimes, a woman's ex-girlfriend reminded how it feels to be a beautiful and desirable. Because the courtship with the former that the woman feel young, sexy, loose, pull, and came back to life, the woman wanted to re-experience it all again.
Attention and adventure
Women can easily be felt wasted, after working 24 hours at home, raising children, cleaning the house, some even worked in the office too. Women need to feel appreciated and thirst for validation. They also want to find an occasional pleasure. A woman who feels empty and hollow in her marriage was an easy prey to the type of "bad boy".
According to some psychologists argue, if you are looking for reasons in particular why women having an affair, most of the reason it can actually be overcome by a husband who would take the time to be more loving, caring, loving, and cooperative. A woman who is happy in her marriage relationship will not be cheated
Men are pretty much cheating, but women who had an affair also is not small.Based on a research study conducted by the Coffee and Company, a marriage bureau in the UK, from about 3 thousand female respondents, at least 20 percent of women admitted to having an affair.
While the study conducted site askmen.com found 5 percent of women have or are cheating on their partners, while less than 3 percent of men admitted never or was having an affair. Why do women cheat? Here are the reasons:
Vengeance
According to relationship expert, Seth Meyers, Psy.D., a psychologist from Los Angeles and author of Dr. Seth's Love Prescription, cognitively to faithful men have just as a woman. However, this does not stop her for cheating. In fact, there are some women who feel vindictive if the spouse had an affair. Men are not emotional, so they usually can not feel pain the same unless he felt his own pain, once said Bonnie Weil, Ph.D., author of Adultery: The Forgivable Sin. Women feel cheated on is a way to equalize.
Finding an increase in adrenaline
An affair is the experience of fighting routines, thrilling, and some even say, a stress release. A woman having an affair sometimes just want to get the pleasure to have more of a man who loved her. Generally, a wife will try to explain and to tell her husband that there is a problem in the relationship merea. If the husband failed to help overcome the problem of the relationship, or just respond briefly, and then cheated on his wife because he felt he had no other choice.
Ego boost
Who would not want to be adored and praised? Generally, male affair will try to make the woman feel so great with all the words and praise for making her feel sexy and amazing do not like what was done by a current partner. Affair often occurs in relationships which makes the wife does not feel emotionally connected with the current partner.
If a wife feels neglected or feels abandoned by her husband, she will become brittle and easily ran into the affair, whether emotional or physical, a man who makes her feel special and wanted. When the strained relationship between two couples is certain each will try to hurt the ego, and this will open the door to problems.
To find a love affair
Long-standing relationship is very different from starting a new relationship.Chemical flow of love will be more lost the longer the relationship is established.Decrease the feeling of love that can not be denied, and it can happen, but it could be made to keep warm. It is important to keep and maintain the chemical remains on even though a love affair has long been intertwined. For example, by doing a 30 second kiss and hug 20 seconds, which can increase endorphin levels.Conflict creates passion, a marriage that is too "deep calm", is rarely an argument, an argument is rarely, rarely remove the contents of the liver, can actually lead to the infidelity of one. Of course that does not mean it must apply every day and every moment.
Want to get caught
Most women view infidelity as an escape hole, especially the wives who had children. If he already has children, it would be difficult for a woman to leave her husband without guilt. But the guilt will be reduced if not he who initiated the breakup. As a result, the wife will look for ways to reduce stress and guilt by having an affair, her husband would leave her anyway.
Bored with sex life
Couples who have been together for so long often complain that their sexual relationship is not as warm as it used to be, even no more sex. This could encourage women to seek other ways to satisfy his desire. Sometimes women feel cheated because there is no spontaneity in the relationship anymore. Sexual boredom can be one manifestation of it. Desire to have more frequent and different types can make a young woman having an affair. The wife who was still in the early 20s or younger may lead to infidelity as men, they also want sex more often, different sex, or wondered what it's like having sex with a man not her husband.
Feeling alone
When one feels that she and her husband no longer have the same interests, he will find himself in an emotional affair with a man who has the same interests.However, an emotional affair could quickly move to higher levels and became a sexual infidelity. Not a few women who had an affair to fill the void. According to Weil, affair raised a feeling of solitude and emptiness. This is a form of sense of hunger for a relationship.
Want to repeat the past
Sometimes, a woman's ex-girlfriend reminded how it feels to be a beautiful and desirable. Because the courtship with the former that the woman feel young, sexy, loose, pull, and came back to life, the woman wanted to re-experience it all again.
Attention and adventure
Women can easily be felt wasted, after working 24 hours at home, raising children, cleaning the house, some even worked in the office too. Women need to feel appreciated and thirst for validation. They also want to find an occasional pleasure. A woman who feels empty and hollow in her marriage was an easy prey to the type of "bad boy".
According to some psychologists argue, if you are looking for reasons in particular why women having an affair, most of the reason it can actually be overcome by a husband who would take the time to be more loving, caring, loving, and cooperative. A woman who is happy in her marriage relationship will not be cheated
ALasan wanita bersuami berselingkuh.......... !!!!
Beginilah Alasan Wanita Berselingkuh
Pria berselingkuh sudah cukup banyak, tetapi wanita yang berselingkuh juga tidak sedikit. Berdasarkan penelitian sebuah studi yang dilanksanakan oleh Coffee and Company, sebuah biro pernikahan di Inggris, dari sekitar 3 ribu responden wanita, setidaknya 20 persen perempuan mengaku pernah berselingkuh.
Sementara studi yang dilangsungkan situs askmen.com menemukan 5 persen wanita pernah atau sedang berselingkuh dari pasangannya, sementara kurang dari 3 persen pria mengakui pernah atau sedang berselingkuh. Mengapa wanita berselingkuh? Berikut ini alasan-alasannya:
Balas dendam
Menurut ahli hubungan, Seth Meyers, Psy.D, psikolog asal Los Angeles dan pengarang dr Seth’s Love Prescription, pria memiliki kognitif untuk setia sama seperti wanita. Namun, hal ini tidak menghentikan wanita untuk berselingkuh. Malahan, ada sebagian wanita yang merasa ingin balas dendam jika pasangannya berselingkuh. Pria tidak emosional, jadi biasanya mereka tidak bisa merasakan sakit yang sama kecuali ia merasakan sendiri sakitnya, begitu tutur Bonnie Weil, Ph.D., penulis Adultery: The Forgivable Sin. Wanita merasa berselingkuh adalah cara untuk menyamakan kedudukan.
Mencari peningkatan adrenalin
Sebuah perselingkuhan adalah pengalaman yang melawan rutinitas, mendebarkan, dan bahkan ada yang mengatakan, sebuah pelepasan stres. Seorang perempuan berselingkuh kadang hanya ingin mendapatkan kesenangan untuk memiliki lebih dari 1 pria yang mencintainya. Umumnya, seorang istri akan mencoba menjelaskan dan memberi tahu suaminya bahwa ada masalah dalam hubungan merea. Jika si suami tak berhasil membantu mengatasi masalah hubungan itu, atau hanya menanggapi sekilas, si istri baru kemudian berselingkuh karena merasa ia tak memiliki pilihan lain.
Dorongan ego
Siapa yang tak mau dipuja dan dipuji? Umumnya, pria selingkuhan akan berusaha membuat si perempuan merasa sangat hebat dengan segala kata-kata dan pujian untuk membuatnya merasa seksi dan menakjubkan tidak seperti apa yang dilakukan oleh pasangannya yang sekarang. Berselingkuh seringkali terjadi pada hubungan yang membuat si istri tidak merasa terhubung secara emosional dengan pasangan yang sekarang.
Jika seorang istri merasa terabaikan atau merasa disia-siakan oleh suaminya, ia akan menjadi rapuh dan dengan mudahnya berlari ke perselingkuhan, baik emosional atau fisik, seorang pria yang membuatnya merasa spesial dan diinginkan. Saat hubungan menegang antara 2 pasangan sudah pasti masing-masing akan berusaha menyakiti ego, dan hal ini akan membuka pintu terhadap masalah.
Untuk mencari hubungan cinta
Hubungan yang sudah berlangsung lama sangat berbeda dari hubungan yang baru dimulai. Aliran kimiawi penuh cinta akan makin terhilang semakin lama hubungan itu terjalin. Penurunan rasa cinta itu tidak bisa dipungkiri, dan bisa terjadi, tetapi bisa dibuat tetap hangat. Penting untuk menjaga dan menjaga kimia tersebut tetap menyala meski hubungan cinta sudah lama terjalin. Misal, dengan melakukan ciuman 30 detik dan peluk 20 detik, yang bisa meningkatkan level endorphin. Konflik menciptakan gairah, sebuah pernikahan yang terlalu “adem-ayem”, jarang adu pendapat, jarang adu argumen, jarang keluarkan isi hati, justru bisa mengarah ke perselingkuhan dari salah satu. Tentu bukan berarti konflik itu harus berlaku setiap hari dan setiap saat.
Ingin ketahuan
Kebanyakan perempuan melihat perselingkuhan sebagai sebuah lubang pelarian, khususnya para istri yang sudah punya anak. Jika ia sudah memiliki anak, akan sulit untuk seorang perempuan meninggalkan suaminya tanpa rasa bersalah. Tetapi perasaan bersalah itu akan berkurang jika bukan ia yang memulai perpisahan itu. Alhasil, si istri akan mencari cara mengurangi stres dan rasa bersalah dengan cara berselingkuh, toh suaminya akan meninggalkannya.
Bosan dengan kehidupan seksual
Pasangan yang sudah bersama sekian lama seringkali mengeluhkan bahwa hubungan seksualnya tidak sehangat dulu lagi, bahkan sudah tak ada lagi hubungan seks. Hal ini bisa mendorong perempuan untuk mencari cara lain untuk memuaskan hasratnya. Kadang wanita berselingkuh karena merasa tidak ada spontanitas dalam hubungannya lagi. Kebosanan seksual bisa jadi salah satu manifestasi dari hal itu. Gairah untuk melakukan hubungan lebih sering dan berbeda tipe bisa membuat wanita muda berselingkuh. Para istri yang usianya masih di awal 20an atau lebih muda bisa mengarah ke perselingkuhan seperti pria, mereka juga ingin seks yang lebih sering, seks yang berbeda, atau penasaran bagaimana rasanya berhubungan seks dengan pria yang bukan suaminya.
Merasa sendiri
Saat seorang merasa bahwa ia dan suaminya tak lagi memiliki ketertarikan yang sama, ia akan mendapati dirinya ke dalam perselingkuhan emosional dengan pria yang memiliki ketertarikan yang sama. Namun, perselingkuhan emosional bisa dengan cepat bergulir ke tingkatan yang lebih tinggi dan menjadi perselingkuhan seksual. Tak sedikit perempuan yang berselingkuh untuk mengisi kekosongan. Menurut Weil, berselingkuh mengangkat perasaan kesendirian dan kekosongan. Ini merupakan sebuah bentuk rasa kelaparan akan sebuah hubungan.
Ingin mengulang masa lalu
Kadang, mantan pacar mengingatkan seorang wanita bagaimana rasanya menjadi seorang yang cantik dan diingini. Karena di masa berpacaran dengan si mantan itu si perempuan merasa muda, seksi, lepas, menarik, dan hidup kembali, si perempuan ingin kembali merasakan semua itu lagi.
Perhatian dan petualangan
Wanita dengan mudahnya bisa merasa disia-siakan, setelah bekerja 24 jam di rumah, mengurus anak, membersihkan rumah, bahkan sebagian bekerja di kantor juga. Perempuan butuh perasaan dihargai dan haus validasi. Mereka pun ingin mencari kesenangan sesekali. Seorang perempuan yang merasa kosong dan hampa dalam pernikahannya adalah seorang mangsa yang empuk bagi tipe “bad boy”.
Menurut sebagian psikolog berpendapat, jika Anda mencari alasan-alasan terutama mengapa perempuan berselingkuh, kebanyakan dari alasan itu sebenarnya bisa diatasi dengan seorang suami yang mau meluangkan waktu untuk lebih mencintai, perhatian, mengasihi, dan kooperatif. Seorang perempuan yang bahagia dalam hubungan pernikahannya tidak akan berselingkuh
Pria berselingkuh sudah cukup banyak, tetapi wanita yang berselingkuh juga tidak sedikit. Berdasarkan penelitian sebuah studi yang dilanksanakan oleh Coffee and Company, sebuah biro pernikahan di Inggris, dari sekitar 3 ribu responden wanita, setidaknya 20 persen perempuan mengaku pernah berselingkuh.
Sementara studi yang dilangsungkan situs askmen.com menemukan 5 persen wanita pernah atau sedang berselingkuh dari pasangannya, sementara kurang dari 3 persen pria mengakui pernah atau sedang berselingkuh. Mengapa wanita berselingkuh? Berikut ini alasan-alasannya:
Balas dendam
Menurut ahli hubungan, Seth Meyers, Psy.D, psikolog asal Los Angeles dan pengarang dr Seth’s Love Prescription, pria memiliki kognitif untuk setia sama seperti wanita. Namun, hal ini tidak menghentikan wanita untuk berselingkuh. Malahan, ada sebagian wanita yang merasa ingin balas dendam jika pasangannya berselingkuh. Pria tidak emosional, jadi biasanya mereka tidak bisa merasakan sakit yang sama kecuali ia merasakan sendiri sakitnya, begitu tutur Bonnie Weil, Ph.D., penulis Adultery: The Forgivable Sin. Wanita merasa berselingkuh adalah cara untuk menyamakan kedudukan.
Mencari peningkatan adrenalin
Sebuah perselingkuhan adalah pengalaman yang melawan rutinitas, mendebarkan, dan bahkan ada yang mengatakan, sebuah pelepasan stres. Seorang perempuan berselingkuh kadang hanya ingin mendapatkan kesenangan untuk memiliki lebih dari 1 pria yang mencintainya. Umumnya, seorang istri akan mencoba menjelaskan dan memberi tahu suaminya bahwa ada masalah dalam hubungan merea. Jika si suami tak berhasil membantu mengatasi masalah hubungan itu, atau hanya menanggapi sekilas, si istri baru kemudian berselingkuh karena merasa ia tak memiliki pilihan lain.
Dorongan ego
Siapa yang tak mau dipuja dan dipuji? Umumnya, pria selingkuhan akan berusaha membuat si perempuan merasa sangat hebat dengan segala kata-kata dan pujian untuk membuatnya merasa seksi dan menakjubkan tidak seperti apa yang dilakukan oleh pasangannya yang sekarang. Berselingkuh seringkali terjadi pada hubungan yang membuat si istri tidak merasa terhubung secara emosional dengan pasangan yang sekarang.
Jika seorang istri merasa terabaikan atau merasa disia-siakan oleh suaminya, ia akan menjadi rapuh dan dengan mudahnya berlari ke perselingkuhan, baik emosional atau fisik, seorang pria yang membuatnya merasa spesial dan diinginkan. Saat hubungan menegang antara 2 pasangan sudah pasti masing-masing akan berusaha menyakiti ego, dan hal ini akan membuka pintu terhadap masalah.
Untuk mencari hubungan cinta
Hubungan yang sudah berlangsung lama sangat berbeda dari hubungan yang baru dimulai. Aliran kimiawi penuh cinta akan makin terhilang semakin lama hubungan itu terjalin. Penurunan rasa cinta itu tidak bisa dipungkiri, dan bisa terjadi, tetapi bisa dibuat tetap hangat. Penting untuk menjaga dan menjaga kimia tersebut tetap menyala meski hubungan cinta sudah lama terjalin. Misal, dengan melakukan ciuman 30 detik dan peluk 20 detik, yang bisa meningkatkan level endorphin. Konflik menciptakan gairah, sebuah pernikahan yang terlalu “adem-ayem”, jarang adu pendapat, jarang adu argumen, jarang keluarkan isi hati, justru bisa mengarah ke perselingkuhan dari salah satu. Tentu bukan berarti konflik itu harus berlaku setiap hari dan setiap saat.
Ingin ketahuan
Kebanyakan perempuan melihat perselingkuhan sebagai sebuah lubang pelarian, khususnya para istri yang sudah punya anak. Jika ia sudah memiliki anak, akan sulit untuk seorang perempuan meninggalkan suaminya tanpa rasa bersalah. Tetapi perasaan bersalah itu akan berkurang jika bukan ia yang memulai perpisahan itu. Alhasil, si istri akan mencari cara mengurangi stres dan rasa bersalah dengan cara berselingkuh, toh suaminya akan meninggalkannya.
Bosan dengan kehidupan seksual
Pasangan yang sudah bersama sekian lama seringkali mengeluhkan bahwa hubungan seksualnya tidak sehangat dulu lagi, bahkan sudah tak ada lagi hubungan seks. Hal ini bisa mendorong perempuan untuk mencari cara lain untuk memuaskan hasratnya. Kadang wanita berselingkuh karena merasa tidak ada spontanitas dalam hubungannya lagi. Kebosanan seksual bisa jadi salah satu manifestasi dari hal itu. Gairah untuk melakukan hubungan lebih sering dan berbeda tipe bisa membuat wanita muda berselingkuh. Para istri yang usianya masih di awal 20an atau lebih muda bisa mengarah ke perselingkuhan seperti pria, mereka juga ingin seks yang lebih sering, seks yang berbeda, atau penasaran bagaimana rasanya berhubungan seks dengan pria yang bukan suaminya.
Merasa sendiri
Saat seorang merasa bahwa ia dan suaminya tak lagi memiliki ketertarikan yang sama, ia akan mendapati dirinya ke dalam perselingkuhan emosional dengan pria yang memiliki ketertarikan yang sama. Namun, perselingkuhan emosional bisa dengan cepat bergulir ke tingkatan yang lebih tinggi dan menjadi perselingkuhan seksual. Tak sedikit perempuan yang berselingkuh untuk mengisi kekosongan. Menurut Weil, berselingkuh mengangkat perasaan kesendirian dan kekosongan. Ini merupakan sebuah bentuk rasa kelaparan akan sebuah hubungan.
Ingin mengulang masa lalu
Kadang, mantan pacar mengingatkan seorang wanita bagaimana rasanya menjadi seorang yang cantik dan diingini. Karena di masa berpacaran dengan si mantan itu si perempuan merasa muda, seksi, lepas, menarik, dan hidup kembali, si perempuan ingin kembali merasakan semua itu lagi.
Perhatian dan petualangan
Wanita dengan mudahnya bisa merasa disia-siakan, setelah bekerja 24 jam di rumah, mengurus anak, membersihkan rumah, bahkan sebagian bekerja di kantor juga. Perempuan butuh perasaan dihargai dan haus validasi. Mereka pun ingin mencari kesenangan sesekali. Seorang perempuan yang merasa kosong dan hampa dalam pernikahannya adalah seorang mangsa yang empuk bagi tipe “bad boy”.
Menurut sebagian psikolog berpendapat, jika Anda mencari alasan-alasan terutama mengapa perempuan berselingkuh, kebanyakan dari alasan itu sebenarnya bisa diatasi dengan seorang suami yang mau meluangkan waktu untuk lebih mencintai, perhatian, mengasihi, dan kooperatif. Seorang perempuan yang bahagia dalam hubungan pernikahannya tidak akan berselingkuh
Langganan:
Postingan (Atom)